Bagian yang Hilang (part 5)

2 2 0
                                        

Pagi itu datang tanpa banyak suara, hanya desir angin yang menyentuh dedaunan seperti seseorang yang ragu mengetuk pintu kenangan. Ratna berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya, menatap dirinya sendiri seolah mencoba meyakinkan bahwa keputusan yang ia ambil bukan sekadar luapan emosi sesaat. Di belakangnya, Raisa duduk di tepi ranjang sambil memainkan ujung rambutnya, sementara Annalise berdiri di ambang pintu, diam, seperti bayangan yang akhirnya menemukan tubuhnya kembali.

Ratna menarik napas panjang. Hari itu bukan sekadar hari biasa. Hari itu adalah hari di mana ia harus mengembalikan sesuatu yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati, bahkan mungkin lebih dari yang seharusnya.

Langkah mereka bertiga menuju rumah Seno terasa lebih berat dari biasanya. Jalan yang hanya berjarak tiga kilometer itu seperti memanjang berkali-kali lipat, seakan waktu sendiri enggan mempercepat pertemuan yang akan mengubah segalanya. Raisa menggenggam tangan Ratna dengan erat, sementara tangan satunya menggenggam ujung gaun Annalise.

“Apa kita akan bertemu Ayah?” tanya Raisa pelan.
Ratna tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu tersenyum tipis. “Iya, Nak. Hari ini kamu akan bertemu seseorang yang sangat penting.”
Annalise hanya menatap lurus ke depan. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar. Semua kata sudah terlalu lama terpendam, hingga kini terasa asing untuk diucapkan.

Setibanya di depan rumah Seno, suasana mendadak sunyi. Rumah itu masih sama—dindingnya, jendelanya, bahkan kursi kayu di teras yang dulu sering mereka duduki bersama. Namun hari itu, semuanya terasa berbeda. Ada sesuatu yang akan selesai, atau mungkin baru saja dimulai.
Ratna mengetuk pintu.

Tak lama, terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka perlahan, dan di sanalah Seno berdiri—dengan wajah yang sama, tetapi mata yang telah melewati banyak hal. Ia sempat tersenyum saat melihat Ratna, tapi senyum itu perlahan memudar ketika matanya bergeser.

Ke arah Annalise.

Dan berhenti.

Waktu seperti berhenti bergerak. Udara terasa menebal. Seno tak berkata apa-apa. Hanya menatap, seolah takut jika berkedip maka sosok itu akan hilang lagi seperti dulu.

“Ann…” suaranya pecah, hampir tak terdengar.

Annalise menunduk, air matanya jatuh tanpa aba-aba. “Aku kembali, Seno.”

Belum sempat Seno melangkah, Raisa menarik tangan Ratna dan maju satu langkah. Ia menatap Seno dengan penuh rasa ingin tahu.

“Apakah… kau Ayahku?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari apapun.

Seno membeku. Pandangannya berpindah dari Raisa ke Annalise, lalu ke Ratna. Dunia yang selama ini ia pahami runtuh dalam satu detik, digantikan oleh kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.

Ratna menatapnya dengan mata yang basah, tapi penuh ketegasan. “Dia… anakmu, Seno.”

Sunyi.

Seno mundur satu langkah, tangannya gemetar. Ia menggeleng pelan, seolah menolak realitas yang terlalu cepat datang.

“Tidak mungkin… Ann… ini…”

Annalise melangkah maju, suaranya lirih tapi pasti. “Aku tidak pernah pergi tanpa alasan. Aku melindungi apa yang kita ciptakan… apa yang lahir dari kita.”

Raisa menatap keduanya, bingung, tapi ada sesuatu di matanya yang seolah mengerti tanpa perlu dijelaskan. Ia melangkah mendekat ke Seno.
“Kalau kau Ayahku… kenapa baru sekarang?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menyayat.

Seno berlutut perlahan di depan Raisa. Tangannya ragu-ragu, tapi akhirnya menyentuh pipi kecil itu. Hangat. Nyata.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang