Maulana menghela napas pelan begitu panggilan berakhir, matanya masih menatap layar ponsel sebelum akhirnya meletakkannya di sisi ranjang. Rasa nyeri di perutnya belum sepenuhnya surut, tetapi ia tahu tak bisa membiarkan dirinya tetap terbaring ketika Antonio tiba. Anak itu selalu memperhatikan hal-hal kecil, dan jika dirinya terlihat terlalu lemah, mungkin akan timbul pertanyaan yang sulit dijawab.
Dengan usaha yang hati-hati, Maulana menggeser tubuhnya sedikit, lalu menekan kedua telapak tangannya ke matras, memberikan dorongan untuk merapat ke sandaran ranjang. Napasnya terdengar lebih berat, namun ia menyamarkan kelemahannya dengan tarikan panjang yang terkendali. Ponsel masih dalam genggamannya, seolah menjadi satu-satunya pegangan stabil di tengah tubuh yang masih dikuasai nyeri.
Pintu UKS terbuka tanpa ketukan lebih dulu.
"Pak!" Antonio muncul dengan langkah cepat, napasnya sedikit terengah seolah bergegas dari gerbang sekolah. Matanya menyapu keadaan ruangan sekilas sebelum tertuju pada Maulana, yang kini duduk bersandar dengan ekspresi tenang, seolah-olah ia memang sedang beristirahat biasa.
Maulana mengangkat sedikit alisnya, memberikan senyum kecil. "Cepat sekali kamu sampai."
Antonio melangkah mendekat, menyandarkan satu tangan ke sisi ranjang, masih mengamati Maulana seolah mencari sesuatu. "Tentu saja. Saya pikir Bapak masih di luar, tapi ternyata di UKS... Kenapa di sini, Pak?"
Maulana tidak langsung menjawab, hanya menyesap napas perlahan sebelum berkata, "Ada urusan sedikit dengan Fransis." Kalimatnya terdengar datar, cukup meyakinkan tanpa perlu menjelaskan lebih jauh.
Antonio menyipitkan mata, seperti menimbang jawaban itu dalam pikirannya, tetapi Ia tidak langsung menunjukkan kecurigaan. "Saya ingin bicara soal lomba gerak jalan, ada beberapa hal yang perlu dikonfirmasi."
Maulana memberi anggukan kecil, satu tangannya mengusap sisi ponselnya, sementara di dalam dirinya, ia masih berusaha meredam denyutan nyeri yang belum sepenuhnya menghilang. "Baiklah, katakan."
Itu hanya alasan Antonio saja, padahal tidak ada yang ingin dikonfirmasi melainkan mencari keberadaan Fira, biasanya dimana ada Maulana, di situ ada Fira.
Tapi ternyata tidak terlihat adanya Fira, UKS adalah ruangan yang paling dibenci Antonio, ia lebih memilih di lapangan dari pada harus di UKS meski tahu kalau lapangan masih sepi, setidaknya disana bisa menikmati angin segar dari pada harus melihat wajah Fransis dan Sui yang menakutkan.
Antonio melirik sekeliling ruangan UKS, lalu mengembuskan napas pendek. "Pak, kenapa tidak langsung ke lapangan saja? Kita bisa cek persiapan lomba. Di sini sepi, membosankan."
Maulana merasakan ketegangan kecil di tubuhnya. Ia tahu Antonio cukup cerdas untuk mencium keanehan, tetapi alasan anak itu juga terdengar lebih seperti keinginan pribadi daripada kebutuhan mendesak.
"Saat ini belum banyak orang di lapangan, kan?" Maulana bertanya, berusaha menyelipkan sedikit jeda dalam percakapan agar punya waktu lebih untuk menenangkan napasnya.
Antonio mengangkat bahu. "Ada beberapa murid yang sudah datang, mungkin beberapa guru dari sekolah lain juga. Tapi setidaknya lebih ramai daripada UKS yang sunyi ini." Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang seolah ingin memastikan Maulana tidak punya alasan untuk menolak.
Maulana melirik ponselnya sekilas, seolah menimbang sesuatu. Ia bisa saja menolak dengan alasan sederhana, tetapi itu justru akan menimbulkan kecurigaan. Dengan diam-diam menarik napas dalam, ia menggenggam sisi ranjang, bersiap untuk bergerak.
"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya tetap stabil meski tubuhnya belum sepenuhnya siap. "Kalau memang harus ke lapangan, ayo."
Antonio tersenyum puas, lalu tanpa banyak basa-basi, mengambil posisi di samping Maulana, bersiap membantunya berdiri.
Maulana mempertahankan ekspresi tenangnya, tapi dalam hatinya, Ia tahu tantangan sebenarnya baru saja dimulai.
Begitu berdiri dari ranjang UKS, Maulana merasakan tarikan tajam di perutnya, gelombang nyeri yang seolah mengingatkan bahwa tubuhnya belum siap untuk bergerak bebas. Namun, di hadapan Antonio, ia menutupinya dengan menarik napas panjang, memastikan ekspresinya tetap netral.
Langkah pertama terasa berat, tetapi pria itu mengendalikan gerakannya dengan hati-hati. Tidak terlalu lambat hingga terlihat mencurigakan, tetapi juga tidak terlalu cepat yang bisa memicu rasa sakit lebih parah.
Antonio berjalan di sampingnya, tampak santai, seolah tidak menyadari bahwa setiap langkah Maulana adalah perjuangan tersendiri.
Saat tiba di tangga menuju lantai bawah, Maulana menyesuaikan ritmenya. Ia meraih pegangan tangga, membiarkan jemarinya mencengkeram sedikit lebih erat dari biasanya untuk menjaga keseimbangan.
Setiap langkah turun terasa seperti menguji batas tubuhnya, denyutan di perutnya semakin terasa dengan setiap hentakan kaki. Ia mengatur napas, menjaga gerakannya agar tetap wajar. Sesekali, Antonio berbicara tentang persiapan lomba, membuat Maulana memiliki alasan untuk tetap terlihat fokus pada percakapan daripada pada rasa sakitnya.
Begitu sampai di lantai bawah, langkahnya sedikit lebih stabil, tetapi masih terasa berat. Koridor menuju parkiran terlihat lebih panjang dari biasanya, namun Ia mempertahankan kecepatan yang tidak menimbulkan kecurigaan. Matanya sempat melirik ke arah Antonio, memastikan anak itu belum menyadari betapa besar usaha yang ia keluarkan hanya untuk berjalan sejauh ini.
Saat akhirnya mereka tiba di area parkiran, Maulana menarik napas pelan-seakan meyakinkan dirinya bahwa Ia telah berhasil sampai tanpa menampilkan kelemahannya terlalu jelas.
"Mau saya bantu ambilkan motor, Pak?" Antonio menawarkan bantuan, Ia merasa kalau Maulana tidak baik-baik saja, hanya pura-pura baik.
"Tidak perlu, Bapak tidak selemah itu."Namun, Maulana hanya mengangkat dagu sedikit, ekspresinya tetap kokoh meski pelipisnya mulai berkeringat tipis. Dirinya tidak ingin terlihat lemah. Tidak di hadapan Antonio.
Kata-katanya tajam, hampir terlalu cepat diucapkan, seolah-olah jika ia memberi jeda terlalu lama, suara itu akan berubah, mungkin bergetar karena rasa sakit yang diam-diam mendera perutnya. Satu tangannya masih bertumpu di tangki motor, seakan mencari keseimbangan tanpa benar-benar memperlihatkan kelemahannya.
Antonio tidak langsung membalas. Matanya bergerak pelan, membaca gestur kecil pundak yang sedikit lebih tegang, rahang yang mengeras, dan sesekali tarikan napas yang lebih dalam dari biasanya. Tapi ia tahu Maulana. Pria itu tidak suka diperlakukan seperti seseorang yang sedang kesulitan, apalagi jika ia masih bisa berdiri tegak meski harus menahan rasa sakit.
Hanya dalam sekejap, Antonio mengangguk pelan, memilih untuk tidak menantang ucapan Maulana, tapi tetap mengawasi.
"Sebenarnya Pak Ivan ini habis apa si? Kok kelihatan lemah sekali?" Antonio berkata dalam hati.
"Pak, bagaimana kalau saya bonceng Bapak saja?"
"Tidak." Lagi-lagi Maulana menolak, Antonio mengangguk, ia pun memutar tubuh berjalan ke arah motor miliknya.
Sementara itu, Maulana mengarahkan tubuhnya ke motor sport, tangan kanannya meraih stang motor sambil berusaha menyembunyikan rasa sakit di perutnya. Ia mengangkat kaki kanannya untuk naik ke atas motor, gerakan yang sederhana namun terasa berat karena tekanan pada perutnya. Saat duduk di atas motor, ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan diri sebelum menghidupkan mesin. Wajahnya terlihat tegang, tapi berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahan. Dengan perlahan, memasukkan kunci ke dalam kontak dan menghidupkan mesin, suara motor yang keras memenuhi udara sekitar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
