Bagian Ketujuh

0 0 0
                                        

Tujuh puluh delapan hari terakhir ini hidupku berjalan dalam irama yang tak menentu, naik dan turun seperti gelombang yang kehilangan arah pulang. Ada saat di mana kata-kata mengalir begitu deras, namun ada pula waktu ketika semuanya membeku, seolah pikiranku sendiri enggan bekerja sama dengan perasaanku. Barangkali kalian pernah merasakan hal serupa—ketika suasana hati menjadi penguasa utama atas apa yang ingin dituliskan. Dalam rentang waktu itu, tak sedikit yang bertanya tentangmu, Annalise. “Bagaimana kabarnya? Apakah ia baik-baik saja? Atau ia menghilang, menutup diri dari dunia luar? Atau mungkin ia telah menemukan tempatnya di jari manis seseorang?” Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti, dan aku hanya membalasnya dengan senyum tipis serta tawa kecil yang tak sepenuhnya jujur. Mereka merindukanmu, bahkan mungkin melampaui batas yang mereka pahami sendiri. Namun di balik itu semua, aku pun sama—merindukanmu dalam diam yang panjang, dalam ruang yang tak bisa dijangkau oleh siapa pun selain aku sendiri.

Di sela kegundahan itu, ada kabar kecil tentang diriku—aku kini telah menyandang sebuah gelar, sesuatu yang semestinya menjadi perayaan. Namun anehnya, kebanggaan itu terasa hambar, seperti teh tanpa gula yang diseduh terlalu lama. Apakah gelar itu benar-benar berarti? Atau hanya sekadar tanda bahwa waktu telah berjalan tanpa menungguku? Aku masih terjebak dalam kesibukan yang tak berujung, berpindah dari satu urusan ke urusan lain, seolah hidup ini adalah rangkaian tugas yang harus diselesaikan tanpa sempat dipahami. Begitulah kehidupan bekerja, Ann. Janji yang pernah kuucapkan padamu masih kusimpan rapi, belum kutunaikan, namun juga belum kulupakan. Ia seperti lilin kecil yang tetap menyala, meski diterpa angin yang tak pernah berhenti.

(***)

Tentang kita, aku mulai mengerti bahwa kebersatuan bukan hanya soal hasrat yang datang dan pergi seperti gelombang. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, namun juga lebih berat untuk dipikul. Ikatan bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang tanggung jawab yang lahir darinya. Tentang kemungkinan yang tumbuh, tentang masa depan yang menunggu untuk diputuskan. Hingga detik ini, kita belum memiliki kepastian itu. Kau berjalan dengan ambisimu yang tegas, sementara aku masih berkutat dengan egoku yang keras kepala. Keduanya saling bertabrakan, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun terasa nyata.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah mencintai seseorang hanya perkara waktu? Tidak. Cinta bukan sekadar menunggu hingga saatnya tiba. Ia memiliki logika yang tak selalu bisa dipahami, dan sering kali berjalan beriringan dengan sesuatu yang lebih liar—nafsu. Keduanya adalah emosi yang menuntut untuk diakui, namun juga harus dikendalikan. Sulit, memang. Menjaga pikiran tetap bersih di tengah godaan yang terus menguji batas adalah perjuangan yang tak pernah selesai. Namun mungkin, untuk saat ini, cukup biarkan semuanya menjadi angan. Tidak perlu diwujudkan, tidak perlu dipaksakan. Hingga tiba waktunya, hingga kata “sah” benar-benar terucap dengan lantang, mungkin di sebuah ruang sederhana yang kita kenal sebagai KUA, di jalur barat yang sedikit condong ke selatan dari perjalanan hidup kita.

Tentang dirimu, Ann, aku tak lagi tahu harus mencarimu ke mana. Segala arah telah kucoba tafsirkan, namun yang kutemukan hanyalah bayanganmu yang hidup di depan layar pikiranku. Aku pulang, membuka pintu rumah dengan kunci yang masih setia kugenggam. Bunyi gesekan logam itu terdengar begitu jelas, seolah menjadi satu-satunya suara yang menyambutku. Aku masuk ke kamar—ruang kecil yang hanya mengenalku seorang. Dari sana, aku menatap jendela. Di luar begitu gelap, hanya ada cahaya redup dari lampu oblek yang tersebar di beberapa rumah, jaraknya jauh satu sama lain, seperti hati manusia yang tak pernah benar-benar berdekatan.
Hari berikutnya berjalan sama, nyaris tanpa perubahan. Aku kembali menjalani rutinitas dengan kepala yang penuh dan bayanganmu yang semakin berat. Aku berangkat ke HBS dengan versi diriku yang lama—Darma Seno sebelum mengenalmu. Sosok itu terasa asing, seolah aku sedang meminjam tubuh orang lain untuk menjalani hidupku sendiri. Mungkin inilah yang disebut mati dalam hidup—berjalan, bernapas, namun kehilangan arah. Matahari menyapaku dengan hangat, tetapi aku membalasnya dengan dingin. Seolah cahaya pun tak lagi mampu menembus apa yang sedang kurasakan. Hingga sepulang sekolah, langkahku terasa goyah, tubuhku lelah, dan pikiranku semakin tak terarah.

Tiga puluh lima hari berlalu dengan pola yang sama, seperti roda yang terus berputar tanpa tujuan. Bangun, membersihkan diri, berangkat ke sekolah, menerima pelajaran, pulang, mengerjakan tugas, lalu terlelap dalam mimpi. Rutinitas itu menjadi semacam pelarian, meski aku tahu aku tidak benar-benar pergi ke mana pun. Hingga suatu malam, aku terbangun di tengah gelap karena dorongan kecil yang tak bisa ditahan. Setelah kembali ke tempat tidur, aku terlelap lagi—dan di situlah kau hadir.

Kau duduk di pelataran rumah, mengaduk teh hijau kesukaanmu dengan satu sendok gula. Tidak terlalu manis, tidak pula hambar—persis seperti caramu menyeimbangkan segala hal. Kau tersenyum, dengan tatapan sayu dari mata birumu yang selalu kurindukan. Ada ketenangan di sana, ada sesuatu yang membuatku ingin tinggal lebih lama di dalam mimpi itu. Aku memandangmu tanpa berkedip, mencoba mempercayai bahwa ini nyata. Namun seperti biasa, semuanya memudar saat kesadaran kembali mengambil alih. Kau hilang, dan aku kembali sendiri.

Sejak malam itu, aku mencoba menjauh darimu. Aku memaksakan diriku untuk percaya bahwa kita tak pernah benar-benar bertemu. Namun anehnya, semakin aku berusaha melupakan, semakin dalam aku tenggelam. Kehadiranmu terlalu besar untuk dihapus begitu saja. Bahkan jika kau hanyalah ilusi, kau tetap memiliki kekuatan untuk mengubah segalanya. Untuk saat ini, aku membiarkanmu pergi. Aku tidak akan menahan, tidak juga memanggilmu kembali. Karena mungkin, mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Dan pada akhirnya, semua ini akan kutuangkan menjadi satu kisah yang utuh. Seperti kuah sup yang merangkum berbagai rasa—manis, pahit, asin, dan hangat—menjadi satu kesatuan yang sulit dijelaskan. Tentang kita, tentang kehilangan, tentang harapan yang belum menemukan bentuknya. Hingga saat itu tiba, aku masih di sini—menyusun kata, merangkai kenangan, dan menunggu dalam diam yang panjang. Karena mungkin, dalam penantian itulah aku benar-benar belajar tentang arti mencintai.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang