Sequel of Opposite attract
Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract.
⚠️ Contain of uwunes 100/10
⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️
Please be wise reader.
You can read this without read opposite attract but...
Lesung pipi Jeffrey tenggelam makin dalam tatkala Ia menyaksikan bagaimana Rose yang terlarut pada kisah cinta drakula dan manusia. Ribuan kali mereka sering rewatch tak membuat Rose memberi celah tuk Jeffrey dapat mengusik konsentrasinya.
"Jeff, ahh!" Bahkan tangan Jeffrey yang mainin rambut Rose di belakang dihempas. Gadis itu benar - benar tidak bisa diganggu gugat. Meninggalkan Jeffrey yang mati kutu kebosanan, saking seringnya mereka nonton ini. Bahkan Jeffrey sampai hafal tiap scene nya.
Kalau ngga karena rencana kejutan, Jeffrey lebih milih nonton di kamar sambil ngelonin cewek ini. Jeffrey hanya bisa bersabar di tengah matanya yang setengah lagi menutup. Ice americano double shot nyatanya tak berpengaruh sama sekali. Semangat, Jeff. Setengah jam lagi.
"Kalau udah ngantuk, tidur aja"
"Ngga. Kuat kok" dalih Jeffrey. Penuh senyuman saat parasnya tak kuasa berbohong.
Rose yang dasarnya ngga peduli, ngga ada tanggapan lagi. Menyisakan Jeffrey yang berjuang sendirian tuk mengalahkan rasa kantuknya setengah mati meskipun beberapa kali juga akhirnya sempat ketiduran. Pria itu terbangun karena kepanikan Rose ketika filmnya yang diputar mati "Eh, ini kenapa??? Kok mati, Jeff????"
"That's okay. Tunggu aja" Tangan Jeffrey menjulur ke surai Rose.Berusaha menenangkan Rose, sampai layar di sana berubah dan senyum Jeffrey kian berkembang
It's showtime.
Saat menyadari video yang dieditnya tayang, perlahan Jeffrey bergerak menjauh. Membiarkan Rose melihat apa yang sudah disiapkannya, selagi Jeffrey sekarang persiapkan kuenya.
Selesainya video, bersamaan dengan penerangan yang otomatis berpijar. Seperti yang Jeffrey duga, gadis itu menutup setengah muka dengan sepasang bola mata indah nampak berkaca - kaca.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeffrey dekati Rose. Bersama kue jua lagu ulang tahun yang tak ada hentinya terucap, sampai lagu itu selesai "Make a wish, terus tiup dulu lilinnya"
Pun nafasnya tersendat, juga jari yang sibuk berlarian menghapus butir air mata. Hembusan kecil dari bibir gadis itu sukses memadamkan kobaran api pada tiap ujung lilin kecil di sana "Happy twentieth birthday ya, Sayang. Wish you with all of the greatest"
"Thank you"
Senyuman Jeffrey terlihat mendengar suara kecil Rose akhirnya terdengar. Satu tangan yang menopang kue, Ia alihkan ke atas rambut Rose. Mengusak pelan surai pirang itu "Udah ah, jangan nangis. Masak ulang tahun malah nangis sih"