Bagian Keempat

2 1 0
                                        

Maujudmu masih berkeliaran bebas di savana imajinasiku, Ann. Seolah hamparan luas di dalam pikiranku menjadi tempatmu berlari tanpa batas, meninggalkan jejak yang tak dapat kuhapuskan. Setiap kali aku mencoba menata kembali pikiranku, bayanganmu justru datang lebih jelas dari sebelumnya, seolah ia mengetahui bahwa aku tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya.

Orang-orang di sekitarku mulai memandangku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan. Ada yang sinis, ada pula yang sekadar heran. Mereka mendengar ketika aku menyebut namamu dalam percakapan, seakan aku sedang membicarakan sesuatu yang terlalu indah untuk dipercaya. Tatapan mereka membuatku bertanya-tanya dalam hati.

“Ada yang salah?” pikirku. “Ada kekeliruan? Ada perkataan yang menyinggung? Atau mungkin ada perilaku yang kurang mengenakkan?”

Aku mencoba memikirkan semua kemungkinan itu, namun semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa penyebabnya bukanlah hal-hal tersebut. Mereka hanya belum mengenalmu, Ann. Mereka belum mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.
Bagi mereka, cerita tentangmu terdengar seperti bualan seorang pemuda yang terlalu banyak berkhayal. Mereka hanya mendengar namamu dari mulutku tanpa pernah melihat wajahmu dengan mata mereka sendiri. Maka wajar jika mereka mengira aku hanya mengarang kisah tentang seseorang yang bahkan tidak pernah kutemui.

Padahal bagiku, kehadiranmu begitu nyata. Seolah kau memang dilahirkan ke dunia ini untuk menemaniku, sebagaimana kisah Nabi Adam dan Hawa yang diciptakan untuk saling melengkapi. Kadang aku berpikir, bahkan kisah Layla dan Majnun pun akan mengangguk jika melihat kita. Atau mungkin Romeo dan Juliet pernah membisikkan cerita tentang kita kepada kerabat mereka.

Semua pikiran itu kutuliskan dalam catatan harianku. Tulisan-tulisan kecil yang hanya dimengerti oleh diriku sendiri. Setiap kata yang kutulis selalu kembali kepadamu. Seolah tinta di atas kertas pun mengetahui siapa yang memenuhi ruang hatiku.

Hari mulai berganti ketika aku akhirnya tiba di rumah. Langkahku terasa sedikit terburu. Aku segera melucuti pakaian yang kupakai sejak pagi, keringat yang menempel di tubuhku membuatku ingin segera membersihkan diri.

Aku memasuki ruangan kecil berukuran tiga kali empat di belakang rumah. Lantainya masih berupa tanah yang dipadatkan. Empat batang kayu berdiri sebagai penopang, sementara dindingnya terbuat dari kayu mahoni yang menopang beban rumah sederhana itu.

Aku mengambil timba yang tergantung di dekat sumur. Perlahan kuulur tali tampar ke dalam sumber air. Tali itu kugoyangkan pelan hingga timba terisi penuh, lalu dengan tenaga yang terukur kuangkat kembali ke permukaan.

Air sumur itu terasa sangat dingin, kira-kira sekitar tiga belas derajat. Kucurahkan air itu ke sekujur tubuhku. Rasa dinginnya membuatku menarik napas panjang. Aku mengulanginya beberapa kali hingga tubuhku benar-benar bersih dari debu perjalanan.

Setelah itu aku mengambil kain untuk mengeringkan tubuhku. Perlahan kukenakan kembali pakaianku dan sarung yang biasa kupakai di rumah. Pada saat yang hampir bersamaan, Bapak tiba dari toko tempat ia berdagang.
Langkahnya terdengar pelan di beranda rumah. Aku segera menuju dapur kecil untuk menyiapkan secangkir kopi baginya. Aroma kopi hitam segera memenuhi ruangan.

Rumah kami sebagian besar terbuat dari kayu jati. Beberapa bagian menggunakan kayu mahoni sebagai ornamen pembeda. Lampu oblek menggantung di beberapa sudut rumah, memberikan cahaya redup yang hangat. Di dinding ruang tengah terpajang beberapa lukisan milik Bapak yang dibuatnya ketika waktu senggang.
Setelah menunaikan ibadah, aku kembali ke ruang kecil yang sering kusebut sebagai ruang berpikir. Di sana aku membawa segelas teh hangat. Teh itu kuseduh perlahan sambil membuka buku pelajaran yang harus kukerjakan. Namun pikiranku tidak sepenuhnya berada pada pelajaran itu. Sebagian besar pikiranku masih tertuju padamu.

Di sisi lain kota Surabaya, kau tinggal di pemukiman Eropa. Sebuah kawasan yang begitu kontras dengan pemukiman pribumi. Rumah-rumah di sana berdiri megah dengan dinding putih dan ornamen coklat khas bangunan Eropa. Jendela-jendelanya tinggi dan halaman rumahnya luas.
Rumahmu pun seperti itu. Aku bisa menggambarkannya dengan jelas hanya dari ingatan.

Annalise Dwight Rossevelt datang ke Soerabaja untuk menuntut ilmu. Tujuanmu ke sini adalah belajar di sekolah, bukan untuk mencari cinta. Tidak seperti aku yang diam-diam terobsesi oleh pesonamu.

Suatu sore aku berjalan menyusuri kawasan pemukiman Eropa itu. Langkahku terasa canggung di antara bangunan-bangunan besar yang berdiri di sana. Orang-orang Belanda berjalan dengan pakaian yang rapi dan anggun, sementara pakaianku terasa begitu sederhana di tengah mereka.

Namun aku tetap melangkah hingga akhirnya aku melihatmu berdiri di dekat taman kecil.
“Annalise, hoe gaat het met je?” sapaku sambil menepuk pundakmu pelan.
(“Annalise, bagaimana kabarmu?”)
Kau menoleh dengan senyum hangat yang selalu kukenal.
“Oh, hallo Seno. Hoe gaat het met je? Lang niet gezien op school.”
(“Oh, halo Seno. Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak melihatmu di sekolah.”)
Hatiku terasa hangat mendengar suaramu.
“Ahh, ik ga nergens heen, je bent gewoon uit mijn zicht verdwenen.”
(“Ah, aku tidak pergi ke mana-mana. Hanya saja kau yang menghilang dari pandanganku.”)
Kau tersenyum lagi. Lesung pipi kecil muncul di pipi kirimu.
“Hahaha, ik zorg nog steeds voor iets voor mijn behoeften in Nederland.”
(“Hahaha, aku masih mengurus beberapa hal untuk kebutuhanku di Belanda.”)
Aku hanya mengangguk mendengarnya. Kemudian aku berkata pelan.
“Ann, apakah kau memiliki waktu luang sore ini?”

Kau memandangku dengan rasa penasaran.
“Apa yang ingin kau lakukan?”
Aku tersenyum kecil sebelum menjawab.
“Aku ingin mengajakmu berjalan ke Kali Pegirian. Kita bisa berbincang di sana. Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Kau berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Baiklah. Aku akan menemuimu di sana.”
Pada saat itu sebuah festival kecil sedang berlangsung di pemukiman Eropa. Suara musik dan percakapan terdengar cukup bising hingga membuat telingaku penat.
“Oké, Annalise. Het is hier te lawaaierig voor mij. Sorry dat ik je te lang niet kan zien, ik moet terug naar mijn huis. Welterusten, mijn zwarte roos.”
(“Baiklah, Annalise. Tempat ini terlalu bising bagiku. Maaf aku tidak bisa berbicara lebih lama, aku harus kembali ke rumah. Selamat malam, mawar hitamku.”)
Kau tertawa kecil mendengar julukan itu.
“Ook een goede nacht, mijn prins.”
(“Selamat malam juga, pangeranku.”)

Malam itu aku berjalan pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dalam hatiku terlintas satu kalimat yang selalu ingin kukatakan kepadamu.
Ketika suatu malam aku bertemu denganmu dalam gelap, aku akhirnya mengatakannya.

“Kau adalah makhluk paling indah yang pernah kutemui.”
Kau menoleh kepadaku sambil tersenyum lembut.
Lalu kau berkata pelan, seolah menyimpan rahasia kecil di balik kata-katamu.
“Itu karena kau menemuiku dalam gelap.”

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang