Queen Ace

298 17 0
                                        




Di antara keheningan kamar, yang hanya terisi berisik suara ketikan keyboard, mendadak berganti sekejap di detik sebuah telepon masuk ke ponselnya. Bahkan PC yang lagi digunakan turut nyaring bergema. Menuntut Jeffrey untuk segera menjawab panggilan tersebut.

Tanpa Jeffrey harus lihat, Jeffrey sudah tau siapa yang tengah menelponnya kini. Cowok itu tak punya teman dekat yang sering menelpon; hanya seorang wanita di seberang sana yang tak absen tuk menghubunginya.

"Hey, Baby" suara itu sukses melukiskan sebuah garis lengkung indah menyisip raut seriusnya "I know you've been busy all this time. But... I need u. Bentar doang kok. Habis itu kamu matiin aja ngga papa" hanya karena mendengar suaranya aja, rindu Jeffrey meronta - ronta. Padahal tadi siang sudah bertemu. Nyatanya bagi Pria itu masih tak cukup.

"Kenapa?"

"Aku bingung banget milih baju. Bantuin ya" sejenak Jeffrey lantas menganggurkan kerjaannya, hanya demi berpaling pada gadis yang lagi mengenakan bathrobe, bersama handuk yang dililit di atas. Membuat Jeffrey tau kalau cewek itu habis mandi.

"Enaknya aku pake dress ini, atau yang ini? White top sama denim skirt" Dari setengah layar PC yang tengah terpenuhi gadisnya, Jeffrey bisa melihat dengan jelas outfit yang tengah dipajang gadisnya tersebut.

"Ngga ada dresscodenya?"

"Cuma white doang"

Satu garis linier terpajang di bibir Jeffrey saat lelaki itu menelaah isi layarnya. Begitu serius layaknya karakter yang Jeffrey punyai selama ini. Enggan bermain - main, walau sekedar memilihkan pakaian "Dressnya bakalan bikin kamu looks cute. Sedangkan top and skirt looks so casual on you"

"Jadi, tergantung kamu mau keliatan cute atau casual aja"

Rose terdiam. Terdengar sama suara gadis itu sedang bergeming, memikirkan sarannya "I think I'll go with the casual one" senyum tipis Jeffrey tersirat ketika Ia menatap Rose yang menempelkan dua pakaian itu di atas badan kecilnya "Ngga keliatan terlalu simple kan ya?"

"It'll always be so outstanding when on you, Princess Roseanne"

Rose berdecih "Shallow your flirt, Sir. I'm not on into it to get that"

Jeffrey tertawa puas, melihat kesinisan dari gadisnya. Semakin sinis reaksi Rose, maka akan makin bertekuk lutut Jeffrey dibuatnya "Okay then. I'll—"

"Don't hang up!" Saking paniknya, cowok itu sampai memotong perkataan Rose. Bisa dilihatnya, jika Rose kebingungan akan sikapnya itu "Biarin aja. Ngga usah dimatiin telponnya. Temenin ngobrol"

"Ngga ganggu kerjaan kamu emang?"

"Ngga"

"Yaudah aku tinggal pake baju sama make up"

Deheman Jeffrey menyetujui. Menyisakan keheningan merayap kembali di kamar suram itu; menurut Rose. Jeffrey menggarap kerjaan yang sempat ditinggalkan, sembari menunggu gadis yang Jeffrey yakini sedang mengganti pakaiannya.

Jeffrey tak perlu lagi menyalakan radio atau pemutar piringan hitamnya ketika cowok itu bisa mendapatkan dari gadisnya. Suara merdu Rose mulai menggema di ruangannya dan Jeffrey perlahan terasa enjoy, kendati sebenarnya penat akan apa yang dikerjakan olehnya. Setidaknya Jeffrey menemukan semangatnya malam ini.

"Jeff.." Jeffrey tersenyum saat akhirnya gadis itu yang akhirnya memulai pembicaraan terlebih dahulu. Rose memang tak suka saat meninggalkan keduanya pada keheningan.

BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang