Bagian yang Terpisah (part 2)

2 0 0
                                        

Annalise mulai menerima kenyataan itu perlahan, bukan sebagai beban, melainkan sebagai sesuatu yang tumbuh diam-diam untuk menyelamatkannya dari kehancuran yang lebih dalam.

Ia tidak lagi menolak rasa mual yang datang di pagi hari, tidak lagi menganggap tubuhnya sebagai musuh.

Ia mulai menyentuh perutnya dengan hati-hati, seolah di dalam sana ada jawaban yang selama ini ia cari.

“Ini anakmu, Seno…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Kalimat itu bukan sekadar pengakuan, melainkan janji yang ia tanamkan dalam dirinya sendiri.

Sejak saat itu, ia berubah.

Bukan sepenuhnya pulih, tapi setidaknya tidak lagi hancur.

Hari-harinya di dapur mulai terasa berbeda.

Ia tidak lagi sekadar mencuci piring, tidak lagi sekadar bertahan.

Ia mulai belajar.

Memperhatikan setiap gerakan koki utama, setiap aroma yang muncul dari panci, setiap rasa yang disatukan dalam satu hidangan.

Lena memperhatikannya dari kejauhan, dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

“Kau mulai hidup lagi,” katanya suatu malam.
Annalise hanya mengangguk.

“Voor hem…”
(Untuk dia…)

Hari-hari berlalu tanpa terasa.

Dari pencuci piring, ia perlahan dipercaya mengolah saus sederhana.

Awalnya hanya mencampur, lalu mencicipi, lalu memperbaiki.

Tangannya mulai terbiasa.

Rasanya mulai dikenali.

Dan suatu hari, pemilik restoran itu memanggilnya.

“Kau,” katanya singkat, “mulai besok, bagian saus.”

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada perayaan.

Tapi bagi Annalise, itu adalah kemenangan kecil yang sangat berarti.

Ia berdiri lebih tegak hari itu.

Seolah dunia memberinya ruang untuk bernapas lagi.

“Dank je…”
(Terima kasih…) gumamnya.

Dapur menjadi tempatnya bersembunyi, sekaligus tempat ia menemukan kembali dirinya.

Aroma bawang putih yang ditumis, mentega yang meleleh, dan saus yang mengental perlahan menjadi bahasa baru yang ia pahami.

Ia bekerja dengan tenang, dengan fokus yang hampir obsesif.

Seolah setiap gerakan adalah cara untuk melupakan masa lalu.

Namun masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.

Ia masih buronan.

Nama Van Linde masih mengintainya dalam diam.

Setiap langkah di luar restoran selalu disertai kewaspadaan.

Setiap wajah asing terasa mencurigakan.

Ia hidup dalam dua dunia—yang satu nyata, yang lain bayangan.

Dua bulan berlalu.

Perutnya mulai membesar.

Gerakannya melambat.

Nafasnya lebih pendek.

Ia mulai kesulitan berdiri terlalu lama di depan kompor.

Tapi ia tidak pernah mengeluh.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang