Ann, izinkan aku berbicara lagi denganmu malam ini. Bagaimana kabarmu di sana—apakah baik-baik saja, atau justru sedang berperang dengan sesuatu yang tak kasatmata? Aku berharap, untuk sekali ini saja, kau datang tanpa ragu, duduk di sampingku, dan menemaniku ketika gelap mulai jatuh perlahan di pelupuk matamu. Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan, begitu banyak kata yang telah tersusun rapi di kepalaku, namun entah mengapa, semuanya terasa sulit untuk keluar. Mungkin kau bisa memahaminya lewat diamku, lewat cara aku memandangmu tanpa perlu banyak bicara.
Senja hari itu datang seperti biasa, membawa lautan jingga yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Warna-warna yang semula hangat berubah menjadi dingin, dilapisi oleh gelap yang menyelimuti langit dengan coraknya yang tak pernah sama. Aku menyalakan lilin dengan hati-hati, menjaga agar api kecil itu tetap hidup. Tidak ada angin yang mengganggu malam itu, seolah semesta pun sepakat memberi ruang bagi kita untuk berbicara. Kutaruh lilin itu di atas piring kecil, membiarkan tetesan lilinnya membeku menjadi bentuk-bentuk yang tak beraturan. Dan anehnya, di tengah gelap yang luas itu, satu titik cahaya kecil sudah cukup membuat hatiku merasa tenang.
Di hadapanku, kau duduk dengan tenang, Ann. Jemarimu sibuk merajut syal merah dari benang wol yang lembut. Aku tahu dari mana asal benang itu—dari domba yang diternak tak jauh dari rumah kita, sekitar seratus dua puluh meter ke arah selatan. Tempat itu sederhana, dengan halaman luas dan pagar kayu mahoni yang mulai lapuk dimakan waktu. Namun di situlah, tanpa kau sadari, sebagian dari kehangatan kita berasal.
Aku berjalan perlahan ke arahmu, membawa secangkir teh hijau yang baru saja kuseduh. Uapnya masih mengepul, menari-nari kecil di udara malam yang dingin. Kutaruh cangkir itu di dekatmu, agar kau tak perlu menjangkau terlalu jauh. Aku tahu kau menyukai teh seperti itu—tidak terlalu manis, tidak pula terlalu pahit. Aku duduk di sampingmu, meniup perlahan uap panas yang naik dari permukaan cangkirku sendiri. Meski aku tak pernah benar-benar menyukai minuman panas, malam itu terasa berbeda. Seolah setiap tegukan adalah bagian dari percakapan yang tak terucap.
Ini bukan akhir dari cerita kita, Ann. Apa yang sedang kita jalani sekarang hanyalah jeda kecil—intermeso yang kubuat untuk menenangkan rinduku yang terlalu lama tertahan. Aku membayangkan kita tumbuh bersama, menua dalam cerita yang sama. Kita akan berbicara tentang hari tua, tentang anak-anak yang mungkin akan kita besarkan dengan cara yang kita pelajari dari kesalahan kita sendiri. Kita akan memasak bersama, tertawa karena hal-hal kecil, dan mungkin berdebat tentang hal-hal sepele yang pada akhirnya akan kita lupakan.
Aku membayangkan kita berjalan di pagi hari, berolahraga bersama, atau sekadar duduk menikmati udara tanpa perlu membicarakan apa pun. Hal-hal sederhana itu terasa begitu jauh, namun juga begitu dekat dalam bayanganku. Dan anehnya, di tengah semua itu, aku merasa kau juga merindukanku.
Aku di sini baik-baik saja, Ann. Jangan terlalu mencemaskanku. Jika ada yang perlu kau khawatirkan, mungkin justru aku yang harus bertanya tentang kabarmu. Karena hingga detik ini, aku masih menunggu jawaban yang tak pernah benar-benar kau kirimkan.
Banyak orang mulai bertanya tentangmu. Bahkan ada yang secara terang-terangan ingin bertemu denganmu. Aku tidak akan menyebutkan siapa, tapi aku tahu, jika kau bertemu dengannya, ia akan terpesona oleh caramu berbicara, oleh caramu memandang dunia. Di sisi lain, ada pula yang tidak menyukaimu. Tapi itu wajar, bukan? Manusia selalu terbagi dalam dua sisi—yang menerima dan yang menolak. Kau tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Biarkan saja semuanya berlalu seperti angin yang tak pernah menetap.
Aku tetap di sini, Ann. Tidak ke mana-mana.
Menunggumu, seperti biasa.
Malam semakin larut, dan lilin di hadapan kita mulai mengecil. Cahayanya bergetar pelan, seolah kelelahan menjaga terang di tengah gelap yang semakin dalam. Aku masih duduk di sampingmu, masih memikirkan bagaimana cerita ini akan berlanjut. Tentangmu, tentang aku, tentang segala hal yang belum sempat kita pahami.
Pikiran-pikiran itu masih berkeliaran bebas di benakku, belum menemukan bentuk yang utuh. Ada terlalu banyak hal yang belum bisa disatukan, namun juga belum siap untuk dipisahkan. Mungkin semuanya membutuhkan waktu. Mungkin semuanya memang harus berjalan seperti ini.
Untuk saat ini, aku hanya ingin tetap di sini—di ruang tamu yang sunyi, dengan cahaya lilin yang menjadi satu-satunya saksi. Menunggu kata-kata itu kembali datang, menunggu bagian selanjutnya menemukan jalannya sendiri.
Dan ketika saat itu tiba, aku akan kembali memanggil namamu.
Ann.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Fiction généraleAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
