Messy - Rosé
Siap - siap emosi.
Bagi setiap orang yang kenal Rose, akan menyatakan hal yang sama. Terlalu tidak mungkin, bagi wanita itu sekedar menunggu tuk beberapa jam, tanpa adanya emosi mengikuti. Bahkan Rose yakin bakal tercengang tatkala menyaksikan Rose yang setia duduk di sofa itu setelah nyaris 3 jam lamanya, tanpa ada kepastian.
Parasnya tetap tenang, walau Rose memilih berhenti, dan bergerak dengan semua paperbag serta sling bag kesayangannya.
Diikuti tubuh yang sedikit merinding, karena sepinya ruang, Rose tetap melangkahkan kakinya. Bergerak ke suatu ruang yang diyakininya disanalah sosok yang Ia tunggu selama tadi.
Tatkala Rose masuk ke ruangan, kegelapan menyerbu. Sementara seorang pria tak terusik sama sekali, masih setia bersama laptopnya. Suatu ciri khas kental Jeffrey yang Rose kenal, lelaki itu tak akan terganggu tatkala tengah berkonsentrasi akan suatu hal. Titik fokus yang sangat dikagumi oleh Rose, karena gadis itu tak dapat menyaingi Jeffrey dalam hal ini.
Lepas menyalakan lampu; membantu penglihatan si Jeffrey agar tak terlalu kerja keras, Rose mengerahkan platform shoes-nya bergerak mendekat "You'll passed your dinner if I'm not coming surely" sapa Rose selagi mengambil posisi duduk pada salah satu managerial chair di sana.
Menyadari keberadaannya, Jeffrey lantas memberikan setitik perhatiannya "Sayang.. kok kamu di sini?"
Rose tak dapat melihat ekspresi detail keterkejutan si Jeffrey, hanya sekilas dari ekor mata, karena Rose kini disibukkan dengan barang yang memenuhi paperbag yang sedari tadi dibawanya "Aku pesenin katsu don. Dimakan dulu, ntar baru lanjut lagi"
Tak ada penolakan dari pria itu. Jeffrey menyingkirkan kertas dan laptopnya, demi menyuapkan nasi ke bibir merah tersebut. Dari cara Jeffrey makan, tubuh lelaki itu sebenarnya sudah kelaparan, hanya saja otak Pria itu tak mengindahkan dan berakhir menyiksa.
"Kamu baru makan juga, Sayang?"
Rose hanya mengangguk,mulutnya sudah penuh akan nasi bento yang berpindah "Aku udah nyemil kok pas nunggu kamu tadi" Bibir Rose berhasil meracik kalimat tepat rongga mulut Rose sepenuhnya kosong, sekedar menenangkan Jeffrey; yang tanpa Rose perlu melihat parasnya tengah dipenuhi rasa khawatir dan bersalah.
"Dari jam berapa di sini? Kok ngga ngabarin"
"I know you've been busy all this time" Belum sempat Jeffrey membalas, Rose kembali menyambung kalimat "And I won't bother you just to meet me" timpal Rose seolah mengerti kalau Jeffrey akan mendahulukannya sebagai prioritas utama pria itu.
Jeffrey tak memberi balasannya melalui kata, hanya sentuh ringan di antara kepala. Cukup melukiskan satu garis lengkung indah di bibir Rose, di antara sibuknya menyuap dan mengunyah makanan. Menyisakan bilik tersebut kembali pada keheningan, di sela riuh bunyi alat makan berperang.
Kendati terkadang sempat terdengar ricuh dari Rose tak terima atas perlakuan Jeffrey "Udah ih! Banyak itu udahaann—woy!" Protes Rose berkat Jeffrey yang tak tau diri mengambil jatah porsi saladnya. Rose tak ada masalah berbagi, hanya kalau kelewat batas juga Rose tak bisa menahan emosinya.
Yang justru menjadi makanan bagi sikap tengil Jeffrey, lihat saja, lelaki itu tak merasa bersalah, justru hanya terkekeh, walau sudut mata Rose meruncing sedang memperingati Jeffrey. Lelaki itu malah sepertinya melupakan kejenuhan terhadap beban pekerjaan sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanfictionSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
