Menjelang Perpisahan

2 0 0
                                        

Binar-binar itu masih melekat di pakaianmu, Ann, seakan cahaya senja menolak pulang dan memilih menetap di sana. Ia tidak sekadar singgah, melainkan meninggalkan jejak yang halus namun terasa. Dari kejauhan, pakaianmu tampak biasa, tetapi ketika kuperhatikan lebih dekat, ada sisa-sisa waktu yang menempel—bekas sore yang enggan berakhir.

Ruam-ruam kecil itu menjelma bercak yang tak terhapus. Ia menjejal dengan cara yang lirih, tanpa suara, namun cukup untuk mengganggu ketenangan yang selama ini kita bangun. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang tidak selesai, sesuatu yang terus berulang dalam diam.

Kita adalah pertemuan yang sejak awal sudah ditakdirkan untuk diuji. Di antara perhelatan yang semestinya meriah, kita justru menemukan perselisihan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya. Kita bertemu, tetapi tidak sepenuhnya hadir.

Kita berbicara, tetapi tidak benar-benar mendengar.
Kita saling memandang, tetapi tidak benar-benar melihat.
Segala sesuatu terasa setengah, seolah kita hanya memainkan peran tanpa memahami naskahnya. Bahkan ketika teknologi mempertemukan kita dalam ruang virtual, tetap saja ada jarak yang tak bisa dijembatani.

Dan akhirnya, kita memilih mengakhiri sesuatu yang bahkan belum sempat tumbuh. Keselarasan yang seharusnya menjadi dasar, justru kita hentikan sebelum ia belajar merindu.

Kita adalah tempat berteduh yang tak pernah menjadi rumah. Kita datang saat hujan turun, saling menghangatkan, lalu pergi begitu saja ketika langit kembali cerah. Tidak ada janji untuk kembali, tidak ada kepastian untuk menetap.

Di balik itu semua, ada cemas yang terus tumbuh. Ia berakar dari cemburu yang tak terucap, lalu menjalar menjadi murka yang sulit dikendalikan. Kita memeluk emosi itu seolah ia bagian dari diri kita.

Kita membiarkannya tumbuh.

Kita membiarkannya menguasai.

Dan tanpa sadar, kita kehilangan kendali.

Kita seperti belalang yang hinggap di daun talas—ringan, rapuh, dan selalu berada di ambang jatuh. Setiap langkah terasa tidak pasti, setiap gerak membawa risiko.

Namun kita tetap bertahan.

Kita tetap mencoba.

Meski tahu bahwa tempat kita berpijak tidak pernah benar-benar kuat.

Ada proses yang kita lalui bersama, namun tidak semua berhasil kita selesaikan. Ada hal-hal yang lahir dari kebersamaan itu, tetapi tidak sempat tumbuh menjadi sesuatu yang utuh.

Harapan kita berubah menjadi beban.

Impian kita berubah menjadi tekanan.

Dan perlahan, kita menjadi tawanan dari perasaan kita sendiri.

Kamboja hanya mekar sekali dalam setahun, Ann. Namun kita, kita sempat bermekaran dua kali. Itu seharusnya menjadi sesuatu yang istimewa, sesuatu yang layak dirayakan.

Namun ternyata tidak.

Karena mekarnya kita terlalu cepat.

Dan layunya pun lebih cepat lagi.

Keindahan itu hanya berlangsung sekejap. Ranumnya hilang sebelum sempat kita nikmati sepenuhnya. Kita hanya sempat merasakannya, tanpa benar-benar memilikinya.
Setelah itu, kita berubah.

Kita menjadi kepompong.

Menggantung dalam diam.

Menunggu sesuatu yang tak pasti.

Menunggu waktu yang mungkin tidak pernah datang.

Namun di balik semua itu, kita tidak hanya menciptakan luka. Kita juga melukis bahagia di sela-sela retakan yang ada. Kita tertawa, kita berbagi cerita, kita menciptakan kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja.

Ada momen di mana semuanya terasa sempurna.

Ada detik di mana dunia terasa berhenti hanya untuk kita.
Namun semua itu tidak cukup untuk menahan kita tetap bersama.

Karena pada akhirnya, luka yang kecil bisa tumbuh menjadi besar.

Dan kebahagiaan yang besar bisa hilang dalam sekejap.

Kita berharap tidak ada badai besar yang datang.

Kita berharap semuanya berjalan baik-baik saja.

Namun harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Menjelang perpisahan, kita tidak memilih tenang. Kita justru memilih ribut. Kita saling melempar kata-kata yang tajam, seolah ingin melukai satu sama lain.

Padahal, mungkin itu hanya cara kita untuk bertahan.

Atau mungkin cara kita untuk melepaskan.

Namun yang pasti, kita memperkeruh sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana.

Sejak saat itu, kita mulai terbiasa dengan kehilangan. Hari-hari berlalu tanpa kehadiran yang dulu terasa begitu penting. Waktu berjalan, membawa kita menjauh tanpa kita sadari.
Kita belajar melupakan.

Atau setidaknya, kita berpura-pura melupakan.

Namun ada hal-hal yang tidak bisa dihapus begitu saja. Seperti rindu yang tertinggal di tempat-tempat yang pernah kita datangi.

Seperti meja sederhana berukuran dua kali satu itu.

Di sana, kita pernah duduk bersama.

Di sana, kita pernah berbagi cerita.

Di sana, kita pernah merasa cukup.

Kini, tempat itu hanya menyimpan sisa.

Sisa tawa.

Sisa kata.

Sisa rasa.

Dan rindu yang tak sempat kita bawa pulang.

Ia tetap di sana, diam, menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang. Seperti kita yang pernah berharap terlalu banyak, namun berakhir dengan terlalu sedikit.

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa menerima.

Bahwa tidak semua yang indah harus bertahan.

Bahwa tidak semua yang kita jaga akan tetap ada.

Dan bahwa kita—meski pernah begitu dekat—pada akhirnya tetap menjadi dua orang asing yang pernah saling mengenal terlalu dalam.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang