CHAPTER 48

9.9K 282 125
                                        


💛HAPPY READING💛

JANGAN LUPA VOTE SEBELUM MEMBACA💕💕

Age Restriction: 17+ only!

###


Alsha masuk ke dalam kamar, ia sedikit mempercepat langkah kakinya demi menghindari sang suami, ia langsung tidur diranjang lalu bersembunyi ke dalam selimut, menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah. Ia mencoba mengontrol detak jantungnya, Arsyad selalu saja membuat gebrakan baru setiap harinya, laki-laki itu sukses membuat dirinya berdebar.

Ia mengatakan tidak enak badan tadi, lalu meminta Arsyad agar melakukannya besok saja?

Huh, kalimat itu sungguh sangat ia sesali. Pasti besok Arsyad akan menagihnya.

Alsha baru menyadari dirinya sudah dewasa, namun tentu saja kepanikannya sangat tercetak jelas, bisa ia lihat dirinya tadi tampak begitu panik dihadapan Arsyad. Jangan sampai laki-laki itu menyadarinya.

Alsha sangat malu sekali! 

Arsyad keluar dari kamar mandi, ia berjalan mendekati ranjang, lalu benda yang ia tunjuki pada Alsha tadi, ia letakkan ke dalam laci nakas.

"Ayo minum obat dulu, jangan langsung tidur." ucap Arsyad yang kini meraba laci nakas kembali, ia mengambil obat yang tersedia di sana. 

"Hufff!" Alsha meniup poni rambutnya yang menutupi wajah, perlahan ia membuka matanya saat Arsyad mendekat ke arahnya. Laki-laki itu duduk di dekatnya, lalu menyentuh kening Alsha, memeriksa apakah ia demam atau tidak.

"Aku gak demam." ucap Alsha cepat.

"Ayo duduk," perintah Arsyad, "Tadi katanya gak enak badan, kan."

Alsha tak mau duduk, ia memilih tetap rebahan saja. Namun matanya kini salah fokus, ia malah menatap tubuh
Arsyad, laki-laki itu masih bertelanjang dada, ototnya, bahkan perut berbentuk roti itu membuat Alsha seketika langsung mengalihkan tatapannya. Tidak, jangan sampai Arsyad menyadari ke mana mata Alsha memandang.

Arsyad menyodorkan sebutir obat pada Alsha.

"Apa kamu lagi nyoba buat ngerayu aku?" tebak Alsha sambil menatap Arsyad penuh curiga.

Mendengar itu, Arsyad menahan tawa, "Kamu nuduh aku pura-pura baik?" tangan Arsyad mengelus puncak kepala Alsha dengan gemas, "Abis minum obat, kamu langsung tidur aja, ya. Aku mau ngerokok di luar." Tentu saja Arsyad sangat mengkhawatirkan istrinya, ia berusaha sebisa mungkin menahan semua keinginannya, ia tak akan memaksa Alsha untuk hari ini. 

"Oh, yaudah." jawab Alsha kesal.

"Obatnya di sini ya, jangan lupa diminum," Arsyad meletakkan obat itu di atas nakas, beralaskan sehelai tisu. 

Sebelum laki-laki itu keluar dari kamar, ia mendekati wajah Alsha, menatap bola mata indah milik istrinya beberapa detik, lalu berbisik, "Jangan sampai menyesal dengan tawaran tadi," lalu Arsyad mengecup lembut pipi Alsha. 

Pipi Alsha merona merah, namun sebisa mungkin ia mencoba menahan dirinya untuk tidak bersuara. Sentuhan Arsyad benar-benar membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda.

Apa mungkin ia menyesal sudah menolak Arsyad? 

Mendengar pintu kamar yang tertutup, Alsha langsung membuka selimutnya dengan wajah yang tampak blushing. Arsyad lagi-lagi membuatnya seperti kupu-kupu yang berterbangan.

Ia lalu menatap obat itu dengan tatapan bingung, "Kalo obat biar gak mudah baper ada gak ya?" gumamnya.  

***

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang