49. Tekad

94 10 7
                                        

Emerald yang semula terpejam itu perlahan terbuka. Ia menatap langit kamar yang temaram.

Tubuhnya masih merasakan kehangatan yang membekas. Harum tubuh Sasuke bercampur dengan tubuhnya.

Sakura yang tidur di lengan Sasuke mencoba bangkit duduk.
Ditatapnya wajah Sasuke yang tertidur pulas.

Jemari lentiknya ia arahkan pada pahatan sempurna wajah itu.
Tatapan sendu yang ia arahkan pada Sasuke kini berganti dengan keseriusan.

Ia seka air mata yang hendak membasahi pipi.

Dengan sedikit tertatih ia bangkit.

"Maafkan aku... Sasu" bisiknya teramat pelan dengan hati yang pedih.

***

"Istirahatlah"

Hinata mendongak, lantas kembali menatap jendela yang ia biarkan terbuka.

Mengabaikan sepenuhnya dua sosok yang terus berada bersamanya.

"Kau harus makan, Hinata" bujuk Naruto sekali lagi.

"Aku tak lapar" balas Hinata dengan tatapan jauh.

Toneri dan Naruto saling berpandangan.
Dan Naruto kembali menatap Hinata, kali ini dengan wajah mengeras.

"Jika ingin menemukan Suki, kau harus mengisi tenagamu" ucap Naruto tajam.

Hinata tersenyum kecut. Menatap Naruto dengan Amethyst yang redup.

"Bagaimana bisa aku makan, disaat anakku entah berada dimana" tandas Hinata dengan mata berembun.

"Aku bahkan tak tahu apa dia sudah makan, atau bahkan apa dia baik-baik saja" cecar Hinata marah dengan wajah basah.

"Aku tidak bisa menelan makanan... Atau bahkan minum di saat aku...Hiks... Tak tahu dimana anakku berada" isak Hinata terbata.

Suki selalu bersamanya. Tidak pernah sekalipun mereka berpisah. Tapi kini, putrinya di culik.

Hinata marah. Mengapa harus putrinya?.

Hinata takut.

Takut kehilangan Suki.

Ia bisa gila jika itu terjadi.

Naruto berjongkok. Meminta Hinata untuk menatapnya.

"Tenanglah...Aku akan membawa Suki padamu" janji Naruto.

Hinata meremas tangan Naruto. Memohon tanpa bicara, agar pria itu menepati janjinya.

Ia tak ingin apapun selain Suki, putrinya.

Toneri yang melihat itu membuang muka. Matanya basah.

Dengan cepat ia raih ponsel di saku celana dan meninggalkan tempat itu.

"Nii-sama.... Dimana kau?" tanyanya begitu sambungan telepon tersambung.

"Betapa sopannya".

Toneri mengeratkan genggaman ponselnya.
Ia pejamkan matanya erat.

Rasa amarah, kecewa dan bersalahnya meluap dan berbaur menjadi satu.

Dengan lemah ia mengatakan.
"Kembalikan Suki"

Jantungnya berdentum menyesakkan saat tawa puas sang kakaklah yang terdengar.

"Kumohon Nii-sama" pintanya dengan suara memelas.

"Adikku... Hinata Hyuuga harus merasakan apa itu kehilangan"

Setelah mengatakan itu panggilan di putus sepihak.

Hear Me: I am SorryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang