CHAPTER 39

11.8K 332 199
                                        

VOTE SEBELUM MEMBACA YA🙏🏻💖

< HAPPY READING >




Hari ini Alsha mencoba menyibukkan diri agar waktu cepat berlalu menjadi malam. Karena Arsyad sudah berjanji padanya, bahwa malam ini mereka akan dinner di luar. Sejak tadi ia tak berhenti tersenyum bahagia, Arsyad ternyata peduli padanya.

Sesibuk apapun laki-laki itu, kenyataannya dia tetap ingin meluangkan waktu untuk istrinya. Tentu saja Alsha merasa dirinya begitu di istimewakan oleh Arsyad.

"Jangan ke belakang."

Alsha berhenti melangkah saat akan ke halaman belakang, ia menatap lurus pada satu asisten rumah tangga yang kini juga sedang menatap dirinya.

Jiha, pembantu muda yang dari kemarin tampak tidak menyukai apapun yang Alsha lakukan. "Kenapa?" tanya Alsha sambil menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus pada Jiha.

Jiha mendekati Alsha, lalu ia memutar bola matanya dengan ekspresi kesal. "Nyonya besar bilang ke saya, kalo kamu jangan injak kaki ke dapur lagi, kalo ada masalah, bisa-bisa suami kamu nge-hukum kami semua!" ucapnya seperti tak punya sopan santun.

"Gak akan ada masalah lagi, kamu gak perlu khawatir." jawab Alsha santai.

"Kenapa susah banget sih di kasih tau? Ini perintah dari Nyonya Besar! Atau kamu saya laporkan ke Nyonya____"

"JIHA!"

Jiha terdiam saat seseorang memanggilnya.

Dia Yazid, laki-laki itu kini mendekat.

"Ngapain kamu teriak gak sopan gitu ke Nyonya Muda? Kamu gak mau kan hal ini sampai aku adukan ke Tuan muda?" ancam Yazid dingin.

Jiha menggeram, ia menatap kesal pada Alsha, lalu bergegas pergi dari hadapan dua orang itu.

Melihat Jiha sudah pergi, Yazid mendekati Alsha, "Jiha emang kayak gitu, maafin dia ya Nyonya muda, nanti pasti bakalan saya kasih tau."

Alsha tersenyum, "Gapapa Yazid, aku udah tau sifat dia gimana. Oh iya, aku bolehkan ke halaman belakang? Aku lagi pengen siram bunga di sana, please..." ucap Alsha memohon.

Yazid terlihat berpikir, lalu akhirnya ia mengangguk, "Yaudah Nyonya, ayo ikut saya, tapi sebisa mungkin jangan lakuin hal yang berat ya..."

"Yazid, panggil nama aja, aku kurang suka kalo terlalu berlebihan gitu," saran Alsha tampak merasa risih.

Yazid tersenyum sambil mengangguk.

Kini mereka berdua sudah ada di halaman belakang.

"Kamu mau daftar kuliah ya sebentar lagi?" tanya Yazid sembari membantu Alsha mencabut beberapa rumput liar di sekitar tanaman.

Alsha mengangguk, "Do'ain ya semoga jadi, soalnya itu salah satu impian aku..." jawabnya.

Yazid mendadak diam dan berhenti melakukan aktivitasnya, ia menatap Alsha sambil tersenyum. Alsha benar-benar gadis yang beruntung.

"Kenapa?" tanya Alsha bingung.

"Kamu beruntung. Menikah dengan orang kaya, lalu juga akan kuliah, dan mungkin sebentar lagi suami kamu bakalan jadi CEO di kantornya, bahkan keluarga ini juga jagain kamu seperti putri mereka sendiri, itu benar-benar sempurna Alsha..."

Entah kenapa ucapan itu keluar dari mulut Yazid secara spontan, membuat Yazid terdiam seketika. Yazid tidak sengaja mengucapkan itu, baginya itu kalimat yang agak sedikit kasar.

Yazid benar-benar tidak sengaja dan menyesalinya.

Alsha perlahan berdiri dan menatap tak percaya pada Yazid, "Kenapa kamu ngomong gitu?" ucap Alsha sedikit kaget, "Maksud kamu, karena aku nikah dengan Arsyad, aku bisa dapet semuanya?" tanya Alsha.

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang