CHAPTER 57

6.1K 232 183
                                        

HAPPY READING SEMUA❤

JGN LUPA KASIH BINTANG YAA✨

SIAPIN CEMILAN DAN MUSIK YANG MENYENTUH KALO MAU BACA, KARENA INI BENERAN SUPER PANJANGGG🥺



###



Alsha hanya bisa mengikuti ke mana Mahen membawanya pergi. Genggaman tangan laki-laki itu terasa tegas namun lembut, seolah ia ingin memastikan gadis itu tetap berada di dekatnya. Langkah mereka terus beriringan, kaki Alsha bergerak mengikuti tarikan pelan Mahen menuju ke sebuah tempat, ia benar-benar tak tahu ke mana Mahen akan membawanya pergi, sesekali Alsha menatap ke belakang berharap ia melihat Arsyad, namun nihil, ia tak melihat laki-laki itu disekitarnya.

"Lo mau bawa gue pergi ke mana?" tanya Alsha kebingungan.

"Ke tempat yang mungkin gak akan buat lo sedih lagi," jawab Mahen yang fokus menatap jalanan, kini mereka sudah berada di luar area kampus. 

"Lo tau gue lagi sedih dari siapa? Pasti Fika ya?" tebak Alsha. 

"Iya, awalnya dia panik karena lo keluar dari kelas dan menghilang, untungnya gue nemuin lo," 

"Sekarang di mana Fika?" 

"Paling ke perpus, dia nyangkanya lo ada di sana."

Alsha menghela napas, ia merasa sudah merepotkan teman-temannya hanya karena masalah dirinya.

Ia jadi merasa bersalah. 

"Lo laper gak?" tanya Mahen yang kini berhenti melangkah, mereka berdua berada di pinggir jalan, sesekali Mahen mengecek ponselnya, ia sekarang sedang memesan taksi online. 

"Gue gak laper, gue cuma lagi banyak pikiran aja," jawab Alsha pelan sambil menatap ke arah lain.

Semakin erat tangan Mahen memegang jari jemari Alsha, ia tambah khawatir pada perempuan ini.

Tak lama kemudian, taksi berhenti tak jauh dari mereka, seketika itu pula membuat Alsha terdiam, lalu menatap Mahen yang kini mengisyaratkannya agar segera naik ke mobil tersebut tanpa mengatakan apapun. 

"Mau ke mana? Suami gue bentar lagi sampai di kampus, gue gak bisa ikut lo, sorry..." Alsha berusaha melepaskan tangannya dari Mahen, namun dengan gerakan cepat, Mahen menariknya sedikit kasar, lalu membawanya ke dekat mobil itu, membuka cepat pintunya dan langsung mendorong Alsha masuk ke dalam. 

Alsha terduduk syok dikursi mobil, ia diam dalam waktu yang agak lama. Ya, baru saja Mahen menarik dan memaksanya seperti sedang menculiknya. Kemudian, laki-laki itu ikut masuk juga dan duduk di sampingnya dengan tampang santai.

"Jalan, Pak." ucap Mahen pada sopir itu, lalu ia melirik Alsha yang terlihat masih syok, "santai aja kenapa sih." ujarnya.

Mobil itu bergegas pergi meninggalkan daerah kampus mereka, kemudian Mahen menatap Alsha yang masih diam, membuatnya menghela napas dan menyesali perbuatannya. "Maaf ya Sha, gue gak bermaksud buat maksa lo tadi, niat gue tulus, gue pengen bantu lo supaya lo gak banyak pikiran lagi," ujarnya berusaha menenangkan Alsha. 

"Arsyad bisa nenangin istrinya dan gak perlu bantuin siapapun buat ngelakuin hal ini. Mahen, gue gak mau lo berurusan sama suami gue nantinya, lo tau kan Arsyad itu gimana? Jangan sampai lo kena masalah hanya karena hal begini!" tegas Alsha menatap jelas wajah Mahen, berusaha memperingati. 

Mahen tersenyum santai, "Gue gak takut. Gue cuma pengen lo keluar dari kesedihan lo, udah itu aja." jawabnya.

Mulut Alsha benar-benar tak bisa mengatakan apapun lagi, ia menatap ke arah lain dan tak habis pikir dengan semua jawaban Mahen, laki-laki ini tampak tidak takut sama sekali.

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang