CHAPTER 41

11.5K 303 142
                                        

VOTE SEBELUM BACA YA🌸💖

HAPPY READING!!!

\\\\\\\\

Pagi itu, langit masih dipenuhi oleh kabut yang tampak menutupi gedung-gedung tinggi di depan sana. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit putih milik seorang perempuan yang sejak tadi berdiri di balkon kamarnya sambil terus berdoa agar hari ini adalah hari yang sangat baik untuknya. 

Alsha menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertamanya ospek, dan meski hatinya dipenuhi kecemasan, ada juga sedikit kegembiraan yang tak bisa ia pungkiri. "Semoga hari ini berjalan dengan lancar," gumamnya sambil mengepalkan tangan, mencoba memberi semangat pada diri sendiri. 

"Alsha," 

Alsha menatap ke belakang, Arsyad mendatanginya, laki-laki itu terlihat mengenakan pakaian santai, membuat dahi Alsha langsung berkerut bingung, "Bukannya hari ini mulai magang ya?" 

"Meliburkan diri," jawab Arsyad santai, dengan kedua tangan kini bertumpu pada pagar balkon, menatap gedung-gedung di hadapannya, lalu beralih menatap sang istri, "Spesial, nganterin kamu pertama kali ke kampus," sambungnya. 

Alsha tersenyum, ia benar-benar tak menyangka, Arsyad akhirnya mendukung dirinya untuk berkuliah, laki-laki ini sudah banyak berubah, ia tampak sudah menjadi orang yang begitu dewasa dengan pemikirannya, bahkan sifatnya yang tidak lagi mengikuti ego sendiri.

Melihat Alsha yang terus menatap dirinya, Arsyad menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat sambil memejamkan mata, ia sedikit tenang seperti ini, karena sejak tadi ia khawatir untuk melepaskan Alsha, membiarkan gadis ini memulai mimpinya di luar sana, ada rasa ketakutan baginya. Helaan napas perlahan Arsyad keluarkan, lalu ia melepaskan pelukan itu, kemudian memegang erat kedua bahu Alsha dan menatapnya intens.

"Kenapa?" tanya Alsha bingung, namun ia tetap membalas pelukan itu.

"Kamu sayang kan sama aku?" 

Alsha menahan tawa, kenapa Arsyad jadi begini. Aneh sekali. "Kok nanya gitu? Emangnya aku keliatan gak sayang ya sama kamu?" tanyanya balik.

Arsyad melepas pelukannya, lalu mendekati wajah gadis itu, berniat akan menciumya. Namun, dengan cepat Alsha menahan satu jarinya pada bibir laki-laki itu, "A-aku udah pake liptint," ucap Alsha sambil menahan malu.

Perlahan Arsyad menelan salivanya, lalu menjauhkan wajahnya dari Alsha, ia menghela napas perlahan,"Kalo ada yang gangguin kamu di kampus, ngomong ke aku. Dan ingat, jangan berteman dengan laki-laki," tegasnya. 

"Aku gak akan macem-macem Arsyad, janji..." ucap Alsha serius. 

Arsyad percaya penuh pada Alsha, namun tidak dengan laki-laki di luar sana. "Yaudah, sekarang kamu siap-siap, aku mau manasin mobil dulu," ujarnya, dan sebelum melangkah pergi, ia menyempatkan diri untuk mencium kedua pipi istrinya penuh sayang.

Seketika wajah Alsha merona merah, seperti kepiting rebus. Arsyad selalu saja melakukannya dengan tiba-tiba.




*** 





Mobil Arsyad perlahan berhenti tepat di salah satu parkiran yang ada di kampus. Di dalam mobil, mereka diam dan saling menatap, tangan Arsyad bergerak memakaikan kalung yang terbuat dari tali wol dan potongan kardus berbentuk persegi yang bertuliskan nama panggilan 'Alsha' ke leher istrinya. Alsha tersenyum, Arsyad benar-benar peduli padanya. 

Kalung yang terbuat dari kardus tersebut merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ospek yang di adakan oleh pihak kampus. Selain membawa name tag dari bahan bekas, Alsha juga di perintahkan oleh para senior untuk membawa alat tulis, dan selebihnya panitia ospek yang menyediakannya. 

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang