Embun yang semula tenang di ujung dedaunan pagi itu akhirnya luruh tanpa sempat memilih nasibnya sendiri, diguyur derasnya hujan yang turun seolah langit sedang melampiaskan sesuatu yang terlalu lama ia pendam, dan di antara jatuhnya butir-butir air itu aku berdiri sebagai saksi yang tak pernah diminta, merasakan dingin yang menyusup hingga ke dalam pori-pori kulit, sementara pikiranku mengembara jauh menelusuri jejak-jejak yang pernah kita tinggalkan, seperti bayangan samar yang tak lagi memiliki bentuk utuh namun tetap terasa hadir di setiap sudut kesadaran.
Pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja diregangkan untuk memberiku ruang merenung, dan tanpa kusadari aku telah menghabiskan puluhan batang rokok sehari sebelumnya, lebih dari tiga puluh enam batang yang kuhisap bukan sekadar untuk mengisi kehampaan, melainkan sebagai pelarian yang tak pernah benar-benar membawaku pergi, karena setiap kepulan asap justru membentuk wajahmu di udara, melukis ulang kenangan yang berusaha kuhapus, namun selalu kembali dengan cara yang lebih halus dan menyakitkan.
Angin datang tanpa aba-aba, berhembus membawa pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan, menyentuh dinding batinku yang telah lama retak oleh pergulatan pikiran, dan aku hanya terdiam, mencoba memahami bahasa yang tak bersuara itu, seperti seseorang yang membaca kitab tanpa huruf, mengandalkan rasa untuk menerjemahkan makna, namun justru tersesat di antara kemungkinan-kemungkinan yang tak berujung.
Aku mulai berpikir tentang kehidupan sebagai sebuah mekanisme yang utuh, seperti pohon yang akarnya menjalar dalam diam, menopang batangnya tanpa pernah mengeluh, menyerap mineral dari tanah yang gembur untuk tetap berdiri, dan entah mengapa aku merasa jauh lebih rapuh dibandingkan makhluk yang bahkan tak memiliki kesadaran seperti kita, karena manusia sering kali terlalu sibuk mempertanyakan arah hingga lupa bagaimana cara bertahan.
Asap rokok yang keluar perlahan dari bibirku kembali menari, membentuk garis-garis tipis yang sekejap kemudian hilang, seperti janji-janji yang pernah kita ucapkan dengan penuh keyakinan, namun tak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh, dan aku hanya bisa tersenyum tipis menyadari bahwa segala sesuatu yang kita anggap abadi ternyata begitu mudah larut oleh waktu.
Aku teringat pada bulan Juni, pada saat semuanya masih terasa sederhana dan ringan, ketika kita masih bisa tertawa tanpa beban, ketika dunia belum memperlihatkan sisi getirnya, dan ketika cinta terasa seperti sesuatu yang tak perlu dipertanyakan, namun kini semua itu hanya tinggal serpihan yang berserakan di dalam ingatan, tak lagi utuh, tak lagi sama.
Nama Sapardi Djoko Damono tiba-tiba melintas di benakku, membawa serta potongan-potongan makna tentang cinta yang sederhana, tentang kata yang tak sempat diucapkan, tentang hujan yang menjadi saksi tanpa suara, dan aku pun tersadar bahwa kesederhanaan yang selama ini kuanggap mudah ternyata menyimpan kedalaman yang tak pernah benar-benar kupahami.
Aku mencoba membayangkan dirimu di suatu tempat yang jauh dari jangkauanku, mungkin sedang tersenyum, mungkin sedang menatap langit yang sama, atau mungkin justru sedang berusaha melupakan semua yang pernah kita jalani, dan bayangan itu membuat dadaku terasa sesak, bukan karena kehilangan semata, tetapi karena ketidakpastian yang terus menggantung tanpa jawaban.
Daun-daun di halaman mulai berguguran satu per satu, jatuh tanpa perlawanan, seolah menerima takdirnya dengan lapang, dan aku kembali merasa iri pada kesederhanaan itu, karena manusia selalu ingin melawan bahkan ketika tahu bahwa pada akhirnya ia akan kalah, seolah ada ego yang terlalu besar untuk sekadar menerima.
Aku menunduk, memperhatikan ujung sepatuku yang mulai basah oleh genangan air, menyadari bahwa hujan telah mencapai batas yang tak bisa kuhindari, seperti kenangan tentangmu yang selalu menemukan jalan untuk kembali, tak peduli seberapa jauh aku mencoba melangkah menjauh.
Aku memejamkan mata sejenak, berharap menemukan ketenangan di balik gelap yang tercipta, namun yang datang justru sunyi yang semakin bising, suara-suara kecil dari dalam diri yang saling bertabrakan, menuntut jawaban yang tak pernah benar-benar ada, membuatku semakin tenggelam dalam labirin yang kubangun sendiri.
Aku bertanya pada diriku, apakah mencintaimu memang seberat ini, atau aku saja yang terlalu dalam menaruh harapan, hingga ketika semuanya runtuh aku tak lagi memiliki pegangan untuk kembali berdiri, dan pertanyaan itu terus berulang tanpa pernah menemukan titik akhir.
Hujan masih turun dengan ritmenya sendiri, tak peduli pada siapa pun yang merasakannya, dan aku mulai menyadari bahwa dunia tidak pernah berhenti hanya karena satu kisah berakhir, bahwa kehidupan tetap berjalan dengan atau tanpa kehadiran seseorang, dan kesadaran itu perlahan menamparku dengan lembut namun pasti.
Aku menghembuskan napas panjang, mencoba melepaskan beban yang selama ini kupikul, meskipun aku tahu tak semua bisa hilang dalam sekali hembusan, karena beberapa hal memang diciptakan untuk tinggal lebih lama, untuk mengajarkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Asap terakhir dari rokokku kuhembuskan perlahan, membiarkannya larut bersama udara yang lembap, lalu kulemparkan puntung itu ke genangan air dan melihat bagaimana api kecilnya padam seketika, seperti kisah kita yang berakhir tanpa banyak suara, tanpa ledakan, hanya sebuah diam yang panjang.
Aku berdiri lebih tegak, merasakan hujan menyentuh wajahku tanpa berusaha menghindar, seolah ingin membiarkan semuanya mengalir begitu saja, tanpa perlawanan, tanpa penyangkalan, karena mungkin inilah satu-satunya cara untuk benar-benar melepaskan.
Dalam diam itu, aku mulai memahami bahwa tidak semua yang hilang harus dicari kembali, dan tidak semua yang pernah kita miliki harus kita pertahankan, karena ada kalanya melepaskan justru menjadi bentuk keberanian yang paling jujur.
Hari itu aku memilih untuk berjalan, meskipun langkahku masih terasa berat, meskipun bayanganmu masih sesekali muncul di antara keramaian pikiranku, namun setidaknya aku mencoba untuk tidak lagi berhenti di tempat yang sama.
Dan di tengah hujan yang masih turun tanpa henti, aku menyadari satu hal yang sederhana namun sulit diterima, bahwa pada akhirnya bukan tentang siapa yang pergi, melainkan tentang siapa yang mampu tetap melanjutkan perjalanan, meski harus melakukannya seorang diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Ficción GeneralAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
