Rangga dan Ian terkejut dan terpaku di tempat ketika mereka melihat Fransis dan Sui berkelahi di dalam UKS.
Mereka tidak menyangka bahwa situasi akan menjadi begitu parah. Kedua orang itu saling memukul dan menendang dengan keras, wajah mereka merah dan mata mereka berkobar dengan kemarahan. Suara pukulan dan tendangan terdengar keras dan memecah keheningan di koridor sekolah.
Rangga dan Ian langsung bereaksi, mereka berlari menuju ke arah Fransis dan Sui untuk melerai pertarungan.
Namun, ketika mereka mencoba untuk melerai, mereka sadar bahwa situasi ini tidak akan mudah untuk diatasi. Fransis dan Sui terlalu keras kepala dan emosi mereka terlalu tinggi, sehingga mereka tidak mau berhenti berkelahi. Rangga dan Ian harus berpikir cepat untuk menemukan cara untuk melerai pertarungan sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Maulana duduk bersandar di sofa, memegangi perutnya yang sakit dengan wajah yang menunjukkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Fira duduk di sampingnya, menatapnya dengan khawatir dan penuh perhatian. Ketika Rangga masuk ke ruangan, Maulana memandang Rangga dengan mata yang sedikit lelah, namun langsung fokus ketika melihat ekspresi Rangga yang penuh dengan kecemasan.
"Apa yang terjadi?" tanya Maulana dengan suara yang lembut namun penuh dengan rasa penasaran, sambil tetap memegangi perutnya yang sakit.
"Pak Ivan, Pak Fransis dan temannya berkelahi, Pak. Mereka tendang-tendangan juga pukul-pukulan. Pokoknya ngeri, Pak."
Rangga langsung menjelaskan situasi yang terjadi di UKS, tentang pertarungan antara Fransis dan Sui.
Maulana mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang semakin besar. Fira juga menatap Rangga dengan khawatir, tidak suka melihat Maulana semakin khawatir.
Ketika Rangga selesai berbicara, Maulana berusaha untuk bangkit dari sofa, meskipun dengan rasa sakit yang jelas terlihat di wajahnya.
Fira langsung membantu Maulana untuk berdiri, dan Maulana meminta Rangga untuk membantunya ke lantai dua untuk melerai pertarungan.
Maulana memaksakan diri untuk berjalan menuju lantai dua, setiap langkah yang diambil membuatnya semakin kesakitan. Rasa sakit yang menusuk di perutnya seperti api yang membakar, membuat napasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya yang pucat dan berkeringat menunjukkan betapa besar usaha yang dia lakukan untuk tidak menyerah pada rasa sakit.
Setiap langkah yang diambil Maulana terasa seperti hukuman, rasa sakit yang tajam dan menusuk membuatnya ingin berhenti dan beristirahat. Namun, dia tidak bisa menyerah, dia harus melerai pertarungan antara Fransis dan Sui. Maulana menggigit bibirnya yang kering, menahan rasa sakit yang tidak tertahankan.
Fira dan Rangga berjalan di sampingnya, menatapnya dengan khawatir dan penuh perhatian. Mereka bisa melihat betapa besar usaha yang dilakukan Maulana untuk tidak menyerah pada rasa sakit. Maulana tidak ingin menunjukkan kelemahannya, dia ingin menunjukkan bahwa dia masih bisa mengendalikan situasi.
Namun, semakin Maulana berjalan, semakin besar rasa sakit yang dia rasakan. Dia merasa seperti tidak bisa bernapas, seperti ada yang mencekik tenggorokannya. Maulana tahu bahwa dia tidak bisa terus seperti ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus melerai pertarungan sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Maulana berdiri di depan pintu UKS, matanya terbelalak melihat Sui dan Fransis berkelahi dengan sengit.
Suara pukulan dan tendangan terdengar keras, membuat Maulana merasa seperti terkejut. Dia bisa melihat bahwa pertarungan itu sudah sangat sengit, dengan kedua orang itu saling menyerang dengan keras.
Maulana merasa seperti tercekik napasnya, melihat situasi yang semakin tidak terkendali. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat untuk melerai pertarungan sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Dengan usaha yang besar, Maulana memaksakan diri untuk berbicara dengan suara yang keras, "Berhenti! Cukup!" Namun, suaranya tidak terlalu keras karena kondisi tubuhnya yang lemah.
Sui dan Fransis tidak mendengar suara Maulana, mereka terlalu fokus pada pertarungan. Maulana tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu yang lebih drastis untuk melerai pertarungan. Dengan keberanian yang luar biasa, Maulana memaksakan diri untuk maju dan memisahkan Sui dan Fransis.
Maulana hendak melerai pertarungan, tapi sebelum dia bisa melakukan apa-apa, tendangan Fransis yang kuat menghantam Sui dengan keras. Tubuh Sui terlempar ke belakang, tidak terkendali, dan menabrak Maulana dengan keras. Maulana tidak siap untuk menerima benturan itu, dan dia terjatuh ke lantai, tubuh Sui menimpanya.
Maulana merasakan sakit yang tajam di perutnya, seperti ada yang menusuknya dengan pisau. Dia berusaha untuk bernapas, tapi rasa sakit itu membuatnya sulit untuk menarik napas. Sui yang terbaring di atasnya, juga berusaha untuk bangun, tapi Maulana tidak bisa bergerak karena rasa sakit yang luar biasa.
Fransis yang masih dalam keadaan marah, tidak sadar bahwa dia telah menyebabkan Maulana terjatuh. Dia masih berdiri di tempat, menatap Sui dengan mata yang penuh kemarahan.
Namun, ketika dia melihat Maulana terbaring di lantai dengan Sui di atasnya, dia langsung sadar bahwa situasinya telah menjadi lebih buruk.
Fransis berlari ke arah Maulana."Van! Van, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.
Pandangan Maulana mulai kabur, rasa sakit yang luar biasa membuatnya merasa seperti terhisap ke dalam kegelapan.
Dia berusaha untuk fokus pada wajah Fransis yang khawatir di atasnya, tapi pandangannya semakin kabur. Maulana merasakan kelemahan yang luar biasa, seperti semua energi yang ada di dalam tubuhnya telah terkuras habis.
Suara Fransis terdengar jauh." Van! Van, jangan tidur! Tetap sadar!" Maulana berusaha untuk merespons, tapi suaranya tidak keluar.
Ia merasa seperti tenggelam dalam rasa sakit dan kelelahan, tidak bisa melawan lagi. Pandangan Maulana semakin kabur, dan Ia merasa dirinya semakin lemah.
Fira berlari menghampiri Maulana dengan wajah yang penuh panik dan khawatir. Ia langsung berlutut di samping Maulana, memanggilnya dengan suara yang penuh ketakutan, "Mas! Mas, apa Mas baik-baik saja? Jangan tinggalkan aku, Mas!" Fira memegang wajah Maulana, mencoba untuk membuatnya sadar kembali.
Rangga yang berdiri di dekatnya, juga terlihat khawatir. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi Ia tahu bahwa Maulana harus segera mendapatkan perawatan medis. "Kita harus memanggil ambulans, atau membawa Pak Ivan ke rumah sakit sekarang juga," kata Rangga dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Fransis yang masih berdiri di dekatnya, terlihat menyesal dan khawatir.
Dia tidak menyangka bahwa pertarungannya dengan Sui akan menyebabkan Maulana terjatuh dan terluka parah. "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud..." kata Fransis, tapi Fira tidak mendengarkan. Dia terlalu fokus pada Maulana, mencoba untuk membuatnya sadar kembali.
Maulana tidak pingsan, tapi Ia terlihat seperti setengah sadar karena rasa sakit yang luar biasa.
Ia berusaha untuk berbicara, tapi suaranya sangat lemah dan tidak jelas. Fira memegang tangan Maulana, mencoba untuk memberinya kekuatan dan dukungan.
"Mas, aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu," kata Fira dengan suara yang penuh kasih sayang.
Maulana berusaha untuk merespons, tapi Ia hanya bisa menggerakkan bibirnya sedikit. Fira memahami bahwa Maulana sedang mengalami kesulitan besar, dan Ia berusaha untuk tetap tenang dan mendukung.
Rangga dan Fransis berdiri di dekatnya, menunggu dengan khawatir untuk melihat bagaimana kondisi Maulana. Mereka tahu bahwa Maulana harus segera mendapatkan perawatan medis, dan mereka berusaha untuk mencari cara untuk membawanya ke rumah sakit secepat mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
