CHAPTER 53

8.6K 232 118
                                        

HAPPY READING💗

VOTE AND COMMENT GUYS✨

7000+ word buat kalian💕

###


Asap tipis mengepul di udara, menyapu lembut cahaya neon di dinding bar. Terdengar suara bisik-bisik dari para perempuan yang baru saja datang, mata mereka tertuju pada perkumpulan laki-laki tampan yang sedang asik bermain biliar.

Satu orang yang kini tampak fokus di sisi meja biliar. Arsyad perlahan membungkuk sedikit, matanya mengukur jarak dengan tenang sebelum menggerakkan stik biliar dengan gerakan halus namun pasti. Sorot matanya dingin, seperti seseorang yang selalu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan...

Klik! 

Bola putih melaju, membentur satu bola lain, dan tepat masuk ke lubang sudut. 

Sorak kecil terdengar dari teman-temannya, Arsyad hanya berdiri tegak, memutar stik di tangannya sambil melempar senyum tipis yang membuat malam itu terasa seperti miliknya. Mau apapun tantangannya, Arsyad selalu memenangkannya. 

Yordan menghembuskan asap rokok ke udara, sambil melirik pada Arsyad, "Mau lo vakum seribu tahun pun, sekalinya comeback, tetep aja gacor."  

Arsyad berdecak, "Gausah lebay." dercaknya sambil meletakkan stik biliar di tangan Yordan, "abis ini gue mau cabut, lo balik juga gih."

Yordan melongo, sementara Afil, Yuda dan Pino saling pandang. 

"Yaelah Syad, baru juga dua puluh menit lo di sini njir," Yordan kini bergegas mendekati Arsyad yang sudah duduk di sofa. 

Sembari merokok, Arsyad menatap Yordan dengan tajam, "Udah hampir dua jam gue di sini, lo pikun atau gimana?" 

Tiga temannya ikut duduk, tampak menyudahi permainan biliar mereka. 

"Udah biarin aja, Arsyad kan bukan bujangan kayak kalian, dia udah punya istri yang harus di urus," Afil membela. 

"Ajak Alsha ke sini aja, pasti seru." Yuda menimbrung, membuat semua mata tertuju padanya, sontak Yuda terdiam sejenak, lalu ia terkekeh, "Gue salah ngomong kah?" 

"Yud, mending lo godain noh dua cewek di ujung, cantik-cantik pula, rugi kayaknya kalo di anggurin..." saran Pino sambil melirik dua perempuan di sudut ruangan yang sejak tadi tampak melirik ke arah mereka, lebih tepatnya, mata dua perempuan itu tertuju pada Arsyad yang sedang asik merokok. 

Yuda terkekeh lagi, "Bagus juga saran lo, tapi sorry gue udah punya gebetan, gue gak mata keranjang kayak lo,"

"WAHH..." Yordan bertepuk tangan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Yuda, "Anjay lo Yud, lo benar-benar panutan gue, sejak kapan lo pinter ngomong gini, tapi sorry nih, kalo dibandingin antara lo sama Pino, lo yang lebih anjing dari dia Yud, udah berapa korban yang lo tinggalin? Hah?" jelas Yordan tampak heboh dan puas. 

"BAHAHAHAHAKKH..." Pino ikut puas tertawa melihat Yuda yang terdiam. 

"Kalo ada Deorry di sini, dia pasti belain gue," ucap Yuda lemas. 

"Berharap apaan lo sama bocah ingusan itu?" ucap Yordan meremehkan. 

"Eh, apa alasan tuh anak gak ke sini?" tanya Afil. 

"Biasalah, udah pasti bokap nyokapnya yang melarang dia, apalagi kalo tuh anak udah bawa-bawa nama kita," jawab Pino. 

Yordan terkekeh, "Nama kita udah jelek di mata orang tua Deorry,"

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang