CHAPTER 36

12.5K 301 126
                                        

VOTE SEBELUM MEMBACA🙏🏻❤️

HAPPY READING YA

•••




Arsyad dan Alsha kini sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk memulai perjalanan menuju ke rumah yang akan mereka tinjau. Jika Alsha merasa nyaman dengan rumah dan lingkungan sekitarnya nanti, mereka berdua berencana untuk pindah ke sana.

Tentu saja Arsyad tak bisa melihat Alsha yang terus-terusan di sudutkan oleh orang-orang di rumah, namun sebenarnya tak hanya itu, rencana ingin pindah sudah Arsyad rencanakan jauh sebelum ia menikah. Tentu saja karena ia sudah tidak nyaman tinggal di rumah kakeknya, ia terus saja di tekan oleh keluarganya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Arsyad tak bisa menahannya lagi, ia ingin segera keluar dari sana. Ia benar-benar tak mau di atur lagi oleh mereka. Ia ingin bebas dengan apa yang ia inginkan.

Karena ia sudah memiliki Alsha di sisinya, ia yakin keluarganya tak akan menahan dirinya lagi.

"Jauh ya?" tanya Alsha membuka topik percakapan.

"Nggak juga," jawab Arsyad yang tampak fokus menyetir. Namun, satu tangannya kini menggenggam tangan Alsha, seperti tak ingin lepas.

Ponsel Alsha bergetar, sebuah pesan masuk. Perlahan Alsha melepaskan tangan Arsyad yang masih menggenggam. Arsyad meliriknya.

Alsha mengambil ponsel dan membaca pesan itu.

"Kenapa?" tanya Arsyad penasaran.

"Ibu Rika nanya, kita mau ke mana? Aku harus jawab apa?"

"Jawab aja mau ke kampus,"

Alsha mengangguk dan segera membalas pesan tersebut.

"Kalo bisa dalam bulan ini kita pindah,"

Alsha melirik Arsyad, "Emangnya gak apa-apa sama kakek?" tanya Alsha yang sudah mengerti bagaimana kakek Ardi.

"Soal mereka biar aku yang urus,"

Alsha terlihat menghela napas dan segera menatap ke kaca jendela di sampingnya, Arsyad tahu pasti Alsha sedang gelisah dengan semuanya.

"Tenang aja, jangan khawatir tentang apapun, aku yang bakal urusin, aku selama ini udah nahan buat gak keluar dari rumah itu, tapi yang ada mereka makin semena-mena,"

Bisa Alsha lihat, Arsyad terlihat frustasi dan berusaha menahan emosinya. Dengan cepat, Alsha memberanikan diri mencium pelan pipi Arsyad. "Apapun keputusan kamu, aku dukung." Alsha menutup mulutnya dan mencoba menjauh sedikit dari Arsyad, kenapa ia seberani ini?

Dengan cepat, Arsyad menarik tangan Alsha hingga perempuan itu menabrak dada bidang suaminya, "Arsyad, lepasin, lihat jalan, bahaya!"

Arsyad tidak punya rasa takut, ia sesekali melihat jalan dan sesekali menatap Alsha, dengan cepat ia langsung mencium paksa bibir perempuan itu, sebisa mungkin Alsha mendorongnya.

"Hmmmmmhhh..." akhirnya Alsha melepaskan dirinya dari Arsyad.

"Kamu yang mancing aku, kan?"

Alsha memilih mengabaikan Arsyad, kini bibirnya terasa sakit.

Melihat Alsha yang diam, Arsyad kembali mengenggam tangan perempuan itu dengan wajah tampak merasa bersalah, "Maaf ya, aku ke bawa emosi tadi. Tapi bukan emosi ke kamu, Alsha." jelas Arsyad.

ARSYADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang