Jeffrey POV
Oh hai??? It's a lit awkward. I know. Cause I'm not good into it honestly. But yeah. For a godsake, I've to take off the clothes to do it. So here we comes. Mungkin perkenalan dulu. Sepertinya not bad to start the story.
I'm Jeffrey Gevandra Abraham. Yeah right, that Abraham. Nothing to proud of it, than the fact that I get all of Princess Roseanne's thing with me. Sorry dude. Y'all have to down on your knees on me for that.
I'm his most favorite guy
Sematan yang cocok untukku, dan pacarku yang cantik itu tentunya tidak akan bisa menggelaknya—meski susah tuk mengakui karena terhalang gengsinya. Tidak masalah, aku tahu hati terdalamnya berkata jika apa yang kupikirkan itu benar adanya.
Sebelumnya, izinkan aku memakai aku dan kamu. Karena menurutku itu lebih sopan. Aku tidak terlalu suka menggunakan lo gue, ataupun saya anda karena seperti bercerita pada rekan bisnis. Hehe.
Oh right, tidak lucu bukan? Maaf. Mari kita kembali pada topik pacarku.
Aku tidak akan mendeskripsikannya karena itu akan memakan waktu banyak. Yang aku hanya ingin sampaikan, bahwa aku benar - benar bersyukur menemukan dia di belahan dunia ini. Setidaknya Tuhan tak mengijinkan aku sendirian. Karena walaupun sendirian itu menyenangkan, nyatanya dua selalu lebih baik dibandingkan satu.
Aku akui, aku adalah manusia bodoh yang pernah menolaknya waktu dahulu. Namun Tuhan dengan cepat menyadarkanku, aku tahu Tuhan tak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan. Tuhan hanya ingin membuatku selalu bersyukur atas segalanya lewat pacar cantikku itu. Princess Roseanne.
Kenapa aku suka menanggilnya Princess Roseanne?? tentunya disebabkan oleh surai berkilau keemasan yang menjulai panjang, suaranya yang indah, hati hangatnya, sifat friendly nya dan masih ribuan lagi. Dan itu semua mengingatkanku pada para putri di serial disney. Bukan seperti aurora ataupun cinderella, gadis itu punya kisahnya sendiri dan patut diberi gelar Princess Roseanne as her name.
"Is that fine?"
Aku mengadahkan kepalaku, dan seulas senyumku tak bisa ku tahan lebih lama lagi "You're looks so fine, Sayang" Dengan minidress hitam, siapa yang tidak setuju jika gadisku berhasil memikat banyak orang hanya karena melihatnya?
Setelah melihat beberapa kali di kaca hanya untuk mencari kepercayaan diri lebih—padahal gadis itu memiliki lebih besar dariku—kini pacarku memutuskan duduk di meja riasnya. Tepatnya di sisi kanan sudut kamar. Pas di samping tempat tidur, berjarak hanya puluh meter dariku berbaring.
Dari berapa menit lalu memang aku sudah berada di sini. Memang tidak etis memasuki kamar cewek. Bahkan ketika pertama kali dia mengajakku masuk, aku hanya terdiam kaku. Berpikir apakah ini benar? Apa harusnya aku langsung keluar? Apa wajah riang itu akan berubah muram jika aku menolaknya?
Lalu aku memutuskan, jika hal itu tidak akan jadi masalah saat aku benar benar menjaga iktikad baik pacarku, dengan tak melakukan hal tidak pantas padanya. Hebatnya lagi, aku bertahan dengan pemikiran itu selama nyaris lima tahun lamanya. Terdengar tidak mungkin, tapi ketika kamu sudah terlalu mencintainya, kamu akan menyadari ada hal yang lebih berharga.
Seperti memberi kejutan dengan menjadikan ratu seumur hidup. Persis bagaimana aku meminta pacarku beberapa minggu lalu, dan kini kita bersiap untuk menemui vendor yang akan mempersiapkan acara nanti. Ah, aku sungguh tak sabar menantikan dimana gadis cantikku menyandang status sebagai istriku. Membayangkannya saja, aku sudah merasa berbunga - bunga. Ribuan ton kembang api meletup - letup di dada, dan perutku terasa digoda oleh ratusan kupu - kupu dengan sayapnya. Begitu menggelitik dan juga amat menyenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanfictionSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
