Dec, 2019
Cowok itu tak lelah berlarian di bandara. Bukan karna takut ketinggalan pesawat; yang mana Jeffrey tengah menggunakan aset pribadi Abraham. Alih - alih takut buat Rose marah, Jeffrey lebih takut kalau ceweknya kecewa.
Tadi pagi Jeffrey harus menyempatkan ke rapat. Lelaki itu udah berusaha sekuat tenaga tuk mengejar waktu agar tak ketinggalan. Manalagi ibukota yang berada di kondisi sedang liburan, jarak kantor sama bandara jadi makin berkali - kali lipat jauhnya.
Nafas Jeffrey masih tak beraturan tatkala dua kakinya menginjak pesawatnya. Enggan melirik para awak, Ia justru mengedarkan pandangan. Tepat pada gadis yg terduduk manis, kini menatapnya dengan senyuman. Bukannya merasa lega, Jeffrey malah makin menyesal "Maaf, Sayang" dari matanya dipenuhi sesal. Lelaki itu ingat kalau Rose benci menunggu.
Bukannya marah, Rose masih tetap tersenyum cerah lalu berkata "Macet banget ya?"
Jeffrey mengangguk. Dengan muka bersalahnya, lelaki itu mengambil tempat persis di sebelah Rose. Tangan Jeffrey bergerak ke rambut Rose, sementara bibirnya terlebih dulu menghampiri pelipis kekasihnya sebagai ungkapan permintaan maaf mendalam darinya.
"Rapatnya gimana? Lancar kan? Ngga ada masalah?"
"Puji tuhan lancar, ay"
"Udah kelar kerjaannya?"
".. belum. Tapi kamu santai aja. Bisa aku kerjain nanti"
"Sekarang aja ngga papa"
Bukannya menjawab, Jeffrey malah termenung selagi menatap ceweknya "Lah malah bengong. Kerjain aja. Ngga enak kalau ditunda - tunda"
"Terus kamu gimana?"
"Aku temenin sambil ngelihatin awan"
"Ngga papa?"
"Hm"
Masih memakai raut tak yakinnya "Beneran?"
"Iya, Jeffrey Sayang. Buru kerjain"
Hati Jeffrey tetap menyimpan perasaan mengganjal di sana. Sebelum itu semua terhapuskan berkat kecupan dari gadisnya. Garis linear bibir Jeffrey berubah, cacat ototnya tertarik kian dalam bersamaan dengan warna telinga Jeffrey perlahan merona.
Jari Jeffrey yang sepenuhnya belum berpindah, lantas mengusak pelan surai Rose. Jeffrey sempatkan untuk kembalikan kecupan di pipi gembil Rose, sebelum Pria itu balik melayani pekerjaan lagi "Aku udah siapin ice americano. Buat nemenin kamu kerja"
Rasanya Jeffrey tiada muka harus berhadapan dengan kekasihnya itu. Belum selesai rasa bersalahnya, justru ditambah. Dibanding menyesal dan tak ada gunanya, Jeffrey memilih segera melakoni yang disarankan oleh gadisnya.
Fokus Jeffrey seutuhnya milik macbook di hadapan si Pria itu. Tanpa harus menggunakan penutup telinga, Jeffrey sama sekali tak terusik akan apapun. Bahkan Rose seringkali kagun akan kehebatan Jeffrey itu. Pria itu tak akan pernah berhenti terpaku pada suatu hal, kalau tak hati Jeffrey yang berkehendak.
Atau mungkin tubuhnya yang meronta. Jeffrey harus beristirahat saat merasa lelah. Seketika kepala Jeffrey menoleh, teringat kalau Rose tak lagi menggelayut di lengannya. Senyum Jeffrey tertarik, mendapati wanita itu berbalik memunggunginya.
Tatkala Jeffrey hendak membenarkan selimut, berpikir kalau Rose tertidur. Jeffrey justru menangkap hal aneh lagi "Sayang??" Paras Jeffrey mencari raut Rose yang bersembunyi di balik tangan, sementara pelipisnya itu dipenuhi keringat "Kamu kenapa hey?" Tangan Jeffrey turut hadir, menyentuh lembut jari Rose.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanfictionSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
