Bagian Kelima

5 1 0
                                        

Suatu sore di Kali Pegirian, suasana terasa hidup oleh kicauan burung kenari yang saling bersahutan. Mereka seolah berlomba menunjukkan suara paling indah yang mereka miliki, memecah keheningan dengan nada-nada yang berlapis. Riuh itu memenuhi udara, membaur dengan desir angin dan aliran air yang tenang, namun bagiku tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menang. Suara-suara itu justru saling menenggelamkan, seperti manusia yang terlalu ingin didengar tanpa sempat mendengarkan.

“Lalu siapa pemenangnya?” tanya seorang bocah kecil yang berdiri di dekatku sambil memegang es krim yang mulai mencair di tangannya. Matanya menatapku penuh rasa ingin tahu, seolah jawaban dariku akan menjadi sesuatu yang penting baginya. Aku menghisap perlahan putung rokok di tanganku sebelum menjawab dengan suara pelan, “Tidak ada.” Bocah itu mengernyit, wajahnya menunjukkan kebingungan yang polos.

“Kenapa tidak ada?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak. Aku tersenyum kecil, menghembuskan asap rokok yang perlahan menghilang di udara. “Karena mereka terlalu sibuk bersuara, hingga kehilangan merdunya sendiri.” Bocah itu terdiam, seolah mencoba memahami maksudku. Ia mendekat dan memperhatikan tanganku dengan saksama, seakan ada sesuatu yang ingin ia temukan di sana. Aku hanya membiarkannya, karena pikiranku telah melayang jauh.

Dalam diam, aku menyadari bahwa pemenang dari segala suara itu telah kutemukan. Bukan pada burung-burung itu, bukan pula pada riuhnya sore, melainkan pada dirimu, Ann. Suaramu, tawamu, bahkan diam yang kau hadirkan, semuanya memiliki keindahan yang tak dapat ditandingi oleh apa pun di dunia ini. Dan sejak saat itu, aku tahu bahwa segala yang indah akan selalu kembali kepadamu.

(***)

Senja mulai merayap di batas barat langit. Warnanya perlahan berubah menjadi jingga yang hangat, seolah matahari sedang berpamitan dengan lembut kepada dunia. Cahaya itu jatuh di permukaan air Kali Pegirian, memantulkan kilau yang bergerak perlahan mengikuti arus. Angin berhembus pelan, membawa rasa yang sulit dijelaskan, seolah menyampaikan pesan yang hanya bisa dirasakan, bukan diucapkan.

Aku masih duduk di tempat yang telah kita janjikan. Tempat sederhana yang kini terasa istimewa karena menunggumu. Namun waktu terus berjalan, dan kau belum juga datang. Yang datang justru senja itu sendiri, duduk di sampingku dalam diam, menemani kesunyian yang perlahan tumbuh di dalam hati. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dari kegelisahan yang perlahan muncul.

Hingga akhirnya angin membawa sesuatu. Sebuah firasat yang membuatku menoleh ke arah timur laut. Dan di sanalah aku melihatmu. Kau berjalan perlahan mendekat, seolah waktu sengaja melambat agar aku dapat melihatmu lebih lama. Kau mengenakan baju terusan putih yang sederhana namun anggun, sepatu hak berwarna gelap yang melengkapi langkahmu, dan topi jerami yang sedikit menunduk menutupi sebagian wajahmu.

Anting merah delima yang kau kenakan berayun pelan mengikuti gerak langkahmu. Setiap detail darimu tampak begitu jelas di mataku, seolah dunia di sekitarmu menghilang dan hanya menyisakan dirimu seorang. Kau berjalan dengan tenang, tanpa tergesa, meskipun aku tahu kau tidak terlalu menyukai sepatu itu. Namun tetap saja, kau tampak anggun dengan caramu sendiri.

Ketika kau semakin dekat, senyummu mulai terlihat. Senyum yang selalu mampu membuatku lupa pada segala hal, termasuk pada diriku sendiri. Aku menatapmu tanpa berkedip, hingga tanpa kusadari mataku mulai basah. Perasaan yang tak mampu kutahan akhirnya menemukan jalannya.

“Wat is er aan de hand, Sen? waarom huil je?” tanyamu lembut sambil mengusap air mataku. (Ada apa, Seno? Kenapa kamu menangis?) Suaramu terdengar begitu dekat, begitu nyata, hingga aku hampir lupa bagaimana cara menjawabnya.

Aku berdiri perlahan dari tempat dudukku. Tanganku menggenggam tanganmu dengan lembut, seolah takut kehilanganmu jika aku melepaskannya. “Tidak apa-apa, Ann,” kataku pelan, mencoba tersenyum. “Laten we langs deze rivier wandelen.” (Mari kita berjalan menyusuri sungai ini.)

Aku menarik tanganmu perlahan, dan kau mengikutiku tanpa ragu. Kami berjalan menyusuri tepi Kali Pegirian, membiarkan langkah kami mengikuti aliran air yang tak pernah berhenti. Angin berhembus lembut, membawa percakapan kami ke arah yang tak tentu, seolah ia ingin menyimpan setiap kata yang kami ucapkan.

Langit masih menyisakan sedikit cahaya jingga. Air sungai mengalir pelan, seolah ikut mendengarkan kisah kami. Kadang kami tertawa, kadang kami terdiam, namun keheningan itu tidak pernah terasa canggung. Justru di dalam diam itu, aku merasa lebih dekat denganmu.
Kami terus berjalan hingga tiba di ujung jalan. Di sana terdapat bangku-bangku kayu yang tersusun rapi, seolah telah menunggu kedatangan kami sejak lama. Aku memberi isyarat agar kau duduk, dan kau menurutinya dengan tenang. Kami duduk berdampingan, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa.

Angin kembali berhembus. Rambutmu terurai pelan, menutupi sebagian bahumu. Aku menatapmu dalam diam, mencoba mengingat setiap detail yang ada di hadapanku. Seolah aku takut suatu saat nanti aku akan melupakan semua ini.

“Ann…” panggilku perlahan.
Kau menoleh.
“Je bent mooi vandaag. Ik meen het.” (Kau cantik hari ini. Aku sungguh-sungguh mengatakannya.)
Kau tersenyum malu. Lesung pipi kecil itu kembali muncul, membuat wajahmu semakin sulit untuk kulupakan. Matamu bertemu dengan mataku, dan untuk beberapa saat dunia terasa berhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya kami berdua yang saling memandang dalam diam.
Perlahan kau menunduk, namun aku tetap memandangmu. Ada sesuatu yang tak perlu diucapkan, sesuatu yang sudah cukup dimengerti. Kami semakin dekat, hingga jarak di antara kami hampir tak tersisa. Namun aku menahan diriku, bukan karena tidak ingin, melainkan karena aku ingin momen ini tetap utuh.

Kau mengangkat wajahmu kembali dan menatapku dengan mata yang penuh arti. Aku tersenyum, dan kau membalasnya. Senja perlahan menghilang, digantikan oleh malam yang mulai turun. Lampu-lampu mulai menyala di kejauhan, suara kota kembali terdengar, namun bagiku semua itu terasa jauh.
Karena saat itu, hanya ada aku dan dirimu.

“Terima kasih sudah datang,” kataku pelan.
Kau mengangguk. “Aku tidak akan melewatkan janji ini.”
Kami duduk lebih lama, berbicara tentang hal-hal sederhana, tentang hari-hari yang telah kami lewati, tentang mimpi yang belum tercapai, dan tentang masa depan yang masih samar. Waktu terasa berjalan begitu cepat, hingga tanpa kami sadari malam telah benar-benar tiba.
Kami bangkit dari tempat duduk itu dan berjalan kembali ke arah jalan pulang. Langkah kami pelan, seolah tidak ingin segera berpisah. Namun kami tahu, perpisahan itu tetap akan datang.

Sebelum benar-benar berpisah, aku menatapmu sekali lagi. Dalam hatiku aku berkata bahwa perhatianku kini telah sepenuhnya menjadi milikmu, bahwa kehadiranmu telah mengisi ruang yang sebelumnya kosong, dan bahwa kau telah menjadi bagian dari kisah yang tak akan mudah kulupakan.
Malam itu terasa berbeda. Lebih sunyi, namun juga lebih penuh makna. Dan aku tahu, sejak saat itu, tidak ada lagi yang sama seperti sebelumnya.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang