"Lagi?"
Nada yang agak meninggi itu, mampu membuat Rose menggigit bibirnya. Lantas merasa bersalah, lelaki itu tak marah—Rose tau itu. Hanya saja rasa kekecewaan Jeffrey sudah nyaris menyentuh ambang batasnya.
"Sorry.." cicit Rose.
Helaan nafas berat terdengar jelas menilik telinganya "That's fine. Bukan salah kamu juga" walau seperti itu, dibalik nada yang terdengar biasa, terdapat suatu rasa frustasi tersimpan rapi menyentil batin Rose "Berarti kamu langsung makan siang sekalian?"
"Iya. Sama Sonya" Nadanya terdengar lirih. Jarinya itu tak ada berhenti memainkan sendok yang diapitnya. Jauh dari kebiasaan Rose.
"Yaudah kalau gitu"
Rose berdeham pelan"Kamu juga jangan lupa makan"
"Iya"
"Jangan iya, iya aja"
Kekehan lantas terdengar meresponnya. Memperbaiki raut masam Rose yang tadi. Terlebih ketika cewek itu mendengar kata selanjutnya "Iya, Sayang" nada halus mendayu itu yang paling Rose rindukan tiap detiknya.
"Kabarin nanti aku makan apa"
Selayaknya kekasihnya, cowok itu selalu menurut apa yang dimintanya "Iya, sayang"
Tiada lagi yang keduanya perlu bicarakan. Sambungan telepon itu senyap, mengantarnya pada titik ujungnya. Sayangnya, Rose keberatan untuk menutup. Sekedar mendengar helaan nafas sangat membantu Rose tuk meringankan beban pikir, atau sekedar menjadi suatu semangatnya.
Beruntung perasaannya itu tersampaikan, lewat suara yang dikeluarkan Jeffrey berikutnya "Tapi besok sabtu kita tetep jadi ketemu kan, Sayang?"
Dehaman riang Rose menjawab "Udah baca email dari Mrs. Marvel kan?"
"Udah"
"You've to be at Orlando before 10 pm."
"Okay, Sayang"
Senyum Rose akhirnya hadir, pun tampak mengganjal, setidaknya Jeffrey tiada di sini tuk menyaksikan lewat manik mata indahnya. Karena Rose yakin, gadis itu tak akan bisa tahan walau hanya tuk sekian detik saja.
"Kamu kerja lagi aja deh, Sayang. Kasian client kamu, nungguin kamu lama telponan" senyum Rose semakin kaku mendengar Jeffrey. Terlebih nada Jeffrey yang Ia rasa mulai baikan "Aku tutup dulu telponnya, Sayang. I love you"
"Love you too" nada lirih mengantar Jeffrey mengakhiri panggilan itu.
Nafas beratnya itu keluar, manik matanya masih betah menyusuri ponsel yang diletakkannya di samping kiri, bersebelahan dengan gelas wine yang lantas diangkat dan ditegaknya. Setidaknya masam anggur melewati kerongkongannya, menandas semua kegelisahannya.
"It's been a week. Ngga capek bohong terus?"
Kaki sherry glass diapit kedua jarinya,cairan berwarna merah pekat itu tampak bergerak ketika Ia goyangkan "I'm not lying all the way" indera Rose tak menatap ke Sonya, sang lawan bicara. Fokusnya terjebak di sebuah bidang bening, yang mengingatkan pada kado natal si Jeffrey berapa tahun silam. Cognac glass Lalique yang tersimpan rapi di kamarnya.
Perihal perkataannya, Rose memang menemui client, namun bukan sekarang. Hanya satu dari lain hal yang membuat Rose enggan menemui Jeffrey pas makan siang, alih - alih Ia menggandeng Sonya ke Restaurant. Rose menyadari kekecewaan terdalam yang dirasakan lelakinya.
Bukan kemauan Rose juga, cewek itu melakukannya karena terpaksa "Cepet atau lambat lo bakal ketemu, sama Jeffrey. Apa gunanya ngulur - ulur waktu?"
"Seenggaknya gue punya extra time buat cariin cincin gue yang ilang" Rose berujar malas. Pun berhadapan dengan marinara linguine dari restaurant favoritnya sekalipun, Rose merasa tak mampu menelannya. Akhir - akhir ini Rose akui kehilangan nafsu makannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanfictionSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
