Gerbang-gerbang itu tertutup rapat, Ann, seolah ufuk telah memeluk matamu dan menolak segala yang ingin masuk. Aku berdiri di hadapannya dengan tubuh yang sudah runtuh oleh dalih-dalih yang kubangun sendiri. Di tanganku, lembaran usang itu kembali kutemukan—catatan lama yang pernah kita tulis bersama. Perlahan kuusap permukaannya, seolah ingin memastikan bahwa ia masih hidup. “Apakah catatan ini masih layak?” tanyaku, bukan pada siapa-siapa, melainkan pada diriku sendiri yang mulai ragu pada ingatan.
Angin gugur di pelipis anganmu, menyentuh tanpa izin, namun meninggalkan tanda. Dari sana aku tahu, matahari sedang baik-baik saja, meski kita tidak. Di tengah hening yang kita ciptakan sendiri, kita duduk berjauhan, memeluk jarak yang tak pernah benar-benar kita pahami. Asa-asa yang dulu kita gantungkan kini terbengkalai, menggantung di antara bintang yang redup dan awan yang terlalu terang untuk dimaknai.
Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang belum selesai. Luka yang tidak sempat sembuh karena terlalu cepat ditinggalkan. Kita adalah kata-kata yang tidak pernah sampai dari awan kepada hujan—pesan yang tertahan di langit hingga akhirnya jatuh sebagai kesedihan. Kita menjadi sayu, bukan karena kehilangan, tetapi karena tidak pernah benar-benar memiliki.
Kita adalah sayap yang patah di tengah badai, Ann. Layang-layang itu memilih putus, bukan karena ia ingin pergi, tetapi karena ia ingin tetap bertahan dengan caranya sendiri. Ironis, bukan? Melepaskan demi menjaga, pergi demi tetap ada.
Dalam diam yang panjang, kita berubah menjadi barisan serdadu. Berdiri tegak, bersiap untuk perang yang tak pernah kita mulai. Granat di tangan, namun tak satu pun dilempar. Kita hanya saling menatap dari kejauhan, lalu tanpa aba-aba, kita mengibarkan bendera putih di wilayah masing-masing. Bukan karena kalah, tetapi karena lelah.
Kita pernah berharap pada tanggal-tanggal yang kini telah tumbang. Waktu yang dulu kita tandai sebagai janji, kini berubah menjadi keniscayaan yang tak bisa dihindari. Anehnya, kita tidak merasa bersalah atas kebahagiaan yang kita temukan di tempat lain. Seolah perpisahan ini memang sudah ditulis jauh sebelum kita sempat menghindar.
Kita telah usai, Ann.
Bukan hanya sebagai dua manusia, tetapi sebagai satu kisah yang pernah hidup dalam peradaban kecil yang kita ciptakan sendiri. Kini, cerita itu tertulis dalam sejarah yang perlahan menghilang, terkikis oleh waktu yang tak pernah menoleh ke belakang.
Namun hilir masih mengalir deras. Ia membasahi rahim-rahim nestapa yang kita tinggalkan, menumbuhkan sesuatu yang tak lagi kita kenali. Dari sana, aku mulai mengerti bahwa kita bukan sekadar cerita yang gagal, tetapi pelajaran yang terus berjalan.
Kita pernah belajar mengeja dunia di ruang sempit—atap tiga kali empat yang menjadi saksi bagaimana kita mencoba memahami arti hidup. Dari sana, kita mengenal rindu, luka, harap, dan kecewa dalam bentuk yang paling jujur.
Dan kini, aku berdiri di pelataran yang sama, mencoba merangkai kembali serpihan itu. Bukan untuk menghidupkan kembali apa yang telah usai, tetapi untuk memahami bahwa semua ini pernah nyata.
Bahwa kau pernah ada.
Bahwa aku pernah mencintaimu.
Dan bahwa kita—meski tak lagi bersama—pernah menjadi sesuatu yang utuh, meski hanya untuk sementara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Fiksi UmumAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
