Bagian Keenam

0 1 0
                                        

Semilir angin malam menyusup perlahan ke pori-pori kulitku, membawa hawa lembap yang bercampur dengan aroma jalanan yang tak pernah benar-benar tidur. Di hadapanku, sebuah meja bergaya dua puluh tahunan berdiri kokoh, pernisnya yang masih melekat membuat permukaannya tampak berkilau di bawah cahaya lampu yang redup. Malam itu cukup ramai, berada di sudut jalan yang berdekatan dengan deretan pabrik yang masih bekerja tanpa henti demi memenuhi tuntutan hidup, tak jauh dari selatan pusat perbelanjaan yang kini dikenal sebagai City of Tomorrow. Di meja kotak itu, aku duduk bersama tiga orang temanku, meskipun pada hakikatnya aku tetap sendiri.

Salah satu dari mereka mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak, dipadukan dengan kerudung hitam yang sederhana, serta kacamata yang selalu setia bertengger di hidungnya. Ia berbicara dengan nada tenang, seolah dunia tidak pernah benar-benar mengusiknya. Di sampingnya, seorang perempuan lain mengenakan kemeja biru panjang dengan hijab hitam yang rapi, tangannya tak pernah lepas dari gawai yang sesekali ia tatap di sela percakapan. Sementara itu, seorang laki-laki dengan rambut kecoklatan duduk di sisi lain, mengenakan kemeja kotak-kotak merah jambu, wajahnya menunjukkan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.

Dan aku, duduk di antara mereka, namun pikiranku melayang jauh. Aku masih terjebak pada harapan yang belum terwujud, tentang pertemuan kita yang kuanggap sebagai keniscayaan. Aku ingin memutar waktu, atau bahkan menghentikannya sejenak, agar aku bisa berada lebih lama bersamamu, Ann. Seolah dunia tidak lagi memiliki arti selain kehadiranmu.

(***)

Malam kelabu itu masih menyisakan jejak yang sulit kulupakan. Keringat yang pernah mengalir akibat teriakanmu yang menggema, suara yang begitu hidup hingga membuat orang-orang di sekitar terjaga dan bertanya-tanya. Kau, Ann, adalah perempuan yang mampu menguasai ruang dengan caramu sendiri. Dalam kenangan itu, aku melihat kembali bagaimana rambutmu terurai, bagaimana matamu yang biru memancarkan sesuatu yang tak bisa kujelaskan selain ketulusan yang liar.

Namun kini, kenangan itu justru menjadi beban yang menekan. Ketika pagi datang, membawa cahaya yang menembus celah-celah jendela, aku terbangun dalam keadaan yang tak utuh. Rasa lelah menjalar di tubuhku, punggungku terasa remuk, dan ketika aku membuka mata, kau sudah tidak ada di sana. Hanya ruang kosong yang tersisa, dan rasa bersalah yang perlahan menguasai pikiranku.

“Apa yang telah kulakukan, Ann?” gumamku lirih. “Wat heb ik je aangedaan, Ann? Ik hou onvoorwaardelijk van je en zonder je lichaam te willen, laat staan je kuisheid op te offeren.” (Apa yang telah kulakukan kepadamu, Ann? Aku mencintaimu tanpa syarat dan tanpa menginginkan tubuhmu, apalagi harus mengorbankan kesucianmu.)

Aku bangkit dengan perasaan yang tak menentu, menyesali sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kupahami. Waktu seakan berlari tanpa menungguku, dan tanpa kusadari, jam sekolah telah terlewat. Dengan tergesa aku keluar rumah, menaiki becak dan memerintahkan pengemudinya untuk melaju lebih cepat.

Pukul sepuluh aku tiba di halaman sekolah. Keterlambatanku menjadi awal dari hukuman yang harus kuterima. Aku diperintahkan berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali. Matahari semakin terik, panasnya menembus kulitku, sementara rasa dahaga mulai menguasai. Betisku sempat terasa kram, namun aku tetap melanjutkan langkah, seolah hukuman itu adalah bentuk penebusan dari kesalahan yang lebih besar.
Ketika akhirnya pelajaran berikutnya dimulai, aku memasuki kelas dengan tubuh yang hampir roboh. Aku berharap tidak ada yang memperhatikanku, namun harapan itu terlalu naif. Aku duduk di bangkuku, meraih botol air di depanku tanpa berpikir panjang, dan meminumnya dengan rakus.
Teguran datang dari pemiliknya, namun aku tak menggubrisnya. Ada sesuatu yang terasa aneh. Rasa air itu tidak biasa. Bukan sekadar air mineral. Ada rasa manis yang aneh, yang justru membuat tenggorokanku semakin kering.

“Ini… bukan air biasa,” pikirku.

Aku baru menyadari bahwa itu adalah anggur putih yang dibawa diam-diam oleh temanku. Aku hanya tersenyum kecil, tidak berkata apa-apa, membiarkan rahasia kecil itu tetap tersimpan.
Sore pun tiba. Waktu menunjukkan pukul empat, dan aku kembali menunggumu di taman sekolah. Harapan itu masih sama, berharap kau muncul di tengah keramaian. Namun yang datang justru kecemasan. Pikiran buruk mulai bermunculan, membuatku bertanya-tanya apakah kau baik-baik saja.

Aku berjalan menyusuri taman itu, lalu memutuskan pulang. Setelah membersihkan diri, aku mencoba mengerjakan tugas aljabar yang diberikan. Namun pikiranku tidak pernah benar-benar kembali. Semua terasa kacau, semrawut, tak beraturan.

“Apakah kau baik-baik saja, Ann?” gumamku pelan.
Pikiranku kembali pada momen pertama kali aku menyentuhmu. Kenangan itu yang dulu terasa indah kini berubah menjadi pertanyaan yang menyakitkan.
“Haruskah kita menjauh untuk sementara?” pikirku. “Ik bedoel, moeten we een tijdje uit elkaar zijn? Dan is het herzien van die fout onze laatste ontmoeting? Is dat zo?” (Maksudku, apakah kita harus berpisah untuk sementara waktu? Lalu menjadikan kesalahan itu sebagai pertemuan terakhir kita? Apakah seperti itu?)
Aku menggelengkan kepala, menolak kemungkinan itu.

Keringat mengalir dari dahiku, turun perlahan hingga ke ujung kakiku.
Sampai kapan aku harus memendam perasaan ini?
Sampai kapan aku harus mengurung sepi yang terus tumbuh di dalam diriku?
Aku hanya berharap satu hal.
Semoga pesan ini sampai kepadamu.
Semoga kau mengerti alasan di balik kepergianku yang tak mampu menjelaskan apa-apa.

Aku teringat pada sebuah lagu karya Franz Liszt berjudul La Campanella. Nada-nadanya terasa seperti menggambarkan kegundahanku saat ini. Aku berharap kau bisa mendengarnya, agar kau tahu bahwa keadaanku tidak baik-baik saja.
Dan dalam anganku, aku membayangkan dirimu berkata kepadaku, “Alles goed met je, Sen? Ik denk aan je hier. Ben je boos of kwaad op mij? Ik hoop het niet, want ik hou ook van jou, Sen.” (Kau baik-baik saja, Sen? Aku memikirkanmu di sini. Apakah kau marah padaku? Kuharap tidak, karena aku juga mencintaimu, Sen.)

Namun aku tahu, itu hanyalah bayangan yang terlalu jauh.

Dan aku masih di sini.

Menunggu.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang