Bagian yang Hilang (part 1)

2 1 1
                                        

Hujan turun dengan ritme yang lebih ramah sore itu, seolah tak lagi membawa duka, melainkan jeda bagi luka yang terlalu lama dipeluk. Seno duduk di beranda rumahnya, menatap halaman yang mulai basah oleh sisa gerimis. Tidak ada rokok di tangannya hari itu. Tidak ada pula bayangan Annalise yang biasanya datang tanpa permisi. Yang ada hanya suara langkah ringan dari samping rumah—langkah yang kini mulai dikenalnya tanpa harus menoleh.

Ratna datang dengan senyum yang sederhana, mengenakan kain panjang dengan atasan tipis berwarna pucat yang menari pelan diterpa angin. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai jatuh di pipi, menambah kesan hangat yang tak dibuat-buat. Ia tidak membawa apa-apa, kecuali dirinya sendiri—dan entah mengapa, itu sudah lebih dari cukup.

“Kamu melamun lagi, Mas?” tanyanya pelan sambil duduk di sebelah Seno.

Seno menoleh, menatapnya cukup lama, seolah memastikan bahwa yang duduk di sampingnya benar-benar nyata. Tidak seperti bayangan yang dulu sering mengaburkan batas antara mimpi dan sadar. Ia tersenyum tipis.

“Tidak. Kali ini tidak,” jawabnya.

Ratna mengangguk kecil, lalu menyandarkan bahunya ke lengan Seno. Tidak ada penolakan. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Seno tidak merasa perlu menjauh dari sentuhan itu.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang berbeda. Seno mulai terbiasa dengan kehadiran Ratna yang tidak memaksa, tetapi selalu ada. Pagi hari ia datang membawa sarapan sederhana, siang hari ia menunggu di bawah pohon dekat sekolah, dan sore hari ia kembali ke beranda itu—tempat di mana mereka mulai membangun sesuatu yang pelan-pelan terasa utuh.

Mereka tidak banyak membicarakan masa lalu. Tidak ada nama Annalise yang disebut. Tidak ada pertanyaan tentang luka lama yang belum sembuh. Ratna paham, dan Seno memilih diam sebagai bentuk terima kasih.

Suatu sore, Ratna mengajak Seno berjalan ke arah kali Pegirian. Tempat yang dulu penuh kenangan, kini terasa asing namun tidak lagi menyakitkan. Air mengalir seperti biasa, membawa sisa-sisa waktu yang pernah mereka tinggalkan.

“Mas ingat tempat ini?” tanya Ratna.

Seno mengangguk. “Ingat. Tapi rasanya berbeda.”
“Lebih ringan?” Ratna menimpali.

Seno tersenyum. “Lebih... tidak menyiksa.”
Ratna tertawa kecil. Ia menggenggam tangan Seno tanpa ragu, dan kali ini Seno tidak menariknya. Mereka berjalan berdampingan, tanpa bayang masa lalu yang mengintai di belakang.

Malamnya, mereka duduk di ruang tamu rumah Seno. Lampu redup, suara jangkrik menjadi latar yang menenangkan. Ratna menyeduh teh hijau, sama seperti yang sering diceritakan Seno dalam kisah-kisah lamanya. Namun kali ini, bukan kenangan yang hadir—melainkan kenyataan.

“Mas,” ujar Ratna pelan, “aku tidak ingin menggantikan siapa pun.”

Seno menatapnya.

“Aku hanya ingin jadi seseorang yang ada sekarang. Di sini. Sama kamu.”

Seno menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan kamu?” Ratna bertanya lagi. “Mas masih… terikat?”
Pertanyaan itu menggantung beberapa detik di udara. Seno menunduk, menatap cangkir di tangannya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi untuk sekarang… aku tidak memikirkannya.”
Ratna tersenyum. Bukan karena jawabannya sempurna, tapi karena kejujuran itu terasa cukup.
Hari demi hari, Seno mulai berubah. Ia kembali tertawa tanpa beban. Ia kembali berbicara tanpa jeda panjang yang biasanya diisi oleh nama yang tak pernah disebut. Ratna menjadi ruang yang tidak memaksa, tempat di mana Seno bisa bernafas tanpa harus mengingat bagaimana caranya.

Mereka memasak bersama di dapur kecil, saling mengejek saat bumbu terlalu asin, atau tertawa saat nasi hampir gosong. Hal-hal sederhana yang dulu terasa mustahil bagi Seno, kini menjadi rutinitas yang menenangkan.

Suatu malam, saat listrik padam, mereka duduk berdua ditemani cahaya lilin. Bayangan mereka menari di dinding, membentuk siluet yang saling mendekat.

“Mas,” Ratna berbisik, “kalau suatu hari kamu mengingatnya lagi… aku tidak apa-apa.”

Seno menatapnya, sedikit terkejut.

“Aku tahu aku tidak bisa menghapusnya,” lanjut Ratna, “tapi aku ingin jadi alasan kenapa kamu memilih tetap tinggal.”

Kalimat itu tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Seno bergerak. Ia meraih tangan Ratna, menggenggamnya dengan pelan.

“Aku di sini,” katanya singkat.

Dan malam itu, tanpa perlu banyak kata, mereka saling memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang sebagai pengganti—kadang ia hadir sebagai jeda, sebagai ruang baru yang tidak menuntut, hanya menawarkan.

Seno mungkin belum sepenuhnya melupakan Annalise. Nama itu masih tersimpan di sudut yang tak tersentuh. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menjadi pusat dari segalanya.

Ratna tidak menggantikannya.

Ratna hanya hadir.

Dan justru karena itu, Seno mulai belajar bahwa kebahagiaan tidak harus sempurna untuk bisa dirasakan.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang