Ketika Perpisahan

2 0 0
                                        

Sejak saat itu, udara berubah menjadi lebih lembap dari yang pernah kuingat, Ann, seolah setiap hela napas membawa sisa-sisa percakapan yang tak pernah selesai. Ia menempel di kulitku, merayap perlahan, lalu menetap tanpa permisi. Sejak saat itu pula, aku berjalan sebagai manusia yang tampak baik-baik saja di permukaan, namun runtuh di bagian terdalamnya—sehat jasmani, tetapi remuk rohani.

Sejak saat itu, makna perpisahan kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi menjadi garis tegas antara sebelum dan sesudah, melainkan kabut yang menyelimuti segalanya. Kita tertawa—hahaha—seolah semuanya ringan, padahal kita hanya memaksa detak nadi untuk tetap selaras dengan sesuatu yang telah lama kehilangan iramanya.

Sejak saat itu, langkah-langkah yang pernah kita tempuh bersama mulai kita hapus satu per satu. Jejak itu memudar, bukan karena waktu semata, tetapi karena kita memilih untuk tidak lagi mengingatnya. Aku pun berubah—menjadi seseorang yang lebih mementingkan dirinya sendiri, seolah itu satu-satunya cara untuk tetap bertahan.

Sejak saat itu, aku belajar bahwa menjadi egois kadang terasa lebih mudah daripada harus jujur pada luka. Aku menutup diri, menutup kemungkinan, dan menutup semua pintu yang pernah terbuka untukmu.

Sejak saat itu, kita bukan lagi dua nama yang saling melengkapi. Kita hanya dua manusia yang kebetulan pernah bertemu, lalu berjalan menjauh tanpa arah yang sama.

Ketika perpisahan itu benar-benar datang, ia tidak membawa suara. Tidak ada gemuruh, tidak ada tangis yang meledak. Hanya diam yang panjang dan berat.

Ketika perpisahan, kita bukan lagi tentang aku dan kamu.

Kita bukan lagi tentang cerita yang ingin dilanjutkan.

Kita bukan lagi tentang janji yang ingin ditepati.

Kita hanya tentang akhir yang tidak sempat diberi judul.

Ketika perpisahan, kita seperti nyanyian yang runtuh sebelum mencapai reff. Hujan mengalunkan nada-nada itu dengan caranya sendiri, membawa setiap lirik yang tak sempat kita selesaikan.

Sajak-sajakku pun berubah, Ann. Ia tidak lagi menuliskan namamu dengan rapi. Ia tidak lagi mencari bayangmu di setiap kata. Kini, ia hanya berbicara tentang sesuatu yang melebur—tentang kehilangan yang tidak punya bentuk.

Hahaha, bahkan sekolah menjadi tempat pelarian. Aku datang bukan untuk belajar, tetapi untuk melupakan. Untuk berpura-pura sibuk, agar pikiranku tidak kembali padamu.
Waktu terasa berjalan mundur.

Setiap hari terasa seperti pengulangan.

Setiap detik seperti terjebak.

Dan aku tidak tahu bagaimana cara keluar.

Sejak saat itu, hidup terasa seperti sesuatu yang sia-sia. Namun anehnya, kita tetap menjalaninya, bahkan kadang membanggakannya. Seolah luka yang kita miliki adalah pencapaian.

Pertemuan-pertemuan setelah itu hanyalah sandiwara. Kita memainkan peran sebagai dua orang yang baik-baik saja, meski di dalamnya ada kekosongan yang tak bisa diisi.

Kita tersenyum.

Kita mengangguk.

Kita berpura-pura tidak ada yang terjadi.

Padahal semuanya sudah berubah.

Ketika perpisahan, tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada drama yang berlebihan. Kita hanya diam, menerima, lalu berjalan menjauh.

Dan perlahan, kita membias.

Membias dengan ketiadaan.

Membias dengan sunyi.

Membias dengan hidup tanpa satu sama lain.

Aku tidak meminta untuk dikasihani, Ann.

Aku tidak ingin menjadi seseorang yang kau lihat dengan rasa iba.

Hahaha, aku hanya seseorang yang harus merasakan luka itu sendiri. Karena mungkin, hanya dengan cara itu aku bisa mengerti bagaimana cara melanjutkan hidup.

Sejak saat itu, aku bukan lagi pejalan yang jinak. Aku tidak lagi mengikuti arah yang ditentukan. Aku memilih berjalan sendiri, meski harus tersesat berkali-kali.

Aku mulai menuliskan banyak hal pada angin.

Tentang hujan yang tak pernah benar-benar pergi.

Tentang kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.

Tentang dirimu yang tetap ada, meski tidak lagi di sisiku.

Aku berkata pada angin bahwa hujan itu abadi.

Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dihapus, hanya bisa diterima.

Hari ini, cuaca diperkirakan akan hujan lagi.

Dan setiap kali hujan turun, aku selalu teringat satu hal—
bahwa kau telah memiliki seseorang yang lain.

Sebuah kenyataan yang sederhana, namun cukup untuk menutup semua kemungkinan yang pernah kita miliki.

Di atap Al-Farabi itu, kita pernah berpapasan.

Tanpa kata.

Tanpa sapa.

Hanya diam yang panjang.

Aku melihatmu.

Kau melihatku.

Namun kita tidak melakukan apa-apa.

Dan mungkin, itu adalah bentuk paling jujur dari perpisahan kita.

Tidak ada yang dipaksakan.

Tidak ada yang ditahan.

Hanya diterima.

Sejak saat itu, aku belajar bahwa tidak semua yang datang harus dipertahankan.

Tidak semua yang pergi harus dikejar.

Dan tidak semua yang berakhir harus disesali.

Beberapa hal memang diciptakan untuk selesai.

Untuk mengajarkan.

Untuk meninggalkan jejak.

Dan kemudian hilang.

Sejak saat itu, aku berhenti menunggu.

Bukan karena aku tidak peduli.

Tetapi karena aku sudah lelah berharap.

Aku memilih berjalan.

Meski pelan.

Meski sendiri.

Meski tanpa arah yang jelas.

Karena mungkin, di ujung perjalanan ini, aku akan menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan.
Atau mungkin tidak.

Namun setidaknya, aku telah mencoba.

Dan itu sudah cukup.

Sejak saat itu, aku bukan lagi tentang kita.

Aku hanya tentang aku.

Dan itu, untuk pertama kalinya, terasa cukup.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang