Malam itu datang tanpa permisi, seperti luka yang tidak sempat dijelaskan. Kali Pegirian mengalir pelan di bawah langit yang setengah runtuh oleh gelap, membawa bayang-bayang yang tak pernah benar-benar selesai. Angin berembus lembap, menyentuh kulit dengan cara yang ganjil—seolah mengingatkan bahwa ada sesuatu yang akan hilang, atau sudah hilang, bahkan sebelum disadari. Seno berdiri di tepian, memandang permukaan air yang memantulkan cahaya bulan yang retak, seperti ingatan yang tidak utuh. Di sampingnya, Annalise berdiri diam, terlalu diam untuk ukuran seseorang yang biasanya membawa riuh dalam sunyi.
Ia tidak banyak bicara malam itu. Tidak seperti biasanya, ketika kata-kata mengalir dari bibirnya seperti puisi yang tidak selesai. Tangannya hanya menggenggam ujung gaun tipisnya, sesekali menatap ke arah air, lalu ke arah langit, seolah mencari sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh mata. Seno memperhatikannya dari samping, mencoba membaca apa yang tidak diucapkan. Namun Annalise malam itu bukanlah Annalise yang bisa dibaca. Ia seperti halaman terakhir dari buku yang sengaja disobek—menyisakan rasa penasaran yang menyakitkan.
“Ada yang berbeda,” kata Seno pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Annalise.
Annalise menoleh. Senyumnya tipis, terlalu tipis untuk disebut senyum. “Semua memang berubah, Seno.”
“Bukan seperti ini,” jawab Seno. “Kamu seperti… menjauh, bahkan saat berdiri di sini.”
Annalise tertawa kecil, namun tawanya tidak sampai ke mata. “Mungkin aku memang sedang belajar pergi.”
Kalimat itu menggantung di udara, tidak jatuh, tidak juga menghilang. Seno merasakannya seperti sesuatu yang menekan dada, membuat napasnya sedikit berat.
“Pergi ke mana?” tanyanya.
Annalise tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati tepian kali, menatap air yang mengalir seperti waktu yang tidak pernah menunggu.
“Ke tempat di mana aku tidak perlu menjadi siapa-siapa,” katanya akhirnya.
Seno mengerutkan kening. “Kamu sudah cukup dengan menjadi dirimu sendiri.”
Annalise menggeleng pelan. “Kalau sesederhana itu, aku tidak akan berdiri di sini.”
Hening kembali turun, lebih dalam dari sebelumnya. Suara air menjadi satu-satunya yang terdengar, seolah ikut menyaksikan percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Seno melangkah mendekat, berdiri di samping Annalise. “Kamu bisa cerita ke aku.”
Annalise menatapnya. Lama. Terlalu lama untuk sebuah tatapan biasa.
“Apa kamu siap mendengar sesuatu yang mungkin akan mengubah semuanya?” tanyanya.
Seno tidak ragu. “Aku sudah berubah sejak kamu datang.”
Annalise tersenyum. Kali ini sedikit lebih nyata, meski tetap menyimpan luka.
“Aku mungkin tidak bisa tinggal,” katanya pelan.
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air. Tenggelam, tapi gelombangnya terasa sampai ke tepi.
“Kenapa?” suara Seno hampir tidak terdengar.
Annalise menunduk. “Karena ada hal yang harus kuselesaikan.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Seno menggeleng. “Kamu tidak harus sendiri.”
Annalise mengangkat wajahnya. Mata biru itu berkilau, bukan karena cahaya, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.
“Aku tidak ingin kamu ikut tenggelam dalam hal yang bahkan aku sendiri belum tentu bisa keluar darinya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
General FictionAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
