Bagian yang Hilang (part 4)

2 2 1
                                        


Pagi hari di rumah itu selalu dimulai dengan suara Raisa yang riang, berlarian kecil dari kamar ke dapur, membawa cerita-cerita sederhana tentang mimpi semalam atau tentang burung yang ia lihat di halaman. Ratna menyambutnya dengan senyum yang tak pernah dibuat-buat lagi. Ia telah terbiasa, bukan hanya dengan kehadiran Raisa, tapi dengan peran yang diam-diam telah ia terima sepenuhnya. Ia menyisir rambut Raisa setiap pagi, mengikatnya dengan pita kecil, lalu mengantar ke sekolah dengan langkah yang ringan, seolah dunia tak pernah menyimpan rahasia di balik punggung mereka.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai. Sesuatu yang menunggu, seperti hujan yang menggantung di langit tanpa jatuh. Ratna sering merasakannya di sela-sela kesibukan, dalam jeda napas yang terlalu panjang, dalam tatapan kosong yang tak ia sadari. Ia tahu, sekuat apapun ia membangun kehidupan ini, ada satu bagian yang tetap rapuh—bagian yang bernama Annalise.

Sore itu datang seperti biasa, dengan cahaya matahari yang mulai condong ke barat, menyusup lewat celah-celah jendela dan jatuh di lantai ruang tamu. Raisa sedang bermain di halaman, menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kecil, tertawa sendiri seolah dunia hanya miliknya. Ratna berdiri di ambang pintu, memandangi anak itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Hangat, namun juga perih.

Dan di saat itulah, angin membawa sesuatu yang berbeda.
Langkah kaki itu pelan, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat Ratna menoleh. Sosok itu berdiri tidak jauh dari pagar kayu yang mulai usang, dengan tubuh yang tampak lebih kurus, wajah yang pucat, dan mata yang menyimpan kelelahan yang dalam. Rambut pirangnya jatuh tak serapi dulu, dan anting merah delima yang dulu selalu berkilau kini tampak redup di telinga kirinya.

“Ann…” suara Ratna nyaris tak keluar, seperti tertahan oleh sesuatu yang telah lama ia pendam.
Annalise tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap, lama, seolah memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. Lalu satu langkah diambil, pelan, mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa helaan napas.

“Aku kembali,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih, hampir pecah di ujung kata.

Ratna tak bergerak. Ia hanya menatap balik, mencoba menahan gelombang yang tiba-tiba menghantam dadanya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, dan kini semua yang ia sembunyikan berdiri di hadapannya, hidup, nyata, dan membawa kembali segala yang telah ia coba lupakan.

Raisa masih bermain, tak menyadari apa yang sedang terjadi di baliknya. Dunia kecilnya masih utuh, belum tersentuh oleh retakan yang kini mulai terbuka perlahan.

“Dia…” Annalise menoleh ke arah Raisa, matanya langsung berkaca-kaca. Kata-katanya terhenti, seolah tak sanggup melanjutkan.

Ratna mengangguk pelan. “Dia baik,” jawabnya singkat, namun penuh arti.

Keheningan jatuh di antara mereka. Hanya suara angin dan tawa kecil Raisa yang mengisi ruang yang terasa terlalu sempit untuk dua hati yang sama-sama penuh.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” ujar Annalise akhirnya, menunduk. Tangannya gemetar, jari-jarinya saling menggenggam seperti mencari kekuatan. “Aku pikir aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri… aku pikir aku cukup kuat.”

Ratna menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ia menunggu, seperti selama ini ia menunggu sesuatu yang tak pernah datang.

“Tapi aku salah,” lanjut Annalise, suaranya mulai bergetar. “Aku lari… aku sembunyi… aku biarkan kamu menanggung semuanya.” Air matanya jatuh satu per satu, tanpa bisa ia tahan lagi. “Dan sekarang aku kembali… dengan tangan kosong.”
Ratna menarik napas panjang. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, begitu banyak luka yang ingin ia ungkapkan, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Ia hanya berdiri, diam, membiarkan Annalise menyelesaikan kata-katanya.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang