CHAPTER 52

9.4K 233 137
                                        



VOTE DULU YUK, MAKASIH💗✨

HAPPY READING!

8.3K word biar kalian puas❤

###




Alsha sejak tadi berdiri dibalkon kamar sambil termenung memikirkan sesuatu. Ia berusaha menghirup udara segara di pagi ini dengan napas yang berat. Ia berusaha menyusun kata-kata untuk ia katakan nanti pada suaminya. Ia berharap Arsyad mengizinkannya.

"Alsha."

Mendengar panggilan dari Arsyad, dengan cepat Alsha masuk ke dalam kamar dan tersenyum saat melihat suaminya sudah bangun, laki-laki itu kini duduk di ranjang dengan wajah yang terlihat masih menahan kantuk.

Buru-buru Alsha mengambil kopi yang sudah ia siapkan tadi, lalu membawanya kehadapan Arsyad.

"Ayo minum dulu, biar ngantuknya hilang," Alsha menyodorkan gelas kecil.

"Kopi?"

"Iya,"

Arsyad mengambilnya dari tangan Alsha, lalu meminumnya, "Kamu buat?" tanyanya dengan wajah yang tampak menikmati minuman itu.

"Iya, kenapa? Gak enak ya?" jawab Alsha dengan wajah yang kini meringis, takut tidak enak.

Laki-laki itu tersenyum, lalu meletakkan gelas itu ke atas nakas, dan kembali menatap Alsha dengan tatapan kagum, "Enak, kamu jago buatnya, besok-besok kamu aja ya yang buatin kopi lagi buat aku, selain kopi dari kamu, aku gak akan minum," pintanya sambil memuji sang istri.

"Kamu gak terpaksa kan ngomong gini?" tanya Alsha tak percaya.

"Enak sayang, serius," jawab Arsyad serius sambil mengusap puncak kepala Alsha, bersamaan dengan ponselnya yang kini berdering, dengan cepat ia mengambil benda pipih itu di atas, dengan mata yang terus menatap Alsha.

"Hm?" Arsyad menjawab telepon itu dengan tak niat.

"Syad, lo gak ke kantor? Pak Efendi dateng nanyain soal hasil rapat, sekalian dia ikut survey ke lokasi."

Dapat Alsha dengar suara Ghaidan yang ada di sana, membuatnya berniat akan bergegas pergi dan tak ingin menguping pembicaraan mereka, namun Arsyad langsung menahan lengannya agar Alsha kembali duduk di dekatnya.

"Iya, gue bentar lagi OTW,"

"Yaudah, cepetan."

Selesai menelpon, Arsyad meletakkan ponselnya asal, lalu mengecup pipi istrinya penuh sayang, "Suaminya baru bangun, harusnya dicium," pintanya lembut sambil menyelipkan rambut Alsha ke belakang telinga, menatap perempuan itu dalam, ia begitu mengagumi kecantikan natural pada wajah istrinya pada pagi hari ini.

Alsha tak bisa menolak permintaan suaminya, perlahan ia mendekati wajah Arsyad lalu mengecup singkat bibir laki-laki itu, kemudian ia tersenyum manis, "Udah, kan. Sekarang kamu mandi, abis itu siap-siap berangkat ke kantor, tapi sebelum ke kantor, ada hal penting yang harus aku bicarain ke kamu," ucapnya ragu.

Arsyad mengambil kopi tadi, lalu meminumnya lagi, setelah itu ia menatap Alsha, "Bicarain sekarang aja, aku penasaran."

Kini Alsha terlihat ragu mengatakannya, ia menatap ke arah lain, lalu menghela napas.

"Ngomong aja sayang, aku suami kamu, aku bukan orang lain," ujar Arsyad, lagi.

Alsha berusaha memberanikan dirinya, "Arsyad, aku harus pulang ke rumah, ayah lagi sakit. Dan, bunda bilang, aku bakalan nginap disana untuk beberapa hari, sampai kondisi ayah membaik..." ucap Alsha pada akhirnya.

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang