Bagian Kesepuluh

1 1 0
                                        

Setibanya aku pada suatu siang yang menggantung di pinggir kota, warna-warna kemajemukan itu perlahan memudar seperti lukisan yang terlalu lama dibiarkan di bawah matahari. Di titik itu, pikiranku mulai melahirkan cabang-cabangnya sendiri—induk gagasan yang pecah menjadi serpihan perspektif, masing-masing menuntut untuk dipahami. Tanpamu, ruang ini terasa hampa; bahkan gelap pun seperti menjelma menjadi diriku sendiri. Kalimat-kalimat jatuh satu per satu, sebagian tergores, sebagian bersimbah luka yang tak kasatmata. Peluh yang kupelihara entah sampai kapan akan berhenti mengalir, seolah aku sedang bermigrasi dari satu kegelisahan ke kegelisahan lain yang tak pernah benar-benar usai. Ah, mungkin semua ini hanya cara pikiranku memindahkan beban menjadi sesuatu yang tampak lebih rumit, sementara aku tetap menjadi orang asing bagi diriku sendiri—dan kau tetap menjadi dirimu, Ann, yang tak pernah benar-benar bisa kugapai.

(***)

Dalam jeda yang singkat itu, kau datang seperti kilat yang menyambar tanpa aba-aba. Kau mengagetkan Seno dalam tidurnya yang belum sempat menjadi mimpi utuh. Namun seperti biasa, kehadiranmu tidak pernah tinggal lama. Kau pergi, meninggalkan secarik surat yang tertulis rapi namun penuh teka-teki. Seno terbangun dengan sisa kantuk yang menggantung di pelupuk matanya, lalu membaca setiap kata dengan teliti, seolah di dalamnya tersimpan kunci dari seluruh kegelisahan yang ia rasakan. Ia mencoba menafsirkan, meraba makna di balik huruf-huruf itu, bertanya dalam diam—apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Ann?

Di sisi lain, kau telah tiba di rumahmu—kediaman yang megah namun dingin, disambut oleh pelayan setia keluarga Rossevelt yang telah mengabdikan hidupnya lintas generasi. Malam turun perlahan, membawa suasana yang semakin sunyi namun justru terasa riuh di dalam dirimu. Waktu berjalan tanpa jeda, menggiringmu menuju puncak yang tak pernah benar-benar kau pahami. Dalam kesendirian yang penuh paradoks itu, kau melepaskan segala yang melekat—bukan hanya pakaian, tetapi juga beban yang tak terlihat. Tubuhmu bergerak mengikuti alur yang tak terucap, seperti tarian yang kehilangan arah namun tetap berlangsung. Hingga akhirnya, kau mencapai titik lelah yang tak bisa ditolak, terhempas dalam diam yang panjang. Kau tertidur dalam posisi yang sama, masih terikat pada sesuatu yang kau sebut kenikmatan, meski mungkin di dalamnya terselip kehampaan yang tak pernah kau akui.

Sementara itu, Seno tiba di rumah dengan kepala yang dipenuhi kabut. Pikiran-pikirannya saling bertabrakan, menciptakan riuh yang tak terdengar namun terasa nyata. Ia masih mencoba memahami isi suratmu, mencoba menebak apa yang kau rasakan di balik kata-kata itu. Semakin ia berpikir, semakin ia tenggelam. Ia bangkit, mengambil kain, lalu berjalan menuju kamar mandi seolah air mampu meredakan segala yang bergejolak di dalam dirinya. Namun bahkan setelah tubuhnya bersih, pikirannya tetap keruh. Wajahnya pucat, senyumnya menghilang tanpa jejak. Ia menyerah untuk sejenak, membiarkan dirinya jatuh dalam tidur yang dipenuhi tanda tanya.

Pagi datang tanpa meminta izin. Mentari menyelinap masuk, menyentuh ruang sederhana berukuran sepuluh kali lima belas meter yang ia sebut rumah—rumah dengan napas Jawa yang tenang namun kini terasa berat. Seno terbangun dari mimpi yang tak ingin ia ingat, lalu kembali pada kenyataan yang tak kalah melelahkan. Ia menjalani rutinitasnya seperti biasa, namun ada sesuatu yang berubah—sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.

Sesampainya di sekolah, matanya langsung menangkap sosokmu. Kau duduk di tempat yang biasa ia tempati, seolah ingin menggantikan posisinya dalam diam. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampirimu, napasnya tersengal, keringatnya jatuh tanpa sempat dihapus. Dengan tatapan penuh tanya, ia bertanya, “Apa maksud dari surat yang kamu tulis?” (Wat is de betekenis van de brief die je hebt geschreven?)
Kau menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan nada yang tenang namun tegas, “Akan kujelaskan ketika pulang nanti.” (Ik zal het uitleggen als ik thuis ben.)

Jawabanmu sederhana, namun cukup untuk mengguncang ketenangan yang tersisa dalam diri Seno. Ia terdiam, membiarkan kata-katamu menggantung di udara, menunggu waktu yang kau janjikan.

Dan di titik itu, waktu kembali berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah—padahal segalanya sedang bergerak menuju sesuatu yang belum diketahui bentuknya.

Pada akhirnya, setiap persoalan memang memiliki waktunya sendiri. Ada yang selesai, ada yang berakhir, ada pula yang justru menjadi awal dari sesuatu yang lain. Yang bisa dilakukan hanyalah menenangkan pikiran, meredam rasa, dan melucuti setiap masalah dengan kepala yang tetap dingin. Karena amarah hanya akan bekerja jika ada yang memantik, dan luka hanya akan membesar jika terus disentuh tanpa jeda.

Maka untuk saat ini, cukup. Biarkan semuanya berhenti sejenak—di pelataran rumah yang sunyi, di antara napas yang masih tersisa, dan di antara dua nama yang masih saling mencari tanpa benar-benar menemukan.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang