Bagian yang Terpisah (part 3)

2 0 0
                                        

(Bagian paling panjang)

Malam itu tidak benar-benar gelap, sebab ada sesuatu yang berdenyut di balik sunyi—sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Setelah lembar-lembar tulisan Annalise tersebar melalui jaringan bawah tanah yang diurus Wiliam, udara di sekitar mereka berubah menjadi lebih tegang, seolah dunia mulai membuka mata terhadap rahasia yang selama ini dikubur oleh keluarga Van Linde. Tulisan itu bukan sekadar cerita; ia adalah luka yang dipaksa berbicara, ia adalah sejarah yang ditarik keluar dari liang kebisuan. Dan tanpa mereka sadari, gema dari tulisan itu telah sampai ke telinga yang salah.

Pagi itu datang terlalu cepat. Annalise belum sempat benar-benar beristirahat ketika Raisa kecil mulai menangis pelan, seperti merasakan kegelisahan yang tak kasatmata. Annalise menggendongnya dengan hati-hati, mengecup keningnya, lalu berbisik lirih dalam bahasa yang hanya mereka pahami berdua, “Ik ben hier… mama is hier…” (Aku di sini… mama di sini…). Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena firasat yang menggerogoti dari dalam.

Di ruang depan, Wiliam duduk dengan wajah yang tak biasa. Matanya membaca sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Istrinya berdiri di sampingnya, memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang tiba-tiba menyusup. Ketika Annalise keluar dari kamar dengan Raisa dalam pelukan, suasana itu terasa retak.

“Ada apa?” tanya Annalise pelan.

Wiliam menatapnya, lalu menghela napas panjang. “Tulisanmu… sudah sampai ke tangan mereka.”

Sunyi.

Seolah waktu berhenti untuk beberapa detik.

“Bagaimana bisa?” suara Annalise tidak meninggi, justru semakin tenang—tenang yang berbahaya.

“Dalam jaringan bawah tanah, tidak semua orang setia,” jawab Wiliam. “Ada yang menjual informasi… dan mereka tahu ini darimu, meskipun kau menggunakan nama Blauwe Maan.”
Istrinya menambahkan dengan suara bergetar, “Ze zullen niet zwijgen…” (Mereka tidak akan diam…).

Annalise menunduk, memandang Raisa yang kini tertidur di pelukannya. Untuk pertama kalinya sejak ia melarikan diri, ketakutan itu berubah bentuk—bukan lagi tentang dirinya, tapi tentang anak kecil yang bahkan belum mengerti dunia.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku tidak bisa tinggal di sini.”

“Niet,” potong Wiliam cepat. “Dit is anders deze keer.” (Tidak. Kali ini berbeda.) “Mereka tidak hanya mencarimu… mereka akan menjadikanmu contoh.”

“Contoh untuk apa?”

“Untuk membungkam siapa pun yang berani menulis seperti dirimu.”

Hening kembali menggantung.

Namun di balik keheningan itu, sesuatu tumbuh.

Bukan ketakutan.

Melainkan tekad.

Annalise mengangkat wajahnya perlahan. Mata birunya tidak lagi sekadar menyimpan luka, tetapi juga nyala yang sulit dipadamkan. Ia berjalan menuju meja, meletakkan Raisa dengan hati-hati di atas kain yang telah disiapkan, lalu mengambil salah satu lembar tulisannya.

“Kalau mereka ingin membungkamku,” katanya pelan, “maka aku akan berbicara lebih keras.”
Wiliam menggeleng. “Dat is geen moed meer, Annalise… dat is overleven.” (Itu bukan lagi keberanian, Annalise… itu tentang bertahan hidup.)

“Tidak,” jawabnya tegas. “Ini tentang kebenaran.”

Langkahnya mendekat ke jendela. Ia membuka sedikit tirai, mengintip ke luar. Jalanan tampak biasa, terlalu biasa—dan justru itu yang mencurigakan.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang