21+
Kaki ramping Rose menyentuh lembut ubin kamarnya. Tenang, tapi terarah. Sorot matanya terkunci kepada sosok berkaos hitam, dengan celana piyama yang kini berbaring santai membaca buku di ranjang.
"Sayang.." Panggil Rose manja. Gesturenya mendekat terlihat sensual; namun tetap elegan di kurun waktu bersamaan.
Sontak saja Jeffrey menoleh,ada senyum kecil melihat istrinya itu. Segera Jeffrey melepaskan buku di tangan diletakkan asal di meja samping, kemudian menerima tubuh Rose yang mendarat manis di pangkuannya kini "Kenapa?" Tanya Jeffrey, tangannya melingkar posesif di tengah kain satin yang membungkus tubuh Rose.
Mata sayu Rose menatapnya, bibirnya mengerucut ke depan "Tete aku ngga enak.." suaranya pelan sengaja menggoda, bahkan tangan kanannya mengiring punya Jeffrey bersemayam di atas payudara yang bentuknya semakin tercetak jelas di tangkupan besar Jeffrey kini.
Dahi Jeffrey mengerut "Ngga enak gimana? Nyeri? Atau gimana? Mau aku telponin dokter robby aja??" Suara Jeffrey terdengar panik, dengan paras khawatirnya di sana. Tak dibuat - buat, penuh keseriusan; seolah hal tersebut tidak untuk bahan bercandaan.
Helaan nafas Rose sempat terasa dikala cowok polosnya kembali hadir. Namun Rose tetap berusaha sabar. Badannya dibawanya lebih dekat, lebih menempel ke Jeffrey; agar Jeffrey bisa lebih merasakannya. Kepala Rose menggeleng kecil "Ngga enaknya.." suara Rose lirih, nyaris berbisik. Jari - jarinya diajak berkeliling di sepanjang urat leher Jeffrey "....kayak pengen di apa - apain"
Dari ujung bibirnya yang terangkat, Rose paham kalau Jeffrey telah mengetahui maksudnya sepenuhnya di antara alis Jeffrey masih terangkat "Pengen di apa - apain?" Tanya Jeffrey; seolah sengaja mengajak Rose bermain - main.
Rose mengangguk pelan, ekspresinya yang manis tapi sorotnya penuh arti "Yang kayak kamu biasanya itu.." bibir Rose tergigit setelahnya.
Jeffrey terkekeh kecil, di antara parasnya dan telinga yang sudah merona "Astaga.." Suara Jeffrey terdengar berat, sedikit dramatis; karena kekalahannya yang tak pernah bisa menang dengan godaan Rose.
Tangan Jeffrey bergerak, menyentuh pelan juga lembut dada Rose di setiap titiknya, menekan serta meremas penuh kehati - hatian; seolah Jeffrey sudah terlalu tau dan paham tentang bagaimana cara memperlakukan tubuh Rosenya dengan benar.
Nafas Rose mulai tidak stabil, desahnya beberapa kali juga hadir. Matanya mulai memberat, namun enggan menutup; Rose masih ingin memuaskan visualnya itu dengan paras tampan Jeffrey "Padahal kamu biasanya tiap malem minta.." Kalimat Rose menggantung tepat nafasnya tercekat, Jeffrey menggeser jarinya ke ujung dadanya yang mulai mengeras "Tapi aku tungguin dari tadi ngga ada pergerakan.."
"Aku rencananya mau minta kok, Sayang. Cuman pas mau tidur nanti.." Suara Jeffrey terdengar tenang, dan mengalun lembut di antara senyumnya "Tapi kamunya malah ngga sabar"
Belum sempat Rose membalas, Jeffrey terlebih dahulu menciumnya. Lembut serta penuh perasaan; seperti alunan lagu cinta yang diterjemahkan menjadi sentuh Setiap kata manis, tertuang menjadi sentuh legit yang berhasil melelehkan Rose yang mengisi ruas ruas jari dengan rambut Jeffrey.
Badan keduanya merapat tanpa celah, bahkan udara pun nyaris tak mendapat ruang.Dengan perlahan, kini Jeffrey bawa posisi Rose berubah. Dari yang terduduk Jeffrey baringkan Rose diatas kasur tanpa melepaskan tautan bibir keduanya. Sementara jari Jeffrey perlahan turun, menyusuri tiap perpotongan tubuh Rose penuh perhatian. Menarik pelan tali kimono Rose, sehingga gerakan halus dari tubuh Rose, menggeser kain satin sedikit demi sedikit, sebelum terbuka sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bliss
FanfictionSequel of Opposite attract Oneshoot story of the moment that aren't mention in Opposite attract. ⚠️ Contain of uwunes 100/10 ⚠️ Some chapter are containing mature content ⚠️ Please be wise reader. You can read this without read opposite attract but...
