Bagian yang Hilang (part 6)

1 1 0
                                        

Angin sore menyusup pelan ke sela-sela jendela yang setengah terbuka, membawa aroma tanah yang basah oleh sisa hujan semalam. Seno masih berdiri di tempat yang sama, seolah kakinya tertanam di lantai rumah yang menjadi saksi perubahan hidupnya dalam satu hari. Raisa duduk di kursi kecil, memeluk lututnya, sementara Annalise berdiri menghadap jendela, punggungnya tegak, seperti seseorang yang telah terlalu lama berdiri melawan badai hingga lupa bagaimana rasanya berlindung.

“Aku belum selesai,” ucap Annalise pelan, tanpa menoleh.

Seno mengangkat wajahnya, menatapnya dengan sisa kebingungan yang belum sepenuhnya luruh. “Apa lagi yang belum kuketahui, Ann?”

Annalise menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak, seperti sedang membuka lembaran yang selama ini ia segel rapat.

“Yang kubilang tadi… tentang perlawanan… itu bukan sekadar kata,” lanjutnya. “Itu adalah sesuatu yang nyata. Terstruktur. Dan… berbahaya.”

Seno melangkah mendekat. “Kau tidak sendirian?”
Annalise menggeleng pelan.

“Aku bagian dari sebuah forum,” katanya. “Namanya Vrije Woord.”

Nama itu terdengar asing, tapi memiliki gema yang aneh di telinga Seno.

“Vrije Woord?” ulangnya.

“Forum sastra bebas,” jelas Annalise. “Tapi itu hanya wajah luarnya.”

Ia akhirnya menoleh, menatap Seno dengan mata yang menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cerita.

“Di balik puisi, esai, dan cerita… kami menyembunyikan perlawanan.”

Seno terdiam.

“Setiap tulisan yang kami publikasikan bukan hanya kata,” lanjut Annalise. “Itu adalah kode. Pesan. Peta.”

Raisa menatap ibunya, matanya berbinar, seolah mendengar kisah dari dunia lain.

“Aku tidak menyangka…” gumam Seno.

Annalise tersenyum tipis. “Aku juga tidak menyangka akan sampai sejauh ini.”

Ia berjalan perlahan, lalu duduk di kursi kayu, seolah tubuhnya akhirnya mengizinkan dirinya untuk beristirahat.

“Awalnya aku hanya ingin bertahan hidup,” katanya. “Tapi semakin aku melihat… semakin aku tahu… bahwa aku tidak bisa hanya bersembunyi.”

Seno duduk di hadapannya.

“Jadi kau memilih melawan.”

Annalise mengangguk.

“Vrije Woord bukan sekadar forum,” lanjutnya. “Itu adalah tempat bagi orang-orang yang tidak punya suara… untuk berbicara.”

“Dan kau…?”

“Aku salah satu penggeraknya.”

Sunyi.

Seno menatapnya tak percaya. “Seberapa dalam kau terlibat?”

Annalise tersenyum kecil.

“Cukup dalam… untuk membuat namaku ada dalam daftar orang yang harus dihapus.”

Udara terasa menegang.

“Ann…” suara Seno bergetar. “Kau sadar apa yang kau hadapi?”

“Aku sangat sadar,” jawab Annalise tenang. “Setiap hari aku hidup dengan kemungkinan itu.”

Ia menatap Raisa.

“Dan justru karena itu… aku tidak boleh berhenti.”

Raisa mendekat, memeluk Annalise dari samping.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang