Bagian Ketigabelas

3 1 0
                                        

Annalise adalah potret yang tak pernah benar-benar hidup, namun tak juga bisa disebut mati. Ia hadir di antara celah-celah kesadaran, menempati ruang yang tak mampu dijangkau oleh logika, dan aku, Seno, hanya bisa berdiri di ambang batas itu tanpa kepastian.

Kasih dan kisah tak pernah benar-benar berujung pada satu simpul. Mereka datang seperti angin, singgah sejenak, lalu meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus begitu saja.

Aku tidak merasa kehilangan, karena aku tak pernah benar-benar memiliki. Namun entah mengapa, kehadirannya mampu meruntuhkan segala yang kupikir telah kokoh.

Annalise datang pertama kali dalam mimpi yang terlalu nyata. Ia berdiri di hadapanku, diam, dengan rambut pirang yang jatuh di bahunya dan mata biru yang seolah menyimpan lautan yang tak pernah tenang.

Langkahnya ringan, seperti puisi yang berjalan di atas bumi. Aku menatapnya lama, mencoba memahami apakah ia nyata atau hanya bayangan yang dipahat oleh kesepian.

“Ben je echt? Of ben je gewoon mijn verlangen?” tanyaku dengan suara yang hampir hilang.

Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku, lalu memelukku dengan erat, seakan pelukan itu adalah satu-satunya bahasa yang ia miliki.

Sejak saat itu, ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hadir di sela-sela hariku, di antara asap rokok yang mengepul, di atas kanvas yang kucoret tanpa arah.
Aku mulai mengenalnya lebih jauh, atau setidaknya aku mencoba. Ia bercerita tentang kehidupannya, tentang keluarganya, tentang seseorang bernama Robert.

Setiap kali nama itu disebut, matanya berubah. Ada amarah yang tak bisa disembunyikan, ada luka yang tak pernah sembuh.

“Hij is geen broer…” katanya suatu malam dengan suara yang bergetar.

Aku terdiam, menunggu kelanjutan kalimatnya yang terasa berat.

“Dia bukan saudara… dia iblis,” lanjutnya, matanya memerah.

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tubuhku. Kata-kata itu tidak datang dari kebencian biasa.

“Aku akan membuatnya berdarah,” bisiknya pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.

Malam berikutnya, ia datang dengan wajah yang berbeda. Ada kegelisahan yang tak biasa, ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Aku harus pergi,” katanya tanpa menatapku.

“Ke mana?” tanyaku, mencoba menahannya.

Ia tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan menjauh, membawa sesuatu di tangannya.

Aku mencoba mengejarnya, namun langkahku terasa tertahan. Seolah ada batas yang tak bisa kulewati.

Ia menghilang begitu saja, meninggalkan ruang kosong yang mendadak terasa terlalu luas.

Keesokan harinya, aku mencarinya ke tempat-tempat yang pernah ia ceritakan. Namun tak ada satu pun yang mengenalnya.

Tak ada yang pernah melihatnya. Tak ada yang tahu siapa Annalise.

Seolah ia hanya ada untukku.

Keraguan mulai tumbuh, namun setiap malam ia kembali. Dengan wajah yang semakin sulit kupahami.

Suatu malam, ia datang dengan tangan berlumur merah. Aku menatapnya dengan napas tertahan.
“Aku melakukannya,” katanya lirih.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan suara gemetar.

Ia tersenyum tipis, senyum yang tak membawa kehangatan.

“Aku menulis pesan,” jawabnya.

“Pesan apa?” tanyaku lagi, semakin dalam tenggelam dalam ketakutan.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang