Bagian Ketiga

3 1 0
                                        

Lambaian tangan itu seolah mengisyaratkan sesuatu yang tak mampu kuterjemahkan dengan kata-kata. Aku melangkah menyusuri jalan menuju sekolah dengan pikiran yang masih dipenuhi bayangan Ann. Khayalan-khayalan kecil berbaris rapi di sepanjang jalan pikiranku, seolah setiap langkah yang kuambil selalu beriringan dengan bayangannya. Udara pagi Surabaya terasa segar ketika aku tiba di halaman Hogere Burger School. Sekolah itu berdiri megah seperti biasa, dinding putihnya memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut.

Aku melangkah masuk dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Hari itu terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Entah karena pagi yang cerah atau karena lambaian tangan Ann tadi. Aku berjalan menuju kelas tempat kami menimba ilmu, sementara suara langkah para murid menggema di koridor panjang. Beberapa orang berbicara dengan nada santai sebelum pelajaran dimulai, sedangkan aku duduk di kursiku sambil menyiapkan buku dan alat-alat yang diperlukan.

Hari itu pelajaran pertama adalah kesenian. Guru kami menjelaskan tentang tafsir objek dan bagaimana mewujudkannya di atas kanvas. Sebuah kanvas putih diletakkan di hadapanku, kosong dan tenang, menunggu disentuh oleh warna dan imajinasi. Di sampingnya terdapat kuas dan cat air yang seolah tak sabar menunggu giliran. Aku memandang kanvas itu cukup lama, seolah mencoba mencari sesuatu yang pantas untuk digambarkan, padahal sebenarnya aku sudah tahu apa yang ingin kulukis.

Perlahan aku mengambil kuas kecil yang terasa ringan di tanganku. Aku mulai membuat sketsa awal. Garis pertama kutarik perlahan, kemudian garis kedua mengikuti dengan hati-hati. Aku membentuk garis dasar yang membagi ruang kanvas seperti arah mata angin. Tanganku bergerak perlahan, sementara keringat mulai membasahi dahiku. Aku tidak tahu mengapa lukisan sederhana itu membuatku begitu tegang, mungkin karena aku tidak sekadar melukis sebuah objek, melainkan sedang mencoba melukis seseorang.

Goresan demi goresan mulai muncul di atas kanvas. Aku memejamkan mata sesaat, membiarkan ingatanku bekerja. Kupercayakan wujudmu pada ujung kuas kecil itu, Ann. Setiap garis kuusahakan mendekati bayangan yang tersimpan dalam pikiranku. Perlahan bentuk wajah mulai terlihat, garis rambut mulai mengalir di atas kanvas, dan warna mulai hadir satu per satu.
Cat air menyentuh permukaan kanvas dengan lembut. Kucoba mengingat warna matamu, mengingat kembali cahaya yang pernah kulihat di sana. Dengan hati-hati kutuangkan warna itu, seolah aku sedang menuliskan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Waktu berjalan tanpa kusadari, suara di dalam kelas semakin samar bagiku, karena aku tenggelam sepenuhnya dalam lukisan itu.
Dua jam lima belas menit berlalu begitu saja. Selama itu pula aku membiarkan bayanganmu hidup di atas kanvas. Kuas kecil itu akhirnya berhenti bergerak. Aku memandang hasilnya dengan diam. Kanvas polos itu kini menjelma menjadi wujud dua dimensimu. Aku tersenyum kecil, seolah lukisan itu menyimpan rahasia yang hanya aku pahami.

Wujudmu terasa begitu dekat, seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku berjalan melewati lampu-lampu jalan, bayangan itu muncul kembali, seolah cahaya memanggil ingatan tentang dirimu. Namun ketika aku berdiri di dalam gelap, bayangan itu terasa lebih nyata, seolah engkau memelukku dari belakang, Ann, menyelinap dalam kesunyian tanpa suara.

Tidak mudah bagiku meninggalkan bayangan itu. Ia hadir dalam heningnya malam, hidup dalam sunyinya siang, dan berdiam dalam tenangnya sore. Semua terasa dipenuhi oleh keberadaanmu. Bel sekolah akhirnya berbunyi, tanda bahwa waktu belajar telah selesai.

Aku mengangkat kakiku meninggalkan ruang kelas. Langkahku menyusuri beranda sekolah yang panjang. Mataku mencari sesuatu yang sebenarnya sudah kukenal, namun aku tidak menemukanmu di sana. Aku mencoba melihat ke setiap sudut halaman, tetapi bayanganmu tidak hadir dalam penglihatanku.
Langkahku semakin menjauh dari sekolah. Aku melewati gerbang yang tadi pagi kulewati dengan perasaan gembira, lalu berbelok ke kanan menuju jalan pulang. Sepanjang perjalanan aku masih mencari dirimu, bukan dengan mata, melainkan di sela-sela ingatan yang terus bekerja.

Aku akhirnya mengerti sesuatu. Bahwa wujud fisikmu mungkin hanya hadir sesekali, namun jiwamu tinggal lebih lama di dalam pikiranku. Kerinduan itu tidak memiliki bentuk yang jelas, tetapi rasanya begitu nyata.
Dengan senyum kecil aku melanjutkan langkah pulang. Di dalam pikiranku aku memasuki kawasan rindu dan di sana aku berjalan bergandengan tangan denganmu, Ann.

Sementara itu alunan musik Yiruma seolah menemani pikiranku. Nada-nadanya membuatku memikirkan hal-hal yang belum kuketahui tentang dirimu, tentang rahasia yang mungkin belum pernah kau ceritakan, tentang cerita hidupmu yang masih tersembunyi. Dan di beranda sekolah itu, pada suatu sore yang sunyi, aku kembali menyadari satu hal: semakin lama aku mengenalmu, Ann, semakin banyak pula hal tentang dirimu yang ingin kupahami.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang