Bagian Kedelapan

1 1 0
                                        

Halo, sobat. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga baik-baik saja, atau setidaknya masih mampu bertahan di antara riuhnya hari yang tak selalu ramah. Aku tahu, kalian menunggu—menunggu bagaimana kisah ini kembali dilanjutkan setelah sekian lama tertunda oleh aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Tertunda, bukan dilupakan. Karena sejatinya, cerita seperti ini tidak pernah benar-benar berhenti, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali bernapas. Barangkali di antara kalian ada yang bertanya, bagaimana kabar Annalise sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Atau justru menghilang, larut dalam sunyi seperti bayangan yang enggan kembali? Atau mungkin—seperti gurauan yang sering kita dengar—ia telah menjadi bagian dari kisah yang hanya tinggal kenangan, seperti seseorang yang memberi harapan lalu hilang tanpa jejak. Aku tertawa kecil memikirkannya, meski di balik tawa itu tersimpan sesuatu yang tak sepenuhnya ringan.

Lebih dari dua puluh delapan hari, aku—atau mungkin kau mengenalku sebagai Putra Fajar—membiarkan namamu, Ann, tenggelam tanpa disentuh. Bukan karena aku tak ingin, melainkan karena ada ruang dalam diriku yang tiba-tiba kosong, kehilangan getar yang biasa menghidupkan kata-kata. Barangkali ini soal endorfin, atau mungkin sekadar alasan yang kubuat agar tampak logis. Namun kau tahu, menulis tanpa rasa hanya akan melahirkan kata-kata yang hambar. Tenggat waktu bisa memaksa seseorang menjadi produktif, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan kedalaman. Dan pada akhirnya, setiap orang memiliki caranya sendiri dalam memahami makna. Tidak semua rasa bisa disepakati, tidak semua luka bisa dijelaskan dengan bahasa yang sama. Maka untuk saat ini, aku memilih untuk tidak menunggu pelangi. Aku memilih menikmati hujan, meski ia basah dan dingin.

(***)

Di lorong dekat sekolah, aku melihatmu berdiri—mengurai rambutmu perlahan, seolah setiap helainya menyimpan rahasia yang tak ingin kau bagi. Beberapa orang mendekat, mencoba menyapamu, entah dengan niat tulus atau sekadar basa-basi yang tak berarti. Kau tetap sama, Ann. Tidak sepenuhnya terbuka, tidak pula benar-benar tertutup. Kau seperti pintu yang setengah terbuka—mengundang sekaligus menolak. Aku tahu, cara mendekatimu tidak pernah sederhana. Cokelat mungkin bisa meluluhkanmu sesaat, dan buku seperti Dunia Anna karya Jostein Gaarder bisa membuatmu bertahan lebih lama dalam diam. Kau menyukai dunia yang tidak sepenuhnya nyata, dunia paralel yang mungkin hanya ada dalam imajinasi, namun terasa begitu dekat di dalam pikiranmu.

Kau pernah berkata, bahwa tidak ada dunia yang benar-benar terhubung, meskipun waktu mencoba menyatukannya. Kalimat itu sederhana, namun mengguncang logika yang selama ini kupegang. Karena bukankah kita sendiri adalah bukti bahwa dua dunia bisa saling bersinggungan, meski tak pernah benar-benar menyatu? Imajinasi sering kali melampaui kenyataan, dan kadang kita lebih percaya pada sesuatu yang tak terlihat dibandingkan yang ada di depan mata. Seperti bunga Wisteria yang konon hanya mekar di musim tertentu, namun dalam pikiran kita ia bisa tumbuh kapan saja. Dunia paralel, mungkin hanyalah bentuk lain dari kerinduan yang tidak menemukan jalannya di dunia nyata.

Namun pembicaraan tentang cara mendekatimu terasa terlalu ringan dibandingkan kenyataan yang kau hadapi. Kau sering tidak masuk sekolah, datang dan pergi tanpa pola yang bisa ditebak. Hari ini ada, esok menghilang, begitu seterusnya hingga berbulan-bulan. Tidak banyak yang bertanya, seolah ketidakhadiranmu adalah hal yang wajar. Padahal tidak. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak semua orang mampu lihat.

Keluargamu hidup dalam irama yang berbeda. Pesta, keramaian, dan gemerlap menjadi bagian dari keseharian. Waktu bukan lagi sesuatu yang diatur, melainkan sesuatu yang diabaikan. Dalam lingkungan seperti itu, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dan tanpa disadari, kebiasaan itu mengakar dalam dirimu. Kau tumbuh di antara suara yang terlalu keras, hingga akhirnya memilih diam sebagai cara bertahan.

Aku tahu, ada bagian dari dirimu yang kau sembunyikan rapat-rapat. Sebuah luka yang tidak pernah kau ceritakan, bahkan pada mereka yang seharusnya melindungimu. Tentang seseorang yang seharusnya menjadi keluarga, namun justru menjadi bayangan yang menekanmu dari dalam. Aku tidak akan mengulang namanya dengan kebencian, karena bahkan menyebutnya pun terasa seperti memberi ruang pada sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Namun aku tahu satu hal, Ann. Kau bukan kesalahan itu. Kau bukan luka itu. Kau lebih dari semua yang pernah menyakitimu.

Di sisi lain, aku—Darma Seno—masih berdiri di tempat yang sama. Sore itu, sebelum gelap benar-benar turun, aku kembali ke tempat di mana aku biasa melukis. Tempat di mana aku mencoba memahami bahwa tidak ada pertemuan yang terjadi tanpa alasan, dan tidak ada perpisahan yang benar-benar sia-sia. Namun semakin aku berpikir, semakin aku tersesat dalam pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Aku mencoba kembali menjadi diriku yang lama, sebelum mengenalmu. Namun ternyata, itu bukanlah jalan pulang. Aku hanya menjadi tubuh yang bergerak tanpa arah, menjalani hari tanpa keinginan. Seolah jiwaku tertinggal di suatu tempat—mungkin bersamamu.

Rasa dalam diriku bercampur tanpa batas. Marah, kecewa, rindu, sedih—semuanya mengalir dalam satu tubuh yang sama. Aku mencoba menahannya, namun semakin kutahan, semakin ia meluap. Hingga akhirnya aku hanya bisa menatap kosong, berharap ada sesuatu yang memanggilku kembali.

Dan di tengah kekacauan itu, aku menulis untukmu.

Bulan masih menjemputku,
bintang masih mencariku,
bahkan malam masih setia menghampiriku,
lalu mengapa kamu tidak?

Anggur masih memabukkanku,
kopi masih menahanku tetap terjaga,
teh masih menghangatkanku dalam dingin,
lalu mengapa tidak denganmu?

Syal merah itu masih kusimpan,
terlipat rapi dalam lemari yang mulai berdebu,
menunggu tanganmu yang tak kunjung datang,
menunggu kehadiran yang tak pernah pasti.

Bukankah itu rindu, Ann?

Aku menulis semua ini bukan untuk dipahami sepenuhnya, melainkan untuk dirasakan. Aku ingin kau datang, memelukku, dan berkata dengan sederhana, “Aku juga merindukanmu.” Ik mis jou. Sebuah kalimat yang mungkin terdengar biasa, namun mampu menyelamatkan banyak hal yang hampir runtuh.

Begitulah kira-kira surat yang kutulis untukmu. Sebuah upaya kecil untuk memanggil kembali jiwamu yang pernah singgah di dalam diriku. Tanpa syarat, tanpa tuntutan, hanya penantian yang terus berjalan. Aku akan tetap di sini, menunggu hingga pelangi itu benar-benar muncul, atau hingga aku belajar bahwa tidak semua hujan harus berakhir dengan warna.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang