CHAPTER 46

10.7K 334 137
                                        

VOTE DULU YA SEBELUM BACA, MAKASIH💖💖

HAPPY READING<3


###



Disaat sedang menunggu Arsyad menjemput, Alsha segera mengirimkan pesan lewat ponselnya kepada Fika, meminta maaf pada sahabatnya karena tak bisa menghampirinya dan juga mengatakan bahwa ia harus segera pulang dengan alasan sakit. 

Pastinya Fika dan Mahen yang sedang menunggunya di kantin saling bertanya ada apa sebenarnya. Alsha memilih ingin menjelaskannya di saat mereka bertemu kembali, besok. 

Sungguh, kejadian dikelas tadi, ia baru kali ini dilabrak oleh seniornya. Rasanya menyakitkan jika dirinya dianiaya dan direndahkan seperti itu. Alsha benar-benar berharap itu tak akan terulang lagi.

Tunggu dulu...Apakah yang dilakukan Tasya adalah perintah dari Clara? Alsha menggelengkan kepalanya, sudah terlalu banyak pikiran yang masuk dikepalanya, ia berharap setelah di rumah nanti ia merasa tenang kembali. 

Tak lama kemudian, sebuah mobil yang sangat Alsha kenali terlihat menepi di depan gedung Fakultas Psikologi. Alsha menarik napas perlahan, lalu melangkah mendekati mobil tersebut. 

Arsyad keluar dari mobil, lalu mendekati istrinya, tampak terlihat khawatir, "Kenapa? Kok muka kamu pucat gitu?" tanyanya sambil meletakkan telapak tangan ke kening Alsha, memastikan perempuan itu demam atau tidak.

Ternyata tidak. 

"Cuma pusing aja kok," jawab Alsha lesu, seperti tak bersemangat.

Dengan cepat Arsyad memegang lengan perempuan itu, lalu membukakan pintu mobil untuknya, "Ayo cepat masuk," 

Alsha bergegas masuk ke dalam mobil. 

Di dalam mobil, Arsyad langsung membuka sebotol air mineral, lalu menyodorkan kepada istrinya, "Minum dulu," ucapnya dengan tatapan tak lepas dari wajah pucat Alsha.

Alsha menerima air itu dan langsung meneguknya hingga setengah, seperti orang yang sedang kehausan.

Tentu saja hal itu semakin membuat Arsyad bertambah khawatir, "Kita ke dokter sekarang." Arsyad langsung menjalankan mobilnya menuju keluar dari wilayah kampus sambil sesekali menatap Alsha.

"Aku gak mau ke dokter, aku pengen pulang aja, cuma pusing doang kok, gak lebih." tolak Alsha dengan wajah menunduk sambil memainkan jarinya, menghilangkan rasa cemas. 

"Jangan bohongi aku Alsha, wajah kamu pucat." tegas Arsyad.

Alsha memberanikan diri menatap suaminya sambil menggeleng beberapa kali, "Kita pulang aja ya, aku cuma pusing, aku gak bohong.." desak Alsha penuh permohonan.

Arsyad menurunkan kecepatan mobilnya, ia menghela napas berat, "Yaudah kalo itu mau kamu, tapi kita ke apotek dulu, beli obat." jawab Arsyad pada akhirnya, dengan satu tangan memegang tangan Alsha sambil mengelusnya, memberikan ketenangan.

"Iya," jawab Alsha pelan nyaris tak terdengar.

Bisa Arsyad lihat mata perempuan itu berair, seperti sedang menahan tangisannya. Arsyad semakin khawatir, ia berharap tidak terjadi apapun pada istrinya. "Kenapa sayang? Ada yang mau kamu omongin?" tanyanya lembut, berusaha membujuk Alsha untuk bercerita tentang apa yang terjadi.

"Nggak." jawab Alsha tampak enggan menatap suaminya.

Arsyad memilih diam, ia tahu pasti ada sesuatu yang sedang Alsha sembunyikan, tapi jika terus mendesak perempuan itu untuk mengatakannya sekarang, jelas tak akan mau.

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang