Langit hitam kelam mengarungi dunia, diikuti kemilau bintang, terkalahkan oleh sinar menyilaukan lampu - lampu gantung di kediaman Abraham. Meninggalkan kesan kehangatan, namun megah di satu waktu yang sama.
Rose membawa langkah tegasnya; penuh percaya diri walau tanpa pengaruh heels koleksi Saint Laurent dari musim semi, seluruh orang tertunduk hormat tatkala loafer mustard-suede memecah udara di tiap ruangan yang terlewati.
Rok putih terlihat kontras dengan corak marmer yang disapunya; sebelum Rose berhadapan di pintu kupu - kupu hitam pekat, tidak menyembunyikan serat halus kayu mahoni yang lembut.
Rose membuka pintu itu dengan sidik jarinya. Badan kecilnya masuk lebih dalam; hanya demi menemukan bahwa yang ada di otaknya benar.
Interaksi antara sepatunya dan lantai, atau gelangnya yang saling bertemu, memangkas habis keheningan di kamar tersebut. Namun begitu, tetap tidak mengusik kenyamanan tidur Jeffrey. Bahkan goyangan kecil dari tubuh Rose yang terduduk di pinggir ranjang, juga tak berarti.
Rose harus mengguncang tubuh Jeffrey agak kencang meski sepenuhnya mengerti, jikalau Jeffrey kelelahan pasca mendarat dari perjalanan bisnis di Jepang. Jika tidak karena kewajiban, gadis itu tak akan tega untuk membangunkan Jeffrey.
Tidak lama, erangan kecil Jeffrey menjawab "Bangun. Mandi. Udah ditunggu" Elus lembut Rose yang tersisa menemani Jeffrey meninggalkan mimpinya.
Rose cukup sabar sampai Jeffrey dapat mendudukkan diri, pun nyawanya masih tak rela terpanggil "Emang kita nikahan sekarang, Sayang?" Tanya Jeffrey dengan suara serak dan berat khas bangun tidurnya.
Bibir Rose sontak berdecak "Malah ngigo"
Tapi Jeffrey tetap terdiam, matanya tetap terpaku ke arahnya; seolah tengah menyegarkan penglihatannya melalui visualnya.
"Udah. Cepet mandi sana, ntar makin telat kita" Pinta Rose terlalu tak sabar, segera menarik tangan Jeffrey untuk cepat bangkit "You still can praised me all night long, Okay?"
Kekehan lirih lolos dari Jeffrey, menginisiasikan bahwa Jeffrey sudah terbangun. Pun masih tetap bertingkah manja "No peluk, No kiss" Rose mengambil jaraknya, tepat membaca niatan Jeffrey yang terpancar matanya "Mandi"
Kentara dari bibir, Jeffrey merajuk, tak membuat Rose luluh. Gadis itu justru mendorong badan kekar Jeffrey ke kamar mandi "Kamu mandi. Aku siapin bajunya di sini. Ntar kamu langsung balik ke kasur lagi. Aku tunggu di sana"
Rose sekilas menangkap anggukan Jeffrey, sebelum Ia berakhir dengan pakaian Jeffrey dari Jessica. Wanita itu sendiri ada kesibukan di butik, jadi akan langsung ke acara bersama Samuel, dan meminta Rose untuk menjemput Jeffrey; sekaligus mengurusnya.
Tak perlu waktu lama tuk Jeffrey kembali, manik mata Rose menangkap bayangan lelaki itu ketika bercermin, membenarkan lipstiknya yang sedikit memudar
"Cantik banget" bisik Jeffrey, tangannya menyelinap di bagian belakangnya, sementara bibirnya tersembunyi di rambut pirangnya lembut, bagai menjaga tatanannya di sana tak hancur. Lelaki itu terlalu tidak sabar untuk menahan keinginannya sejak tadi.
"Pretty enough to company Mr. Abraham tonight?" Ia tersenyum tipis. Menatap bangga pantulannya kali ini
Dari bayangan, Rose bisa melihat Jeffrey memeluknya dari samping. Bersama senyum manis dan tatapannya yang memuja, tak lekang mengagumi paras cantiknya tersebut "You always too much pretty for me" Kalimat Jeffrey, setengah berbisik, setengah lagi menyampaikan pujian paling tulus dari dalam hatinya.
Senyum manis Rose melebar, apalagi mendapati bibir Jeffrey terasa mendarat di pundaknya yang tak dapat tertutupi gaunnya. Lalu perlahan Rose memutar balik tubuhnya, berhadapan dengan Jeffrey sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanficSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
