Dua tahun berlalu seperti air yang tak pernah benar-benar bisa digenggam, hanya dirasakan alirnya lalu dilepaskan tanpa sempat ditanya ke mana ia akan bermuara. Waktu mengubah banyak hal, termasuk wajah rumah kecil yang kini tak lagi terasa sepi.
Ratna berdiri di beranda, menyapu halaman dengan gerakan yang teratur. Pagi itu cerah, terlalu cerah untuk menyisakan kegelisahan. Namun entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak, seperti ada sesuatu yang akan datang tanpa diundang.
Di dalam rumah, suara tawa kecil terdengar sesekali. Bukan miliknya. Bukan pula milik Seno. Itu suara anak tetangga yang sering bermain di sana. Ratna tersenyum tipis, meski ada ruang kosong yang belum pernah benar-benar terisi.
Seno sudah berangkat lebih dulu pagi itu, seperti biasa. Membawa dirinya ke rutinitas yang kini lebih stabil, lebih tenang. Ia jarang lagi menyebut nama yang dulu pernah menjadi pusat dari segala kegelisahan.
Ratna menghela napas panjang, lalu berhenti menyapu. Angin berembus pelan, membawa sesuatu yang tak biasa—aroma asing yang terasa terlalu dikenal.
Langkah kaki terdengar dari arah gerbang.
Ratna menoleh.
Seorang perempuan berdiri di sana, diam, dengan tubuh tegak namun menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Rambut pirangnya jatuh hingga bahu, matanya biru pucat seperti langit sebelum hujan turun. Anting merah delima menggantung di telinganya, berkilau tertimpa cahaya pagi.
Ratna membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Annalise…” gumamnya nyaris tanpa suara.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ratna, cukup lama, seolah memastikan bahwa ia datang ke tempat yang tepat.
“Aku tahu kamu mengenalku,” ucap Annalise pelan.
Ratna menggenggam sapu di tangannya lebih erat. “Kamu… benar-benar ada?”
Senyum tipis muncul di wajah Annalise, namun tidak sepenuhnya hangat. “Aku selalu ada.”
Ratna menelan ludah. Semua cerita yang pernah ia dengar dari Seno, semua bayangan yang selama ini ia anggap hanya ilusi—berdiri di hadapannya dalam wujud nyata.
“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Ratna, nada suaranya berubah lebih waspada.
Annalise tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke samping, lalu kembali menatap Ratna dengan sorot yang lebih dalam.
“Aku butuh bantuanmu.”
Ratna terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam cara Annalise berbicara yang membuatnya sulit untuk langsung menolak, namun juga tidak mudah untuk menerima.
“Bantuan apa?” tanyanya singkat.
Annalise melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka tidak lagi terlalu jauh.
“Ada seseorang yang harus kau jaga,” katanya.
Ratna mengernyit. “Siapa?”
Annalise tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menoleh ke belakang, memberi isyarat kecil.
Dari balik gerbang, muncul seorang anak perempuan kecil, berusia sekitar satu setengah hingga dua tahun. Rambutnya sedikit bergelombang, dengan warna yang samar antara cokelat dan pirang. Matanya… biru.
Ratna menahan napas.
Anak itu berjalan pelan, menggenggam ujung gaun kecilnya. Ia menatap Ratna dengan polos, tanpa rasa takut.
“Namanya Raisa,” ujar Annalise.
Ratna mundur setengah langkah. “Aku tidak mengerti.”
Annalise menatap anak itu sejenak, lalu kembali ke Ratna. “Aku ingin kau menjaganya. Untuk sementara.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
Ficção GeralAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
