Bagian Kesembilan

1 0 0
                                        

Sore itu hujan turun dengan amarah yang tak mampu ditahan langit. Angin datang beriringan, menyerbu dinding rumahku, mengetuk-ngetuk jendela seolah ingin ikut masuk dan menyaksikan bagaimana cerita ini masih berusaha hidup. Di tengah derasnya hujan itu, sebuah lagu mengalun pelan—lagu yang entah bagaimana selalu menemukan jalannya menuju kenangan tentangmu, Annalise. Dari sanalah kisah ini kembali bergerak, dari sana pula aku kembali goyah. Namun seperti biasa, kegoyahan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain—menjadi kalimat, menjadi paragraf, menjadi candu yang mungkin saja akan terus dicari oleh mereka yang membacanya. Sudah terlalu lama dialog ini terhenti, terlalu lama aku membiarkan sunyi menguasai. Maka hari ini, di bawah hujan yang tak kunjung reda, aku kembali memanggil namamu, Ann.

(***)

Aku tahu, di balik senyummu yang tampak tenang, ada ketidaknyamanan yang terus menggerogoti. Perlakuan Robert bukanlah sesuatu yang bisa kau terima dengan lapang dada, namun anehnya, kau juga tak benar-benar menolak. Ada alasan yang tak pernah kau ungkapkan, alasan yang membuatmu tetap diam, tetap bertahan dalam lingkaran yang menyakitkan itu. Tanpa sepengetahuan Seno, kau perlahan berubah—menjadi seseorang yang berbeda, seseorang yang bahkan mungkin tak lagi mengenali dirinya sendiri. Namun di sisi lain, Seno tetap berjalan, tetap berusaha, tanpa tahu bahwa ia sedang mencoba menyembuhkan luka yang tak pernah ia lihat secara utuh.

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, berputar tanpa arah di dalam cerita ini. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Apakah itu cinta yang keliru arah? Apakah sekadar pelampiasan yang kehilangan batas? Atau mungkin, sebuah pencarian jati diri yang tersesat di jalan yang salah? Tidak ada jawaban pasti. Semua hanya kemungkinan yang terus hidup dalam kepala, menunggu untuk ditafsirkan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dan di situlah cerita ini menemukan napasnya—dalam ketidakpastian yang justru terasa nyata.

Sementara itu, waktu terus berjalan tanpa peduli pada luka yang belum sembuh. Seno kini telah memasuki tahun ketiga di HBS, berada di ambang akhir dari satu fase kehidupan yang akan segera ia tinggalkan. Ia memilih untuk melangkah maju, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, seolah ingin membuktikan bahwa hidup tidak berhenti hanya karena satu nama yang tak lagi hadir. Keputusan itu terdengar sederhana, namun di baliknya ada keberanian yang dipaksakan. Ia bangkit dari duduknya dengan membawa sisa-sisa akal yang berserakan, menyusunnya kembali meski tak pernah benar-benar utuh.

Tanpa harapan yang pasti, Seno menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia memenuhi kewajiban, mengikuti tuntutan hidup, dan perlahan membentuk kebiasaan baru. Ia mulai merokok, meniru bapaknya, seolah asap yang ia hembuskan mampu membawa pergi pikiran-pikiran yang terus menghantuinya. Delapan belas tahun hidup telah ia lalui, dan ia belajar satu hal—bahwa hidup tetap berjalan, dengan atau tanpa seseorang yang pernah menjadi pusatnya. Ia masih tertawa, meski di sela-selanya ada tangis yang tak pernah benar-benar hilang.

Kenangan itu kembali datang saat ia duduk di tepi Kali Pegirian, menatap senja yang dulu pernah ia bagi bersamamu. Di sanalah ia pertama kali mengajak seorang perempuan yang memiliki rasa yang sama, yang memandangnya dengan mata berbinar, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Namun seperti cerita yang lain, kisah itu pun berakhir. Dan di tengah perpisahan itu, muncul pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban: mengapa sesuatu yang seharusnya disatukan justru dipisahkan? Mengapa logika harus datang merusak kehangatan rasa, hingga menyisakan bara yang tak kunjung padam?

“Waarom is er scheiding tussen wezens die verenigd moeten worden in de vorm van een huwelijk? Waarom moet logica worden geaccepteerd die het hart van de smaak raakt om sintels te maken die nooit verdwijnen. Waarom?” (Mengapa ada perpisahan di antara makhluk yang seharusnya dipersatukan dalam pernikahan? Mengapa logika harus diterima ketika ia justru melukai hati dan meninggalkan bara yang tak pernah padam? Mengapa?)

Pertanyaan itu menggantung, menjadi awal dari perayaan perpisahan yang aneh—perpisahan yang tidak pernah benar-benar sembuh, namun perlahan belajar untuk hidup berdampingan dengan luka itu sendiri.

Di sisi lain, Seno mulai membangun bentengnya. Ia berjalan ke taman sekolah dengan kepala tegak, menyelimuti dirinya dengan keangkuhan yang sengaja ia ciptakan. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin ada yang membaca kekosongan di dalam dirinya. Ia duduk di bangku sudut, menghadap gerbang utama berwarna hitam yang menjadi saksi keluar-masuknya banyak cerita. Lima menit berlalu, tubuhnya mulai lelah, matanya berat, dan tanpa sadar ia terlelap.

Angin bergerak pelan, daun-daun berguguran di sekitarnya. Bunga Lily biru dan Viola Alpina seolah menjaga tidurnya, menjadi saksi bisu dari kelelahan yang tak terucapkan.

Lalu, seperti mimpi yang terlalu nyata, kau datang.

Annalise duduk di sampingnya tanpa suara. Kehadiranmu begitu tenang, begitu ringan, seolah kau tidak benar-benar menyentuh dunia ini. Seno mulai terbangun perlahan, merasakan ada seseorang di dekatnya, namun belum sepenuhnya sadar siapa yang duduk di sana. Sementara itu, kau hanya diam, mengambil selembar kertas, dan menuliskan sesuatu dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Kamu akan melihat tempat yang belum pernah kamu lihat, kamu akan lihat bahwa aku begitu mencintaimu.”
“Je zult plaatsen zien die je nog nooit hebt gezien, je zult zien dat ik zoveel van je hou.”
Annalise.

Pesan itu sederhana, namun menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Seperti janji yang belum tentu ditepati, atau seperti perpisahan yang dibungkus dengan harapan.

Dan pertanyaan kembali muncul—bagaimana mungkin kau datang hanya untuk menulis, lalu pergi tanpa menunggu ia benar-benar terbangun? Apakah ini sekadar kebetulan, atau bagian dari sesuatu yang lebih besar? Apakah kau sedang bermain peran dalam cerita yang bahkan tidak kau pahami sepenuhnya?

Namun satu hal yang pasti, kau bukan pelawak yang datang hanya untuk meninggalkan lelucon. Luka yang kau bawa terlalu nyata untuk dijadikan bahan permainan. Dan Seno… ia belum siap menerima seluruh kebenaran itu.

Tanpa menoleh lagi, kau berdiri. Langkahmu ringan, hampir tak terdengar. Kau berjalan menuju gerbang utama berwarna hitam itu, lalu berbelok ke kiri—menuju arah di mana matahari perlahan tenggelam. Senja menyambutmu, memeluk bayanganmu hingga perlahan menghilang.

Dan di saat yang sama, guntur menggelegar, seolah mengabarkan sesuatu yang tak ingin didengar—bahwa kepergianmu bukanlah kebetulan.

Hujan kembali turun.

Dan aku masih di sini, menuliskanmu.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang