Halaman Terakhir

0 1 0
                                        

Tik… tik… tik… suara itu jatuh perlahan, menetes dari waktu yang tak pernah berhenti bergerak, seolah setiap detiknya adalah jarum halus yang menusuk kesadaran, mengingatkan bahwa sesuatu telah berlalu dan tak akan pernah kembali utuh seperti semula. Tik… tik… tik… bunyi itu bergaung di ruang yang sempit, bercampur dengan lirihnya biola yang mulai mengalun dari kejauhan, menggesek pelan setiap lapisan kenangan yang kusimpan terlalu rapi tentangmu, Annalise.

Air mengalir di telaga wajahmu yang tak lagi bisa kusentuh, gemericiknya membentuk harmoni yang aneh, seperti pertemuan antara rindu dan kehilangan yang tak pernah menemukan titik temu. Aku membaca kisah ini lagi, halaman demi halaman, berharap ada satu bagian yang bisa mengubah akhir, namun semakin dekat aku pada penghujungnya, semakin aku sadar bahwa tak ada yang bisa diselamatkan dari cerita kita.

Aku duduk diam, tubuhku nyaris tak bergerak, namun pikiranku menjelajah jauh ke dunia yang pernah kau ciptakan untukku, dunia yang sederhana namun terasa utuh, dunia di mana tawamu menjadi pusat semesta, dan aku hanya seorang penonton yang terlalu lama terpikat.

Wajahmu datang tanpa diminta, terlukis begitu jelas di benakku, tanpa cacat, tanpa rekayasa, seolah waktu tak pernah menyentuhmu. Aku tersipu, bukan karena malu, tapi karena aku sadar betapa mudahnya aku jatuh, dan betapa sulitnya aku bangkit.

Pertanyaan mulai bermunculan seperti hujan yang tak bisa dihentikan. Apa lagi yang tersisa dari dunia ini selain kelelahan yang disembunyikan? Apakah keajaiban itu benar ada, atau hanya dongeng yang diciptakan untuk menenangkan hati yang gelisah?

Di mana letak kebahagiaan yang sering orang bicarakan? Apakah ia tersesat seperti aku? Atau justru aku yang terlalu jauh berjalan hingga tak lagi mampu menemukannya?
Kapan semua ini akan berubah? Kapan hidup ini kembali terasa hidup? Kenapa setiap langkah terasa hampa, seolah aku berjalan tanpa arah di lorong yang tak berujung?
Dan yang paling menyakitkan, bagaimana mungkin semua itu terjadi jika aku dan kamu tak pernah dipertemukan kembali, Ann?

Halaman buku di tanganku mulai habis, namun pikiranku justru semakin penuh. Setiap kalimat yang kubaca seperti membuka luka yang belum sempat sembuh, mengingatkanku pada sesuatu yang seharusnya telah kulepaskan.

Aku tertawa kecil, getir dan tanpa makna, karena aku mulai menyadari betapa absurdnya pikiranku sendiri. Mengapa aku terus berkutat pada kisah lama, sementara di luar sana ada banyak kemungkinan yang menunggu untuk diciptakan?
Mengapa aku tidak mencoba menulis cerita baru? Cerita tanpa bayangmu, tanpa bayang kita, tanpa luka yang sama?
Namun aku tahu jawabannya. Karena tidak semua orang bisa dengan mudah mengganti halaman hidupnya, terutama ketika satu bab telah tertulis terlalu dalam.

Aku memang membuka diri, namun hanya pada segelintir orang yang mampu memahami sunyi yang kubawa. Dan itu tidak salah, karena setiap manusia berhak memilih siapa yang boleh masuk ke dalam ruang terdalamnya.

Hidupku masih berjalan, meski terasa seperti sisa dari sesuatu yang telah mati. Aku masih bernapas, masih melangkah, namun sebagian dariku tertinggal bersamamu, Annalise.

Aku melanjutkan membaca buku lain, mencoba mencari jawaban dari cerita yang berbeda, berharap menemukan sudut pandang baru yang bisa menuntunku keluar dari lingkaran ini.

Namun ada satu hal yang tidak bisa kusetujui. Ungkapan bahwa kita adalah Tuhan bagi cerita kita sendiri terdengar terlalu berani, terlalu sombong untuk kuimani.

Kita bukan pencipta yang absolut. Kita hanya pemeran yang mencoba memahami naskah yang bahkan tidak kita tulis sendiri.

Mungkin benar kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita, namun bukan berarti kita memiliki kendali penuh atas alurnya.

Karena ada hal-hal yang tetap berjalan di luar kuasa kita, seperti pertemuan kita dulu, dan perpisahan kita kini.

Benar dan salah tetaplah berbeda, tak bisa diputarbalikkan hanya karena perspektif. Namun dalam perasaan, batas itu sering kali menjadi kabur.

Aku kembali tersenyum, menyadari bahwa pikiranku mulai melantur ke arah yang tak jelas. Tapi mungkin itulah caraku bertahan, membiarkan diriku tersesat agar tidak terlalu fokus pada satu luka.

Tanpa kusadari, aku telah menulis begitu banyak tentangmu, tentang kita, tentang sesuatu yang mungkin hanya berarti bagiku sendiri.

Aku tidak tahu siapa yang akan membaca ini, atau bagaimana mereka akan memaknainya. Dan jujur saja, aku tidak terlalu peduli.

Karena tulisan ini bukan tentang mereka. Ini tentang aku yang mencoba berdamai.

Setiap kata yang kau baca di sini adalah sesuatu yang tak pernah bisa kuucapkan secara langsung. Ia terlalu rapuh untuk disampaikan, terlalu jujur untuk dipertontonkan.

Aku tidak meminta kau memahami semuanya. Aku hanya berharap kau merasakan sebagian kecil dari apa yang kurasakan.

Namun jika tidak pun tak apa. Karena kebahagiaanmu jauh lebih penting daripada segala yang aku tulis di sini.

Tak akan ada cinta yang benar-benar sama, karena setiap rasa memiliki bentuknya sendiri. Dan rasa kita, Ann, adalah sesuatu yang tak bisa diulang.

Tak ada yang benar-benar terasing dalam dunia ini, hanya saja ada yang memilih untuk berjalan sendiri.

Tak ada keikhlasan yang benar-benar sembuh, ia hanya belajar untuk diam dan tidak lagi berteriak.

Gunakan kebahagiaanmu sebaik mungkin, Annalise. Jangan sisakan ruang untuk penyesalan yang tak perlu.
Karena suatu saat, mungkin tanpa kau sadari, sebagian kecil dari kebahagiaan itu akan kubawa pergi, sebagai bekal untuk perjalanan selanjutnya.

Aku masih berdiri di pelataran rumah Al-Rui, tempat yang belum pernah benar-benar selesai dibangun, seperti diriku yang belum benar-benar pulih.

Pintu itu masih tertutup, belum siap diketuk, belum siap menerima siapa pun yang datang.

Dan di awal tahun ini, satu Januari dua ribu dua puluh tiga, aku hanya bisa mengamini satu hal sederhana.

Semoga kau bahagia, Annalise.

Meski tanpa aku di dalamnya.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang