Bagian Buram

0 1 0
                                        

Ann, violin itu masih berdenyut di dalam ingatanku. Getarannya tidak pernah benar-benar berhenti, seolah nadinya menyatu dengan nadimu. Setiap dentingnya seperti memanggil namamu pelan, berulang-ulang tanpa lelah.
Aku sering bertanya dalam diam, kapan kau akan kembali, Ann. Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar menemukan jawaban, hanya menggantung di antara waktu yang terus berjalan. Namun anehnya, aku tidak pernah berhenti menunggu.

Tarianmu selalu hadir dalam mimpiku. Gerakmu yang lembut, langkahmu yang ringan, semuanya terukir begitu jelas, seolah mimpi itu lebih nyata daripada kenyataan yang kujalani setiap hari.
Waktu berjalan tanpa menoleh ke belakang. Hari demi hari, tahun demi tahun, hingga akhirnya tujuh puluh lima tahun berlalu sejak pertama kali aku mengenalmu. Usia yang panjang untuk sebuah penantian, namun bagiku waktu itu hanya terasa seperti satu tarikan napas yang panjang.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah perjalanan kita selama ini sia-sia. Apakah semua yang pernah kita jalani hanya akan berakhir sebagai kenangan yang memudar perlahan. Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, hatiku selalu menolak untuk percaya.

“Kau akan menemuiku, bukan?” bisikku pelan.
Aku masih duduk di beranda rumah yang sama. Rumah yang menjadi saksi awal dan akhir dari segala hal yang pernah kulalui. Kursi kayu tua itu masih setia menopang tubuhku, meskipun waktu telah menggerogoti kekuatannya.

“Aku akan menunggu di sini,” kataku pada angin yang lewat.
Angin itu tidak menjawab, tetapi ia membawa sesuatu yang membuatku tetap percaya. Mungkin harapan, mungkin juga sekadar ilusi yang tidak ingin kulepaskan.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, aku kembali mengingatmu. Ingatan itu datang tanpa diundang, seperti biasanya. Namun kali ini terasa berbeda, lebih hidup, lebih nyata.

Aku membayangkanmu sedang berdiri di depan kanvasmu. Kuas kecil di tanganmu bergerak perlahan, menari mengikuti imajinasi yang kau tuangkan dalam warna-warna yang lembut.
“Ann…” panggilku dalam hati.
Kau tidak menjawab.
Namun aku tahu kau mendengarnya.
Dalam bayanganku, kau menghentikan lukisanmu. Kuas itu perlahan kau letakkan di samping kanvas, seolah ada sesuatu yang lebih penting yang harus kau lakukan.
Kau menoleh ke arah yang tidak dapat kulihat.

Lalu kau tersenyum.
Senyum yang sama seperti dulu.
Senyum yang selalu berhasil membuatku lupa pada segala hal.

“Kau memanggilku?” katamu pelan dalam bayanganku.
Aku tersenyum.
“Aku selalu memanggilmu, Ann.”
Kau melangkah meninggalkan kanvasmu. Setiap langkahmu terasa ringan, seolah waktu tidak pernah menyentuhmu.
Aku memandangmu semakin dekat.
Semakin nyata.
Hingga akhirnya kau berdiri di hadapanku.
Tanpa jarak.
Tanpa batas.
“Petik violin itu,” katamu sambil menatapku lembut.
Aku menoleh ke arah violin yang tergeletak di samping kursiku. Sudah lama aku tidak menyentuhnya. Namun hari itu terasa berbeda.

Aku mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Kau masih menatapku.
Seolah menunggu sesuatu.
“Untukmu,” kataku pelan.
Aku mulai memetik senarnya. Nada pertama terdengar pelan, lalu nada kedua menyusul. Perlahan melodi itu mengalir, membentuk sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
Namun aku tahu satu hal. Semua itu untukmu.

Angin berhembus pelan, membawa nada-nada itu ke arah yang tak terlihat. Dan di dalamnya, aku merasakan kehadiranmu.
Kau mulai bergerak. Langkahmu mengikuti irama yang kuhasilkan. Tarianmu kembali hidup di hadapanku.
Gerakmu lembut.
Anggun.
Dan penuh arti.
Seolah setiap langkahmu adalah jawaban dari semua pertanyaan yang pernah kupendam.
Aku terus memainkan violin itu. Nada demi nada mengalir tanpa henti, seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan tanganku.

Di kejauhan, suara komposisi dari Johann Sebastian Bach seakan menyatu dengan alunan yang kumainkan. Aku tidak tahu apakah itu nyata atau hanya perasaanku saja, namun semua terasa begitu sempurna.

“Ann…” bisikku pelan.
Kau menoleh.
Matamu menatapku dengan penuh kehangatan.
“Aku di sini,” jawabmu.
Untuk sesaat, waktu benar-benar berhenti. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, hanya ada kita dan nada-nada yang mengalun di antara kita.

Aku terus memainkan violin itu, tidak ingin berhenti, tidak ingin kehilangan momen ini. Namun perlahan, nada itu mulai meredup, seperti senja yang perlahan tenggelam.
Tarianmu pun melambat. Langkahmu semakin ringan, hingga akhirnya kau berhenti.

Kau tersenyum sekali lagi. Senyum yang tidak pernah berubah, senyum yang selalu kusimpan di dalam ingatanku.

“Aku harus pergi,” katamu pelan.
Aku terdiam, tidak mencoba menahanmu, karena aku tahu kepergianmu bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan kita yang panjang.
“Kau akan kembali?” tanyaku.
Kau tidak menjawab dengan kata-kata, namun senyummu sudah cukup.
Perlahan, kau menghilang, seperti bayangan yang ditelan cahaya.

Aku kembali sendirian di beranda rumah itu. Violin masih berada di tanganku, namun nadanya telah berhenti.
Aku menarik napas panjang.
Dan tersenyum.
Karena aku tahu, penantian ini tidak pernah sia-sia.
Karena selama aku masih bisa memainkan nada untukmu, Ann, selama itu pula kau akan selalu kembali.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang