Bagian Kesebelas

1 1 0
                                        

Senandika hari ini memilih diam, Ann. Ia seakan tenggelam bersama derasnya hujan yang mengguyur kota Surabaya tanpa jeda, tanpa peduli pada nasib orang-orang yang berjalan di bawahnya. Hujan itu jatuh dengan caranya sendiri—kadang dirindukan, kadang disalahkan. Lucu memang, ketika ia tak datang, semua orang mencarinya, memanggilnya seolah ia satu-satunya penawar rindu. Namun ketika ia hadir, ia justru dihindari, dicaci, dianggap pengganggu. “Hujan datanglah untuk menyejukkan gerah,” kata mereka. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, meski diam-diam aku juga menginginkan hal yang sama—sebuah kesejukan yang mampu meredam riuh di dalam kepala.

Di sela hujan yang tak kunjung reda itu, sosok lain perlahan mengambil tempat di ruang yang selama ini kau tempati. Namanya Ratna Tri Rahayu. Perempuan dengan tubuh proporsional, kulit sawo matang yang hangat, dan langkah yang seolah memiliki irama sendiri. Kakinya jenjang, geraknya ringan, dan senyumnya—ah, lesung pipi itu seakan menjadi pusat perhatian siapa pun yang memandang. Ia bukan sekadar cantik, Ann, ia adalah definisi dari sesuatu yang sulit dijelaskan namun mudah dirasakan.

Ratna dikenal sebagai kembang desa, bukan tanpa alasan. Banyak lelaki datang membawa harapan, dari pejabat desa hingga saudagar kaya, bahkan lelaki Belanda yang terbiasa memandang rendah pribumi pun tak mampu menahan diri untuk sekadar meliriknya. Namun semua itu ia tolak dengan tenang, tanpa banyak kata. Seolah hatinya telah memilih sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.

Rambutnya panjang, lurus hingga sepinggang. Ia sering menyibakkannya ke belakang telinga, gerakan kecil yang justru mempertegas pesonanya. Matanya sedikit sayu, namun tatapannya teduh, membuat siapa pun yang berbicara dengannya lupa waktu. Bibirnya eksotis, dengan bagian bawah yang sedikit lebih tebal, dan ketika ia tersenyum—lesung pipi itu kembali menjadi penegas bahwa ia adalah sesuatu yang sulit diabaikan.

Namun bagiku, Ratna bukan sekadar perempuan dengan wajah yang menawan. Ia adalah masa kecil yang tumbuh bersamaku. Kami telah saling mengenal sejak belum memahami arti kehilangan. Namanya sudah tertanam dalam pikiranku, begitu pula namaku dalam pikirannya. Ada kalanya ia datang ke rumahku, melangkah tanpa ragu hingga ke kamarku, seolah tempat itu juga miliknya. Dan di sanalah, aku menceritakan segalanya—tentangmu, Ann.

Aku menceritakan siapa dirimu, bagaimana caramu memandangku, bagaimana setiap pertemuan kita menyisakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ratna mendengarkan, tanpa memotong, tanpa menghakimi. Ia membiarkanku bercerita hingga selesai, bahkan ketika ceritaku terlalu panjang, terlalu dalam, atau terlalu menyakitkan untuk didengar.

Waktu terus berjalan, dan hujan masih setia jatuh di luar jendela. Di dalam kamar itu, Ratna tetap di sampingku, melanjutkan ritme yang telah terbangun sejak kami kecil. Namun kini, semuanya terasa berbeda. Kami tidak lagi hanya sekadar teman yang berbagi cerita. Ada sesuatu yang berubah—sesuatu yang tidak perlu diucapkan, namun terasa jelas di antara kami.

Kami saling memahami tanpa banyak bicara. Kehadiran menjadi cukup, tanpa perlu penjelasan. Bahkan diam pun terasa penuh makna. Seolah setiap detik yang kami lewati bersama adalah jawaban dari pertanyaan yang selama ini tak pernah terucap.

Namun di tengah semua itu, senandika masih enggan kembali. Hujan pun tak kunjung berhenti.

“Apa sebenarnya arti cinta?” tanyaku suatu saat, suaraku nyaris tenggelam oleh suara hujan.

“Mungkin kita hanya tahu kata itu,” lanjutku, “tapi tak pernah benar-benar memahami isinya.”
Ratna tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, memelukku dengan hangat yang sederhana namun tulus.

“Aku hanya bisa menguatkanmu dari sisi ini,” katanya pelan, tangannya mengusap dada kiriku, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang tak terlihat.
Aku menoleh, menatapnya dengan ragu yang masih tersisa. “Bagaimana kabarmu, Rat? Apakah aku masih layak dicintai?”

Pertanyaanku menggantung, penuh keraguan yang selama ini kusembunyikan.
Ia tersenyum, lembut, lalu menjawab, “Kamu sangat layak, Mas. Layak dicintai oleh siapa pun… termasuk aku.”

Suaranya begitu halus, bahkan jika dibandingkan dengan suara Adele sekalipun, rasanya tetap kalah hangat.

Saat itu, sesuatu dalam diriku berubah. Hari-hari yang sebelumnya kelam mulai bergetar dengan cara yang berbeda. Aku tidak menyangka, di tengah kehampaan yang kutinggali, masih ada seseorang yang mencintaiku dengan cara yang utuh.

Perlahan, tanpa kusadari, namamu mulai memudar. Bukan hilang, tetapi tertumpuk oleh kehadiran Ratna yang begitu nyata. Ia tidak menjanjikan banyak hal, namun apa yang ia berikan terasa cukup.

Dan aku mulai berpikir—mungkin benar, Ann. Ada hal-hal yang memang harus ditinggalkan agar kita bisa melangkah.
Namun malam tetaplah malam. Gelap masih menyelimuti, dan pertanyaan itu belum sepenuhnya pergi.

Seperti kanigara yang berdiri tanpa goyah, renjana pun mencoba ditegakkan. Tanpa penyesalan, aku bertanya pada diriku sendiri—sampai kapan aku harus berjalan dalam kegelapan ini? Tanpa cahaya yang benar-benar menerangi, hanya bayangan semu yang mengikuti ke mana pun aku pergi.
Jika satu pertemuan tak mampu kutempuh, maka biarlah aku yang menuntun rindu itu menuju arah yang baru.

Dan di antara hujan yang masih jatuh, di pelataran kedai kopi yang sederhana, aku mulai memahami satu hal—bahwa tidak semua yang hilang harus dicari kembali.

Ada yang memang diciptakan untuk dilepas.

Dan ada yang datang… untuk menetap.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang