Serenity

504 28 8
                                        


Warning 18+

Before closing the section, it's a bonus chap. Ini ceritanya mundur ya, the first time Rose's trigger with that things.





August, 2020

Minggu

Mungkin jadi alasan jiwa Rose merasakan tenang pun terbangun di jam tujuh pagi. Sebenarnya Rose pengen bangun siang,sayangnya Rose sudah kebanyakan tidur karena kelonin Jeffrey kemarin malam. Memang Rose akan selalu berakhir ketiduran di setiap ngelonin Jeffrey.

Biasanya kalau Rose terbangun di pagi hari, gadis itu akan menyeduh susu hangat, sembari memutar lagu dari piringan. Untuk kali ini, selain Rose malas, tangan Jeffrey melilitnya posesif, dan Rose ngga tega kalau Ia pergi takutnya Jeffrey kebangun.

Ditemani kicauan burung gereja yang bersautan, Rose menatap raut damai Jeffrey masih tertidur pulas. Satu senyum Rose hadir, di tengah jari kecilnya yang sibuk menyingkirkan anak rambut Jeffrey. Dua bulan mereka nikah, Rose masih tak menyangka cowok ini beneran mengambil status sebagai suaminya. Jeffrey menepati janjinya, pernikahan mereka tak sekedar urusan bisnis belaka. Melainkan urusan hati, dan kasih sayang.

"What should I do in this morning"

"Cuddling"

Rose tersentak saat mendengar suara itu. Menarik diri sedikit menjauh, agar dapat menyaksikan Jeffrey. Dari sini Rose menemukan mata Jeffrey masih memejam, dengan nafas teratur. Tapi menurut suaranya itu jelas. Seraknya terdengar familiar. Tentu saja bukan hantu, atau arwah gentayang. Hanya Jeffrey yang terbangun sekilas.

Kontan Rose terkekeh, merasa gemas. Rose tak tahan menanamkan kecupan di setiap paras lelakinya "enak banget jadi dia, kalau kebangun bisa ngorok lagi" jari kecilnya menggelitik pinggiran rambut Jeffrey, dengan bibirnya yang maju ke depan menatap iri suaminya.

Selagi nunggu Jeffrey buat bangun, Rose memilih buat nonton drama. Pun ada televisi, Rose tetap pake iPad. Teringat Rose ngga ada intensi untuk pergi dari kasur, tubuhnya sekarang juga lagi ditindih Jeffrey. Terlebih  Jeffrey sempat bangun.Kesempatan Rose untuk kabur udah ngga ada lagi. Yang ada ketika Rose gerak sedikit aja, pelukan Jeffrey akan semakin menguat. Mirip kek tawanan; tapi kalau jadi tawanan di hati Jeffrey sih ya ngga papa. Rela dengan senang hati.

Sekalian Rose mau berpikir. Enaknya ngapain di hari minggu ini selain beberes. Bisa aja Rose panggil Maid seperti di hari - hari kerja. Hanya saja Rose itu benci gabut. Makanya kalau sedang weekend, tugas beberes dipikulnya. Toh ada Jeffrey yang siap membantu serta enaknya di rumah jadi cuma mereka berdua. Rose tau Jeffrey lebih suka kalau di rumah berduaan aja.

Rose emang seharusnya ngga berpikir. Belum sampai Jeffrey bangun, bahkan baru sampai di tengah episode, perut ramping Rose berbunyi "Jeffrey, laperr~~" adunya itu. Perhatiannya berbalik pada Jeffrey. Kendati lelaki itu betah tertidur, tapi Rose yakin udah ngga senyenyak yang tadi.

Terbukti saat Jeffrey lantas menjawab "Makan" walau singkat, padat dan jelas. Nyatanya itu emang karakter asli suaminya.

"Enaknya makan apa ya, Jeff??"

Rose bergumam, posisinya kini berpindah menatap ke Jeffrey. Jarinya menjelajah hidung Jeffrey yang tinggi itu. Mengetuk di ujungnya, selagi Rose kini menimang nimang enaknya sarapan apa. Rose lagi males masak, dan Rose juga ngga mau maksa Jeffrey masak. Walau Jeffrey ngga ada masalah.

"Makan bubur yuk"

"Sejak kapan kamu doyan bubur?"

"Ih ini buryam, Jeff. Enak. Serius! Yang deket sekolah kita dulu!" Rose sedikit mengangkat badan dari posisi berbaringnya. Dengan paras girangnya, Rose berharap Jeffrey membuka mata. Bukan sekedar usapan pelan di belakang punggungnya "Ayo kesana. Aku mandi dulu"

BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang