what we got's too good to say goodbye

263 9 0
                                        


Bruno mars – Too good to say goodbye

Ariana Grande — The boy is mine



Baby, ain't nobody gonna love me like the way you do

And you ain't never gonna find a love like mine

Tell me what can I do to make it up to you?

'Cause what we got's too good to say goodbye, goodbye


A confused timeline ⚠️. first part, is when mereka masih cekcok, dan sebelum malam puncak pas Rose ngaku itu. Part ini cuma mau ngegambarin sejauh apa Rose cross the line.  Happy reading. Semoga masih inget dengan cerita ini. 


Dari cara duduknya, posisi yang beralih tiap detiknya, atau bagaimana arah pandang Rose yang berulang kali berpindah arah, diikuti bibir yang tergigit kuat sangat merujuk terhadap sebuah perasaan cemas yang Rose tengah rasakan sekarang.

Berulang kali Rose menatap ponsel, atau sesekali juga terlempar pada bidang tembus pandang, diikuti paras berharapnya.

Sampai hal itu berhenti dengan sendirinya ketika Rose mendengar dering teleponnya. Tak butuh waktu lama tuk Rose menegurnya dengan semua isi kepalanya itu sekarang; terlebih mengetahui label nama yang sudah Rose nantikan memang "Dimana? Kok belom sampek juga? Masih jauh?"

"Sayang, maaf.."

Perkataan itu berhasil merebut tiap detak jantungnya menghilangkan denting detik berjalan, mencuri setiap gerak tengah berjalan, begitu juga nafasnya.

Firasat tak enak Rose berubah menjadi kenyataan yg tak mampu terelakkan "Aku udah otw tadi ke tempat, cuma tiba - tiba aku ditelpon Doni. Katanya ada yang kecelakaan di pabrik, makanya ini aku mau langsung kesana"

Bahunya yang menegang, perlahan melonggar, nyaris melemah. Siku Rose harus bertumpu pada meja yang menopangnya. Kelopaknya juga lantas turun, disertai sebuah tarikan nafas, sekedar mengontrol suatu rasa amarah yang mulai tumbuh menyesaki relung jiwanya

"Sekali lagi maaf, Sayang. Aku bener - bener ngga tau bakal ada kejadian ini" tiada kata protes yang sanggup Rose lontarkan, hanya sebuah nafas panjang yang lolos, menunjuk suatu kekecewaan yang teredam di hatinya.

"Aku periksa dulu ya. Nanti kalau misalnya udah kelar langsung aku susulin kamu, gimana?"

Garis bibirnya dipaksakan tertarik, walau sepenuh hati enggan "It's okay. Kamu selesain kerjaan kamu dulu"

Rose mencoba menerima, meski itu sulit. Rose tetap usaha agar mengerti, menekan rasa egoisnya yang murka atas kelakuan Jeffrey. Rose tau sepenuhnya itu bukan salah Jeffrey, hanya kondisi yang terlalu sirik jika segala yang Rose ingin berjalan dengan sebagaimana mestinya.

"Beneran ngga papa?? Apa aku sambil teleponan aja sama kamu?"

Mendengar nada suara Jeffrey, Rose berusaha untuk mengendalikan suaranya "Iya ngga papa, Babe. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu, biar masalah fotografer aku yang handle. Lagian hari ini kan cuma ngobrol aja niatnya, buat cari - cari referensi aja" Jelas Rose, nada yang dikeluarkan terdengar lembut, cukup untuk tidak membuat Jeffrey semakin merasa bersalah dan justru berputar arah.

"Inget. Tanggung jawab kamu bukan cuman aku, tapi abraham juga. Dan aku paling ngga suka cowok yang lepas tanggung jawab gitu aja"

Terdengar hening sekian detik, sebelum berganti pada lenguhan panjang "Yaudah kalau gitu. Kabarin aku ya kalau ada apa - apa. Nanti pulangnya biar aku jemput aja. Aku pastiin ngga akan lama - lama kok"

BlissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang