JANGAN LUPA VOTE YAAA
HAPPY READING!
•••
Cahaya bulan purnama menerangi Arsyad dan Alsha yang sedang berjalan di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi, menuju area parkir mobil. Suasana hening hanya diselingi oleh gemerisik langkah mereka dan desau angin yang berhembus lembut. Seandainya bukan karena desakan Alsha, Arsyad mungkin tidak akan memeriksakan lukanya ke rumah sakit. Selama ini, ia merasa baik-baik saja setelah berkelahi tanpa perlu penanganan medis. Namun, kali ini, kekhawatiran Alsha yang begitu besar membuat ia akhirnya bersedia memeriksakan diri ke dokter.
Di balik sikapnya yang keras, Arsyad tahu betul bahwa kepedulian Alsha adalah bentuk kasih sayang yang tak bisa ia abaikan begitu saja.
Alsha merasa lega saat dokter tadi mengatakan bahwa tidak ada luka serius yang di alami oleh Arsyad. Dokter itu hanya memberikan beberapa obat, termasuk salep agar lukanya cepat kering dan memudar.
Kini mereka masuk ke dalam mobil.
"Aku minta maaf ya, kita gagal dinner di luar,"
"Tadi kita kan udah dinner di kost kak Ghaidan," jawab Alsha.
"Beda sayang," Arsyad memajukan tubuhnya dan memasangkan seatbelt ke tubuh Alsha, membuat Alsha terdiam mematung karena jarak mereka begitu sangat tipis. Dapat Alsha rasakan wangi maskulin pada tubuh suaminya.
Arsyad melirik Alsha dengan jarak yang belum beranjak, perlahan ia mengecup pelan pipi Alsha, membuat Alsha langsung menunduk malu.
Terjadi hening beberapa saat. Kemudian Arsyad beranjak, ia langsung memasang seatbelt ke tubuhnya, "Next time kita dinner di luar ya," ucap Arsyad sambil menyalakan mesin mobil,
Alsha tersenyum, dan perlahan mobil itu pun melesat ke jalanan.
Alsha kembali ingat dengan ucapan Arsyad sewaktu di kost Ghaidan tadi, namanya sudah terdata di kampus? Kenapa bisa secepat itu? Sepertinya kakek memakai orang dalam.
"Arsyad, kamu gapapa kan kalo aku kuliah?"
Hening pun muncul kembali, membuat suasana yang awalnya biasa-biasa saja kini menjadi mencengkram. Alsha menatap ke kaca jendela di sampingnya, ia memejamkan perlahan matanya, sepertinya Arsyad benar-benar tidak suka jika dirinya kuliah. Lihatlah, laki-laki itu bahkan tidak menjawabnya. Apakah Arsyad marah?
Tiba-tiba mobil itu menepi ke arah pom bensin, lalu berhenti. "Bentar,"
"Mau ke mana?" tanya Alsha cepat saat melihat Arsyad akan keluar.
"Mau pipis, kenapa? Mau ikut?" tanya Arsyad.
Alsha sedikit kaget, lalu ia menggeleng cepat, "Yaudah cepet sana,"
Arsyad keluar dari mobil, lalu bergegas menuju toilet umum yang ada di belakang pom bensin.
Beberapa menit kemudian, dapat Alsha lihat, Arsyad keluar dari toilet itu, lalu laki-laki itu berjalan menuju ke mini market yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Arsyad masuk ke dalam mini market itu.
Cukup lama Alsha menunggunya, hingga akhirnya Arsyad keluar dari mini market sambil membawa sebuah plastik besar di tangannya. Alsha menyipitkan matanya, "Dia beli apa?"
Arsyad masuk ke dalam mobil, "Apa itu?" tanya Alsha penasaran.
"Buat kamu, cemilan," jawab Arsyad sambil menyerahkan plastik itu pada Alsha.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSYAD
Roman d'amourAnak tunggal dari keluarga konglomerat. Mahasiswa tampan & pembuat onar dengan segala pesonanya kini terpaksa menerima perjodohan dengan seorang gadis polos dari desa yg baru saja lulus SMA. Apakah Arsyad adalah korban perjodohan selanjutnya setelah...
