Bagian Keduabelas

2 1 0
                                        

Kasih dan kisah sering kali berjalan tanpa ujung, Ann, seperti air yang perlahan membeku menjadi es—padat, dingin, dan diam, namun tetap menyimpan riwayat geraknya. Dari perubahan itu, aku belajar bahwa setiap peristiwa memiliki cara sendiri untuk lahir, tumbuh, dan berdiri tanpa bantuan siapa pun. Semua makna tersembunyi di balik sudut pandang; dari kiri ia tampak luka, dari kanan ia tampak harapan, dari tengah ia tampak biasa saja. Bahkan dari atas dan bawah, cerita yang sama bisa berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Semua kembali pada siapa yang membaca, dan bagaimana ia ingin memahami.

Kau, Annalise, adalah bagian dari perubahan itu. Perempuan keturunan Belanda yang perlahan masuk ke dalam hidupku dua tahun silam, seperti bayang yang awalnya samar lalu menjelma nyata. Kau datang dalam mimpi, lalu muncul dalam wujud yang tak bisa lagi kuabaikan. Dalam pandanganku, kau bukan sekadar perempuan—kau adalah keinginan untuk menjadi pusat, untuk diakui, untuk hidup di tengah dunia yang menolakmu.

Namun hidupmu tidak pernah sederhana. Kau berdiri di antara tekanan keluarga, bayang saudara, dan dunia yang menganggap perempuan sebagai sesuatu yang bisa dimiliki. Kau adalah cinta yang terinjak oleh nafsu, berjalan di jalan setapak yang curam tanpa pegangan. Kau mencoba kembali, namun akar yang menjeratmu terlalu dalam—sosial, batin, adat, keluarga, bahkan politik, semuanya menahan langkahmu.

Pada usia sembilan belas tahun, tepat pada empat belas Desember seribu sembilan ratus dua puluh empat, kau melihat dunia dengan cara yang berbeda. Saat senandika memilih pergi dan gelap menutup seluruh penjuru negeri, kau justru terjaga. Kau tidak lagi bersekolah, tidak lagi menjadi gadis yang mengejar ilmu. Kau dijadikan objek oleh kebangsatan yang menamakan dirinya kuasa.

Namun kau menolak, Ann.

Kau menolak menjadi bayangan dari kehendak orang lain.

Kau menolak menjadi tubuh tanpa suara.

Kau menolak Robert.

Dalam diam, kau menyusun perlawanan. Batinmu bergejolak, dadamu penuh dengan amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Tekadmu bulat, semangatmu menyala, dan dendammu menghitam seperti malam tanpa bintang. Kau tidak lagi ingin lari. Kau memilih berdiri, meski harus melawan darah yang sama.

Rencana itu kau bangun perlahan, seperti pelukis yang menyiapkan kanvas sebelum menggoreskan warna. Kau mencari belati, mencari sesuatu yang bisa mewakili amarahmu. Di belakang rumah, kau menemukan seekor ayam—makhluk sederhana yang menjadi saksi awal dari rencanamu. Kau tangkap, kau bawa ke kamar pengantin yang telah kehilangan maknanya. Di sana, tanpa ragu, kau menggores lehernya.

Darah mengalir.

Merah.

Hangat.

Nyata.

Kau biarkan darah itu jatuh ke lantai, menggenang tanpa aturan. Dengan telapak tanganmu, kau menulis di dinding—kata-kata yang bukan sekadar ancaman, tetapi pernyataan.

“De dood wacht.”

Kematian sudah menanti.

Sementara itu, di dunia yang lain, aku tetap berjalan seperti biasa. Aku berangkat ke sekolah, menyapa dunia dengan senyum yang sama, seolah tidak ada yang berubah. Aku masih menjadi Seno yang dikenal banyak orang—pribumi dengan lesung pipi yang tak pernah lepas, bahkan saat hatiku sedang retak. Semua kebutuhan terpenuhi, semua jalan terasa mudah, berkat nama besar bapakku.

Namun di balik itu, ada kekosongan yang tak bisa kuisi.

Saat suasana hatiku memburuk, aku mengingatmu. Kadang aku tersenyum, mengingat caramu memandangku. Kadang aku marah, mengingat bagaimana kau pergi tanpa kata. Lebih dari satu tahun aku mencarimu, namun kau tak pernah kembali. Tempat-tempat yang dulu kita datangi kini hanya menyisakan bayang.

Ratna melihat semua itu.

Ratna mendengar semuanya.

Empat ratus tiga puluh tujuh malam ia menemani keluh kesahku tentangmu. Ia mendengarkan setiap versi ceritaku, setiap luka yang kuceritakan berulang-ulang. Ia tahu bagaimana kau menghilang tanpa jejak, tanpa penjelasan, tanpa penutup.

Namun Ratna tidak pergi.

Ia tetap tinggal.

Ia mencoba menggantikanmu, dengan caranya sendiri. Ia menawarkan hatinya, bahkan tubuhnya, berharap aku melihatnya bukan sebagai bayang, tetapi sebagai tujuan. Kadang aku merespons, tenggelam dalam kehangatan yang ia berikan. Kadang aku menolak, membiarkannya berdiri sendiri dalam sunyi.

Ah, hati memang tak pernah sederhana.
Namun di antara semua itu, ada kenangan yang tak bisa dihapus.

Aku ingat malam di dekat Kali Pegirian. Penginapan kecil itu menjadi saksi bagaimana kita berbicara tanpa takut waktu berakhir.

“Gaan we verder met Seno?” katamu waktu itu. (Apakah kita akan terus bersama, Seno?)

Aku tersenyum, menyibak rambutmu dengan lembut. “Ik zal bij je blijven, zelfs als de wereld wordt vernietigd.” (Aku akan tetap bersamamu, bahkan jika dunia hancur sekalipun.)

Kau mengecupku, lalu berbisik, “Neem me in je ribben zodat ik je kan vergezellen zolang we nog staan en ademen in dit land.” (Bawalah aku ke dalam tulang rusukmu, agar aku bisa menemanimu selama kita masih berdiri dan bernapas di negeri ini.)

Janji itu masih terukir, Ann.

Namun kini, semua terasa jauh.

Kita pernah tertawa, pernah menangis, pernah saling mencaci dan memeluk dalam waktu yang sama. Semua emosi itu menyatu, membentuk sesuatu yang kita sebut hubungan. Namun apakah itu selamanya?

Atau hanya ilusi yang kita percayai?

Dari hilir ke hulu, perjalanan ini melelahkan. Kita berenang dalam arus yang tak selalu ramah, dan pada akhirnya kita butuh berhenti. Istirahat bukanlah kelemahan, melainkan cara untuk bertahan.

Sekarang, pertanyaannya sederhana.

Bagaimana kau bertaut dengan detak jantung orang di sampingmu?

Bagaimana kau mengisi kekosongan di dalam pikiranmu?

Bagaimana kau bertahan saat janji-janji masa depan mulai terasa rapuh?

Jika suatu hari kau menangis di jalan pulang, biarkan itu terjadi. Bukan untuk menunjukkan kelemahan, tetapi untuk memberi ruang pada dirimu untuk pulih. Jangan terburu-buru mengambil keputusan saat emosi menguasai. Karena tidak semua yang retak harus diakhiri.

Dan jika akhirnya harus berpisah, biarlah itu terjadi dengan tenang.

“Selamat jalan,” kataku dalam hati.

“Aku akan pergi lebih dulu.”

“Kau akan menyusul, bukan?”

“Jangan terlalu lama.”

Di ujung cerita ini, bahkan bunga edelweis pun bisa layu sebelum waktunya.

Dan di sebuah telaga di Surabaya, aku berdiri, mencoba memahami bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk abadi.

Namun semua cinta—tetap layak untuk dikenang.

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang