Bagian yang Hilang (part 2)

2 2 1
                                        

Mungkin ini akan menjadi bagian paling panjang, semoga bisa menuntaskan rasa yang mengganjal.
Selamat membaca, coba kosongkan dulu gelasnya agar lebih mudah menuangkan air di dalamnya.

(***)

Malam merambat lebih dalam, menyisakan sunyi yang hangat di antara Seno dan Ratna. Lilin kecil di atas meja mulai merunduk, nyalanya menari pelan seolah ikut menyimak percakapan yang tak lagi membutuhkan kata. Seno masih menggenggam tangan Ratna, dan kali ini genggaman itu tidak sekadar bertahan—ia menetap, seperti menemukan tempat pulang yang sederhana.

Ratna menatapnya dengan mata yang lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering menyelinap di sela-sela napasnya. Ia mendekat sedikit, cukup untuk membuat jarak di antara mereka menjadi nyaris tak berarti.

“Mas…,” suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang takut mengganggu malam.

Seno tidak menjawab, tetapi matanya memberi ruang untuk Ratna melanjutkan. Ada sesuatu yang berubah dari cara ia memandang—tidak lagi mencari bayangan lain di dalam sosok yang ada di hadapannya.

Ratna mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Seno dengan ujung jemari yang dingin. Sentuhan itu sederhana, namun mengalirkan sesuatu yang lama hilang dari diri Seno—ketenangan yang tidak dibuat-buat.

“Kamu capek ya… selama ini,” ucap Ratna.

Seno menghela napas, lalu menutup matanya sejenak, membiarkan sentuhan itu menetap lebih lama. “Iya… mungkin.”

Ratna tidak menarik tangannya. Ia justru mendekat lagi, kini dahinya hampir bersentuhan dengan dahi Seno. Mereka diam beberapa saat, membiarkan detak jantung masing-masing berbicara dalam bahasa yang tak perlu diterjemahkan.

Di luar, angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di dalam, waktu seperti melambat—memberi ruang bagi dua orang yang perlahan belajar saling menerima tanpa syarat yang rumit.

Seno membuka matanya, menatap Ratna dari jarak yang begitu dekat. Untuk pertama kalinya, tidak ada bayangan lain yang menyela. Hanya Ratna, dengan segala kesederhanaannya.

“Terima kasih… sudah tetap di sini,” ucapnya pelan.
Ratna tersenyum, tipis tapi penuh arti. “Aku memang tidak pernah ke mana-mana, Mas.”
Seno mengangkat tangannya, membalas sentuhan Ratna di pipinya. Jemarinya menyusuri garis wajah Ratna dengan hati-hati, seolah takut semuanya hanya ilusi yang bisa hilang kapan saja. Namun Ratna tetap di sana—nyata, hangat, dan tidak menghilang.

Perlahan, jarak di antara mereka benar-benar lenyap. Seno meraih Ratna ke dalam pelukannya, dan Ratna menerimanya tanpa ragu. Pelukan itu tidak terburu-buru, tidak pula dipenuhi gejolak yang liar—ia hadir sebagai pertemuan dua kelelahan yang akhirnya menemukan tempat bersandar.

Ratna menyandarkan kepalanya di dada Seno, mendengarkan detak jantung yang kini terasa lebih stabil. “Aku suka suara ini,” katanya pelan.

Seno tersenyum kecil. “Kenapa?”

“Karena sekarang… tidak terdengar terburu-buru lagi.”

Kalimat itu membuat Seno terdiam. Ia memeluk Ratna sedikit lebih erat, seolah memastikan bahwa momen ini tidak akan lepas begitu saja.

Beberapa saat kemudian, Ratna mengangkat wajahnya. Tatapan mereka kembali bertemu, kali ini lebih dalam, lebih jujur. Tidak ada pertanyaan yang tersisa, tidak ada keraguan yang menggantung.

Tanpa banyak kata, Seno mendekatkan wajahnya perlahan. Ratna tidak menghindar. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan apa yang akan terjadi berlangsung dengan alami.

Dan ketika bibir mereka akhirnya bertemu, dunia di sekitar mereka seperti meredup. Tidak ada gemuruh, tidak ada ledakan perasaan yang berlebihan—hanya kehangatan yang mengalir perlahan, menenangkan, seperti hujan yang turun tanpa suara.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang