Arya manja kayak nya lucu deh....semoga suka ya...
Semalaman Nindy harus sabar menghadapi kerewelan Arya, sampai-sampai Nindy harus merelakan beberapa jam tidur nya hanya untuk menuruti kemauan Arya.
Pagi ini kondisi Arya juga belum membaik, panas di tubuh nya kembali naik, rasa pusing juga masih di rasakan nya, bahkan kini rasa mual juga menyerang nya pagi ini.
Nindy pun memutuska untuk membawa Arya ke rumah sakit untuk periksa.
"Pakai jaket nya!"suruh Nindy sambil memberikan jaket pada Arya.
Arya pun memakai nya dengan bantuan Nindy tentu nya.
"Harus banget kita ke rumah sakit?"tanya Arya.
"Jangan ajak aku debat deh Ar"ujar Nindy.
"Bisa jalan sendiri enggak?"tanya Nindy.
Arya menggeleng.
"Lemes badan aku, pusing juga"jawab Arya.
Nindy mengangguk paham lalu membantu Arya berjalan.
"Beneran mau nyeter kamu?"tanya Arya setelah mereka berada di dalm lift dengan posisi Arya yang memeluk Nindy, sebenar nya bukan memeluk tapi jika orang lain lihat posisi mereka seperti berpelukan.
"Iya"jawab Nindy sambil mengusap kedua tangan Arya yang panas.
Ting.
Lift pun terbuka tanda mereka sudah sampai di lantai bawah.
"Loh...mas Arya kenapa mbak Nindy?"tanya pak Usman saat melihat Nindy membantu Arya berjalaan keluar dari lift.
"Sakit dia pak, ini aja saya mau bawa ke rumah sakit"jawab Nindy dengan ramah.
"Saya bantu bawa mas Arya ke mobil mbak Nindy"ujar pak Usman sambil mengambil alih Arya dari Nindy.
"Makasih pak Usman"ujar Nindy bersyukur karena ada yang membantu nya. Jujur Nindy tidak bisa membawa Arya sendiri ke mobil, postur tubuh Arya cukup besar untuk postur tubuh nya yang kecil ini.
"Sama-sama mbak Nindy"jawab pak Usman lalu ketiga nya pun berjalan menuju parkiran di mana mobil Arya terparkir.
Brak.
"Posisi nya udah nyaman belum?"tanya Nindy sambil menyalakan mesin mobil.
Arya mengangguk.
"Dingin"ujar Arya dengan suara lirih dan tubuh menggigil.
Nindy pun langsung membesarkan suhu AC dan mengambil selimut yang berada di jog belakang lalu menyelimukan nya pada tubuh Arya.
"Masih dingin?"tanya Nindy.
Arya menggeleng dengan mata tertutup.
Nindy mengngguk lalu segera menjalankan mobil nya keluar dari area parkiran apartemant.
Jalanan yang tidak terlalu macet membuat mobil yang Nindy kendarai melaju dengan lancar.
Setelah sampai di rumah sakit, Nindy langsung menuju tempat pendaftaran dan setelah mendapat nomor antrian, Nindy dan Arya pun menunggu nama nya di panggil untuk bertemu dokter.
"Dingin Nin"ujar Arya mengadu.
"Iya, sini tangan nya aku genggam"ujar Nindy sambil menggegam kedua tangan Arya.
"Pusing juga"ujar Arya mengadu lagi.
"Sini sandaran di bahu aku"ujar Nindy sambil menarik pelan kepala Arya agar bersandar di bahu nya.
"Masih lama kita nunggu nya?"tanya Arya.
"Sabar, tinggal dua antrian lagi habis itu giliran kita yang ketemu dokter"ujar Nindy sambil mengusap pelan pipi Arya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!!!
RomansaIni bukan kisah lanjutan Arya dan Nindy setelah anak mereka lahir, ini merupakan kisah Arya dan Nindy setelah lulus SMA. Ini kisah kehidupan Arya dan Nindy di masa kuliah tapi bukan kisah mengenai masa perkuliahan mereka. Kepo enggak sih sama kehidu...
